Tak Kapok “Dihajar” Buzzer, Rizal Ramli Tetap Beri Ide dan Semangat Buat Pemerintah

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, EDITORIAL: Meski kerap “dihajar” (dicaci dan bahkan dihina) oleh ribuan buzzer dan influencer, namun Dr Rizal Ramli, sang senior dan pakar ekonomi itu tetap saja memberikan kritik pencerahan dan juga “ilmu” untuk bangkit menjadi bangsa yang maju.

Pekan lalu, Rizal Ramli bahkan “diserang” sekitar 7 Ribu buzzer yang diduga kuat digerakkan oleh pihak tertentu.

“Penyerangan” dengan menggunakan kosa kata yang kasar dan norak dari buzzer-buzzer tersebut, tentu saja dimaksudkan untuk menghalau kritikan-kritikan yang aktif dilakukan oleh Rizal Ramli melalui media sosial.

Sayangnya, upaya para buzzer tersebut tidak mampu menghentikan apalagi “menaklukkan” sosok pejuang tulen ekonomi kerakyatan itu.

Terlebih dalam situasi pandemi virus Corona yang “mencekam” dan memukul perekonomian seperti saat ini, Rizal Ramli tetap muncul secara aktif sebagai sosok anak bangsa, dengan memberikan ide maupun semangat kepada pemerintah demi kepentingan bersama.

Memang, Rizal Ramli sejak dulu sosok yang dikenal tak pernah diam jika melihat dan mengetahui sesuatu yang “ganjil”, baik di dalam maupun saat di dalam pemerintahan.

Terlebih dengan situasi dan dampak pandemik virus corona yang telah memukul perekonomian Indonesia, tentunya Rizal Ramli akan semakin gencar melakukan kritikan konstruktif yang diikuti dengan saran sebagai alternatif solusinya.

Semua orang kini pasti masih sangat cemas dengan Covid19 yang begitu cepat mewabah ke mana-mana, dan tentunya kecemasan itu akan “memunculkan” pengaruh bagi kondisi ekonomi Indonesia.

Imbauan physical distancing, belajar maupun bekerja dan juga beribadah di rumah, hingga pelarangan berkerumun, sudah pasti membuat roda ekonomi nyaris mengalami stagnasi.

Center Of Reform on Economics (CORE) dalam laporannya tentang kondisi ekonomi di kala pandemi Covid19, membenarkan bahwa roda perputaran ekonomi saat ini sangat melambat.

Hal itu disebabkan oleh respons pemerintah dan masyarakat yang melakukan upaya pencegahan Covid19, dengan penutupan sekolah, work from home khususnya pekerja sektor formal, pembatalan berbagai event-event pemerintah dan swasta.

Konsumsi swasta sebagai penopang hampir 60% perekonomian nasional, dipastikan mengalami penurunan. Penjualan retail di pasar tradisional maupun di pasar modern juga dipastikan mengalami kontraksi. Bahkan sebelum Corona “menyerang” Indonesia, data Indeks Penjualan Riil yang dikeluarkan Bank Indonesia sebetulnya sudah menunjukkan kondisi yang “tidak segar”, yakni 0,3% pada Januari 2020.

Di sektor pariwisata juga mengalami kelesuan yang signifikan. Dari data BPS menunjukkan, perjalanan wisata mancanegara memperlihatkan penurunan 7,62& pada Januari 2020 dibandingkan Desember 2019. Sementara wisatawan nusantara juga mengalami penurunan 3,1% pada periode yang sama. Dan situasi penurunan ini dipastikan akan terus terjadi pada April serta pada bulan-bulan berikutnya.

Belum lagi masalah utang Indonesia yang makin membengkak dan melilit “leher” anak negeri saat ini, yakni sebesar Rp.4.948,18 Triliun per Februari 2020.

Tak cuma itu itu, ancaman Covid19 yang makin melebar dan menajam, membuat minat investor untuk berinvenstasi juga dipastikan akan buyar. Sementara Impor barang modal yang menjadi salah satu leading indicators Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) pada Januari dan Februari sudah mengalami 10,6% (Year Over Year/yoy).

Belum lagi masalah Rupiah yang terus melemah. Saat ini, Rupiah bahkan menjadi mata uang yang terdepresiasi paling dalam di antara mata uang negara-negara di Asean.

Hantaman virus Corona, sungguh melemahkan pertumbuhan ekonomi, dan sangat berpotensi memicu naiknya angka pengangguran dan juga kemiskinan.

menurut data pada Maret 2019, penduduk golongan rentan miskin dan hampir miskin di Indonesia mencapai 66,7 Juta orang, atau hampir 3 kali lipat jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan (golongan miskin dan sangat miskin).

Dan dari golongan ini sebagian besar bekerja di sektor informal, termasuk yang bergantung pada sistem upah harian.

Olehnya itu, jika penanganan Covid19 ini berlangsung lama, maka periode pembatasan dan penurunan mobilitas orang akan semakin panjang. Akibatnya, golongan rentan miskin dan hampir miskin yang bekerja di sektor informal (yang bergantung pada upah harian) akan sangat mudah kehilangan pekerjaan, sehingga jatuh ke bawah garis kemiskinan.

Sebab, satu-satunya yang bisa menopang ekonomi saat ini hanyalah belanja pemerintah. Namun sayangnya, di saat bersamaan, tim ekonomi pemerintah belum dapat memunculkan terobosan sebagai upaya pemulihan kondisi ekonomi.

Itulah semua yang kerap “disuarakan” oleh para pemerhati dan sejumlah anak negeri di media sosial, termasuk adanya Rizal Ramli.

