Pasar Rakyat Koltim Terbengkalai: “Sepi Khasiat, Ramai Maksiat”

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, KOLAKA TIMUR: Penampakan Pasar Rakyat Kolaka Timur (Koltim) saat ini sungguh sangat-sangat memprihatinkan. Fungsinya sebagai pusat pergerakan transaksi ekonomi antara penjual dan pembeli, boleh dikata sudah “lumpuh” karena tak lagi terurus, alias terbengkalai.

Pasar rakyat yang terletak di Desa Poni-poniki, Kecamatan Tirawuta, Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara ini, hanya dimanfaatkan oleh penjual yang jumlahnya masih dapat dihitung jari tangan.

Dibangun pada 2015 dengan menggunakan anggaran “patungan” sekitar Rp.10 Miliar yang bersumber dari APBD Koltim dan APBN itu, dikerjakan dalam tiga tahap, yang salah satunya dimaksudkan untuk memindahkan para pedagang pasar tradisional Kelurahan Rate-rate.

Sayangnya, pasar rakyat yang dibangun hingga tuntas atas inisiatif Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Koltim itu, justru mendapat penolakan keras dan terang-terangan dari sebagian besar pedagang, hingga sempat terjadi pertikaian.

Makanya, tak mengherankan apabila saat ini kondisi pasar rakyat itu menjadi sepi, dan bahkan hanya terlihat bagai “istana hantu” yang enggan dihuni oleh manusia.

Ketika wartawan DM1 menyambangi lokasi, sangat tampak potret kumuh dan semrawut di pasar rakyat ini. Selain rerumputan yang tumbuh secara leluasa, juga terlihat dari depan gerbang pintu masuk pasar sangat banyak rimbunan semak belukar yang menjalar dan menempel di sejumlah tiang dan dinding.  

Di lantai dasar bangunan, terlihat tidak sedikit tegel yang telah rusak dan pecah-pecah, dan seluruh bilik serta ruangan benar-benar sangat tampak jorok, pertanda tidak pernah lagi dibersihkan. Pintu-pintu los juga banyak yang telah bergeser dari posisinya. Sejumlah jendela kaca juga sudah pecah-pecah.

Hal yang sama juga terjadi di lantai dua pasar ini, yang sangat terlihat kumuh. Anak-anak tangga tampak dipenuhi debu. Bahkan ruangan kepala pasar dan stafnya juga kelihatan sesak dengan tumpukan kardus dan karung bekas yang menyerupai sampah.

“(Pasar itu) Tidak pernah dibersihkan. Apalagi yang membersihkan orangnya (petugas kebersihan) sudah tua. Hanya datang memungut iuran paling cuma dapat 10 Ribu saja. Bagaimana mau dibeli racun rumput?” sebut Baharuddin, salah seorang warga di sekitar pasar tersebut.

Menurutnya, pasar kabupaten itu terlihat ramai hanya pada saat acara peresmiannya. Sebab, waktu itu dihadiri Bupati yang memboyong seluruh SKPD di lingkungan Pemkab Koltim.

“Pak Bupati sempat beli nasi kuning. Habis makan nasi kuning, langsung pulang. Setelah itu, pasar tidak pernah lagi ramai (sepi),” ungkap Baharuddin, Rabu (21/10/2020).

Baharuddin yang ditemui di rumahnya itu menyebutkan, sejak selesai dibangun dan dinyatakan resmi digunakan, pasar itu hingga kini benar-benar sangat sepi. “Los (dan petak-petak jualan) yang dibuat, tidak pernah digunakan,” tutur Baharuddin.

Ia menyebutkan, pedagang yang berjualan di pasar rakyat Koltim itu berjumlah tidak lebih 10 orang saja. Terdiri dari pedagang ikan, beras, sandal jepit, serta penjual sayur-mayur.

Itu pun, lanjut Baharuddin, para pedagang yang berada di pasar rakyat itu hanya mampu bertahan berjualan paling lama dua jam. Yakni, dari  pukul 06.00 hingga pukul 08.00 WITA.

Dan menurut Baharuddin, sangat kelihatan pasar dusun lebih ramai dibanding pasar rakyat yang pembelinya berasal hanya dari warga sekitar, itu pun tak seberapa.

Baharuddin mengungkapkan, masyarakat saat ini memandang bahwa pasar rakyat itu merupakan bangunan mubazir karena tidak berhasil difungsikan sebagaimana mestinya. Negara dan daerah benar-benar dianggap gegabah dan tidak cermat merencanakan serta membangun pasar sebesar itu, yang akhirnya hanya merugikan anggaran negara yang tak sedikit.

Masyarakat Koltim sebagian besar kini tentu justru hanya akan merasa resah dan prihatin terhadap kondisi pasar rakyat yang tidak mendatangkan khasiat (kegunaan dan manfaat besar) sebagaimana mestinya.

Bangunan pasar rakyat itu bahkan boleh dikata kini lebih mendatangkan kemudaratan (kerugian) yang sangat besar. Bukan hanya kerugian uang negara, tetapi juga sangat berpotensi menimbulkan kerusakan pada diri generasi muda.

Sebab pada malam hari, pasar rakyat ini justru lebih ramai dikunjungi oleh banyak muda-mudi sebagai tempat paling aman untuk nongkrong dengan “bebas” tanpa adanya pengawasan ataupun penjagaan.

Sehingga diduga kuat, para muda-mudi itu bisa leluasa melakukan perbuatan maksiat, seperti berhubungan badan di luar nikah, dan juga mengonsumsi minuman keras (Miras).

Baharuddin yang tampak telah berusia lanjut ini membeberkan, bahwa para muda-mudi itu biasanya masuk ke pasar rakyat itu jelang tengah malam, atau sekitar pukul 00.00 dini-hari, dengan menggunakan kendaraan roda dua masing-masing.

Meski begitu, Burhanuddin mengaku lebih memilih diam dan menahan niatnya untuk melakukan teguran kepada para muda-mudi itu.

“Wallahu a’lam, saya tidak tau apakah mereka berhubungan badan atau tidak. Saya tidak pernah urus, itu urusan mereka. Pemerintah saja tidak pusing, apalagi kita hanya masyarakat biasa,” tandas Burhanuddin dengan nada kesal. (rul/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: