HARI INI :

PARTNER PEMERINTAH, KAWAN RAKYAT

Menuju Pilkada Kabgor 2020: Potensi “Duel” Risjon Vs Nelson Lebih Mencuat

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, TAJUK-RENCANA: Suhu atmosfer politik jelang Pilkada di Kabupaten Gorontalo (Kabgor) sudah mulai memanas, namun belum menyengat ke pori-pori persaingan frontal. Sebab sampai saat ini, sembilan Partai Politik (Parpol) yang “menghuni” DPRD Kabupaten Gorontalo masih saling “mengintai” pergerakan.

Dan sejauh ini pula, dari kesembilan Parpol tersebut, baru PPP yang dikabarkan telah memiliki calon tunggal. Karena tanpa koalisi pun, PPP dengan 7 kursi sudah dapat memajukan calonnya sendiri. Yakni, Nelson Pomalingo, sang petahana itu.

Sementara delapan lainnya masih menunggu hasil mekanisme partai yang saat ini masih sedang berproses untuk menentukan figur yang akan diusung sebagai calon Bupati Gorontalo.

Lalu, siapa-siapa saja figur atau sosok yang sementara ini “digodok” dalam mekanisme dari delapan Parpol tersebut?

Dari investigasi dan kajian DM1 di lapangan pada tiga bulan terakhir ini memunculkan sejumlah hasil. Bahwa, masyarakat Kabupaten Gorontalo saat ini mengetahui terdapat 7 nama yang disebut-sebut akan maju memperebutkan posisi “DM 1 B” pada Pilkada Kabupaten Gorontalo 2020.

Ketujuh nama tersebut adalah Risjon Sunge, Rahmijati Jahja, Sofyan Puhi, Rustam Akili, Hendra Hemeto, dan Warsito Somawiyono.

Namun dari penelusuran DM1 di lapangan menunjukkan, bahwa dari ketujuh nama tersebut, hanya terdapat tiga nama yang lebih banyak disebut-sebut sebagai figur yang dinilai memiliki elektabilitas tinggi. Yakni, Risjon Sunge, Rahmijati Jahja, dan Sofyan Puhi.

Selanjutnya, dari hasil penggalian informasi yang lebih mendalam di lapangan, DM1 menemukan satu nama yang lebih banyak disebut-sebut sebagai sosok yang paling siap lahir-batin untuk melangkah sebagai calon Bupati Gorontalo 2020-2025, yakni Risjon Sunge.

Tidak sedikit suara-suara aspirasi dari lapisan akar rumput yang menghendaki agar Risjon Sunge yang memang sebaiknya dimajukan secara head to head dengan incumbent (petahana).

Bahkan tak sedikit juga yang berasumsi, bahwa Risjon Sunge adalah satu-satunya sosok paling energik yang mewakili kaum milenial. Sebab selama ini, menurut sejumlah masyarakat, Kabupaten Gorontalo belum pernah dipimpin oleh sosok dari kaum muda yang memiliki kecakapan, kompetensi dan integritas seperti Risjon Sunge.

Bahkan sebagian besar masyarakat lainnya mengaku yakin, bahwa kehadiran Risjon Sunge yang “berani” maju sebagai calon Bupati Gorontalo di saat masih merekat identitasnya sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara), itu tidak terlepas adanya “restu” dari Gubernur Gorontalo yang juga sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Gorontalo, Rusli Habibie.

Menurut banyak pihak, “restu” itu tidak muncul secara tiba-tiba. Melainkan memang sejak awal sangatlah jelas terlihat, bahwa kinerja Rusli Habibie sebagai Gubernur Gorontalo hingga periode kedua ini dapat “mendaki” dengan baik, itu salah satunya adalah berkat kepiawaian Risjon Sunge yang kini dipercaya sebagai Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Gorontalo.

Nama Rahmijati dan Sofyan Puhi diakui juga memang cukup mendapat respons positif dari banyak kalangan. Namun menurut sebagian kalangan, Rahmijati dan Sofyan Puhi sebaiknya menghabiskan tugas masa baktinya secara fokus sebagai wakil rakyat dan daerah.

Sementara langkah maju Hendra Hemeto sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Gorontalo saat ini diketahui mendapat “rintangan” dari seorang yang juga sebagai kader Golkar, yakni Warsito Somawiyono yang juga berupaya untuk lolos dalam mekanisme Golkar.

Menurut banyak kalangan, apabila “pertarungan” internal Golkar untuk mendapatkan tiket sebagai calon Bupati Gorontalo ini dimenangkan oleh salah satu kader Golkar tersebut, maka bisa dipastikan dalam tubuh Golkar dalam konteks Pilkada ini justru mengalami perpecahan.

Dan pendapat yang bergulir tentang adanya rencana Golkar untuk hanya berposisi sebagai calon Wakil Bupati Gorontalo (Cawabup) mendampingi Nelson Pomalingo (PPP), menurut sebagian besar pengamat, justru kemungkinan itu sangat kecil bisa terjadi.

Sebab, meski di DPRD Kabupaten Gorontalo Golkar hanya memiliki 6 kursi (kekurangan 1 kursi), namun jika hanya memajukan figurnya sebagai Cawabup, maka “harga diri” Golkar sebagai partai “senior” akan jatuh terjun bebas.

Sementara partai lainnya, seperti PAN (4 kursi), Demokrat (4 kursi), PDIP (4 kursi), PKS (3 kursi), Hanura (2 kursi) dan Gerindra (1 kursi), sejauh ini kelihatan masih “open-self” sembari membaca situasi dan arah “mata angin”. Artinya, partai-partai ini juga belum menentukan sikap, dan kelihatan para partai ini tidak terlalu menggebu-gebu untuk menentukan calon sendiri. Bahkan, nampak cenderung lebih memilih menunggu untuk “diajak” sebagai partai pendukung.

Khusus di kubu Partai Nasdem (dengan 4 kursi) yang hingga saat ini juga masih belum bisa memastikan sosok yang akan dimajukan dalam Pilkada Kabupaten Gorontalo, dinilai sangat sulit untuk membangun koalisi lantaran sampai saat ini pula masih sedang berlangsung “tarik-menarik” dalam menentukan siapa figur yang akan dimajukan.

Menurut pengamatan sejumlah elit politik di daerah ini, apabila Nasdem sampai pada tahapan pendaftaran calon (16-18 Juni 2020) belum juga berhasil memajukan calonnya melalui koalisi, maka bisa dipastikan Nasdem akan “ketinggalan kereta”.

Olehnya itu, andai saja Nasdem mengalami situasi stagnan dalam memunculkan calon akibat tidak berhasilnya membangun koalisi, maka sejumlah pihak menyarankan akan lebih baik memilih opsi sebagai partai pendukung calon yang berhasil muncul bertarung secara head to head.

Artinya, apabila pertarungan dalam Pilkada Kabupaten Gorontalo ini memang hanya memunculkan dua pasang calon (head to head), maka menurut seorang elit Partai Nasdem, tentunya Nasdem akan lebih memilih untuk mendukung rival sang petahana. Dan rival terberat petahana saat ini adalah bernama Risjon Sunge.

Dari hasil peneropongan langsung DM1 di lapangan memang juga menunjukkan, bahwa Risjon Sunge dan Nelson Pomalingo adalah dua nama yang sangat ramai diperbincangkan. Dan perbincangan ini mengerucut kepada potensi terjadinya “duel” (head to head) dua nama yang berakhiran huruf “ON“, yakni RisjON versus NelsON.

Pendapat dan komentar masyarakat dari berbagai sudut di daerah ini mengungkapkan sejumlah hal yang menarik. Di antaranya, bahwa petahana dalam berbagai survei memang masih di posisi atas, namun survei tersebut diferensial antara popularitas dengan elektabilitas.

Secara popularitas, menurut sejumlah kalangan, sang petahana memang mendapatkan nilai di atas dan cenderung konstan. Namun secara elektabilitas, Risjon Sunge terus mengejar sang petahana. Sebab nilai elektabilitas ini berfluktuasi sesuai kondisi yang sedang berlaku. Dan boleh jadi, elektabilitas Nelson Pomalingo saat ini cenderung menukik turun dengan adanya sejumlah perbincangan hangat.

Perbincangan hangat yang dimaksud, di antaranya adalah terkait lembaga adat atau peran tokoh adat yang tak lagi dilibatkan untuk memberi pertimbangan atau saran dalam proses pengangkatan camat; munculnya seorang kontraktor yang menagih haknya yang mengaku belum terbayar; juga dengan masalah rencana pinjaman daerah terhadap shopping center; dan juga masalah rumah sakit Boliyohuto; pun tari mopobibi yang dinilai dapat menggerus tatanan budaya dan adat di daerah ini; serta sejumlah masalah lainnya seperti janji-janji kampanye silam yang hingga kini belum terealisasi dengan baik.

Olehnya itu, elektabilitas Nelson Pomalingo sebagai petahana belum dapat dipastikan mengalami kenaikan hingga hari puncak Pilkada, 23 September 2020 mendatang. Namun tentu saja, dengan waktu yang masih tersedia, Nelson belum terlambat untuk berusaha mengangkat elektabiliasnya. Salah satu caranya adalah tidak “alergi” dan panik dengan kritikan. Dan jangan menutup diri, rangkul semua pihak, –bukan hanya kawan, jika perlu lawan pun perlu diajak berkomunikasi. Sebab, mempertahankan sesuatu yang telah diraih itu jauh lebih sulit daripada meraihnya di saat awal. Terlebih mempertahankan sesuatu dalam pertarungan secara head to head, sudah pasti tingkat kesulitannya sangat tinggi dibanding bertarung lebih dari dua pasangan calon.

Dan terkait potensi head to head yang akan terjadi antara Risjon Vs Nelson dalam Pilkada Kabupaten Gorontalo ini, tentulah bisa dipastikan akan berlangsung lebih sengit. Karena arus perolehan suara hanya mengalir kepada kedua calon yang bertarung tersebut.

Dan potensi terjadinya duel (head to head) ini sesungguhnya sangat dinanti-nantikan oleh banyak kalangan, sepanjang calon yang akan menjadi lawan dari petahana itu adalah berasal “figur baru” yang dimajukan. Artinya bukan figur 4 L (Loe Lagi.. Loe Lagi). Dan jika calon yang  dimunculkan oleh partai adalah figur 4 L, maka hanya akan membuat masyarakat jadi lesu untuk memilih.

Olehnya itu, sebagian besar masyarakat tentu sangat mengharapkan adanya “figur baru” yang sekaligus diharapkan bisa dilahirkan sebagai pemimpin baru di daerah ini. Yaitu, pemimpin yang diyakini bisa melakukan perubahan yang lebih baik, terutama pemimpin yang mampu memenuhi dan mewujudkan rasa keadilan sosial bagi seluruh masyarakat di daerah ini. (*)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
  • 12856