Meski begitu, Rizal Ramli yang juga pernah menjabat Menteri Keuangan itu, tetap memberi semangat kepada pemerintah.

Ia menyebutkan, wabah Covid19 ini boleh dijadikan peluang untuk kembali bangkit. Asalkan, tim ekonomi harus memiliki terobosan secara nyata yang mampu menggairahkan kembali perekonomian rakyat.

“Semua masalah pasti selalu ada jalan keluarnya, selama kita memiliki terobosan. Bahkan, masalah itu bisa menjadi peluang,” kata Rizal Ramli, Sabtu (11/04/2020).

Pernah memiliki jam terbang yang sangat tinggi sebagai Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Rizal Ramli pun berbagi pengalaman kesuksesan tim ekonomi yang pernah dipimpinnya pada era Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, terutama dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi,  dari posisi negatif menjadi positif.

Rizal Ramli memaparkan, bahwa strategi yang membuat sukses mempercepat pertumbuhan ekonomi dari minus 3 persen ke positif 4,9 persen yang dijalankan oleh Tim Ekonomi Gus Dur, yakni dengan cara restrukturisasi korporasi milik negara maupun unit usaha swasta.

Dengan cara tersebut, kata Rizal Ramli, utang pun dapat berkurang, dan mencapai indeks Gini Ratio terendah (0,31) sepanjang sejarah Indonesia.

Anggota Tim Panel Ekonomi di badan dunia (PBB) ini pun mengungkap sejumlah contoh sukses restrukturisasi korporat. Di antaranya, restrukturisasi Bulog, PT. Dirgantara Indonesia (PT.DI), PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN), pemisahan manajemen PT.Telkom dan PT.Indosat, dan penanganan Bank Internasional Indonesia (BII), serta adanya kebijakan di sektor properti, Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Usaha Tani.

Kebijakan di sektor properti misalnya, sektor ini memiliki banyak entitas bisnis yang terkait seperti: semen, besi baja, keramik, genteng, furnitur, kayu, cat, alat kelistrikan, dan sebagainya) dan menyerap sangat banyak tenaga kerja.

Karena itu, lanjut Rizal Ramli, demi membangkitkan kembali sektor properti yang terpuruk pasca krisis, pada April 2001, tim ekonomi Gus Dur pun meluncurkan kebijakan restrukturisasi utang bagi para pengembang properti. Dan pemberian kemudahan itu lebih diutamakan kepada para pengembang Rumah Sangat Sederhana (RSH).

Rizal Ramli menguraikan, bahwa akibat kebijakan ini, nilai kapitalisasi bisnis sektor properti mengalami kenaikan, yakni dari Rp.9,88 Triliun (2001) menjadi Rp.12,99 Triliun (2002), kemudian Rp.26,95 Triliun (2003). Dan inilah menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di era pasca Gus Dur.

Rizal Ramli menjelaskan, khusus di sektor UKM pada era Gus Dur, jumlah UKM yang terbelit kredit macet di perbankan mencapai 14 ribu unit usaha. Tim ekonomi pada tahun 2000 meluncurkan kebijakan memotong utang pokok UKM dan bunganya sebesar 50%, asalkan dibayar dengan tunai.

Sungguh, kata Rizal Ramli, kebijakan restrukturisasi utang UKM ini berkontribusi menambah keuntungan Bank Mandiri sebesar Rp.1 Triliun pada 2001.

Sementara itu, dengan banyak persoalan ekonomi yang sudah menumpuk dan sangat sulit diselesaikan oleh pemerintah, membuat Adamsyah Wahab dari jaringan aktivis Pro Demokrasi (ProDem), ikut bersuara.

Adamsyah Wahab menegaskan, bahwa betapa Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin sekelas Rizal Ramli yang di pikiran dan di hatinya hanya dipenuhi dengan ide perbaikan kesejahtaraan ekonomi bangsa.

Menurut Adamsyah Wahab, Rizal Ramli bukan lagi kelas menko apalagi menteri biasa, melainkan sudah sangat layak memimpin negeri ini.

Adamsyah Wahab pun menumpahkan “jeritannya hatinya”.  “Bang Rizal Ramli, dengan segala hormat, saatnya abang pimpin Indonesia yang mandiri. Pimpin kami, Bang!” demikian Adamsyah menyatakan kejujuran di relung hatinya, Jumat (20/3/2020).

Bahkan tidak sedikit pihak pun mengaku sangat cemas dengan kondisi yang amat mencekam seperti saat ini, terlebih karena memang baru kali ini terjadi situasi yang “mengerikan” di dunia ini, yakni masalah pandemik Covid19.

Dan kecemasan inipun akan semakin menjadi-jadi, ketika diketahui bahwa pemerintah sejauh ini ternyata tak punya kemampuan dan terobosan yang pasti untuk dapat menyelamatkan warganya, baik dari serangan Covid19 maupun dari ancaman anjloknya ekonomi bangsa.

Olehnya itu, pemerintah diharapkan jangan alergi dengan kritikan, dan pula jangan sekali-kali menggunakan buzzer atau influencer hanya untuk membungkam suara rakyat, terlebih dalam kondisi saat ini, di mana psikologis masyarakat sedang mengalami gangguan dan kepanikan yang luar biasa.

Dan menurut banyak kalangan, untuk direnungi, bahwa salah satu hikmah dari masalah virus Corona yang telah mewabah secara mengglobal ini, adalah diperuntukkan sebagai introspeksi buat seluruh penduduk di bumi ini, bahwa akibat kekeliruan memilih pemimpin yang tak punya integritas tinggi, membuat keadaan sulit yang ada dipastikan akan menjadi semakin sulit. (red/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: