Ini Sekilas Novel “Janda Corona Menggugah”: Berminat?

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, GORONTALO: Novel “Janda Corona Menggugah” ini ditulis oleh Pemimpin Redaksi DM1 (dm1.co.id), Abdul Muis Syam. Dan secara fisik, novel ini telah dicetak dan diterbitkan oleh Nasmedia Pustaka dalam bentuk buku, pada medio Agustus 2020.

Novel Jacme (Janda Corona Menggugah) ini telah terdaftar pada Katalog Dalam Terbitan (KDT) di Perpustakaan Nasional, dengan International Standart Book Number (ISBN): 978-623-7644-81-1.

Untuk mengecek ISBN, dapat dikunjungi website Perpustakaan Nasional, dengan meng-klik  link berikut: isbn.perpusnas.go.id.

Adapun spesifikasi novel Jacme dalam bentuk fisik buku adalah:

  1. Ukuran buku= 140 mm x 195 mm;

  2. Jumlah halaman= 1 sampai 240 halaman; dan angka Romawi (i) sampai (x) halaman (total 250 halaman);

  3. Jenis kertas isi dalam= Bookpaper 70 gram;

  4. Kertas sampul= Art-Paper 210 gram, dengan huruf judul yang timbul dengan Spot UV emboss;

  5. Materi isi terdiri dari Prolog, 20 Chapter, Epilog, dan Profil Penulis.

Motivasi dan Alasan Penulis
Menyusun Novel “Jacme”

Muatan materi Novel Jacme ini sangat sarat dengan pesan-pesan moral dan ajakan kepada masyakarat, terutama pemerintah, agar tidak lagi membiarkan penebangan hutan secara liar: “Stop Illegal-Logging!”

Sebab, penduduk dunia saat ini tiba-tiba menjadi sangat “kerepotan” dan kalut, karena “dihajar” oleh banyak penyakit seperti malaria, demam berdarah, pneumonia, muntaber, bahkan Covid19 dan lain sejenisnya, serta bencana banjir, adalah kesemuanya lantaran hutan sebagai jantung sekaligus paru-paru dunia masih sangat leluasa ditebang secara liar.

Sebagai contoh ilustrasi, bahwa nyamuk-nyamuk, segerombolan tikus, dan berbagai jenis binatang melata lainnya dapat dipastikan akan “bermigrasi” ke  permukiman penduduk apabila hutan sebagai “rumah” mereka telah diobrak-abrik melalui kegiatan deforestasi secara ilegal.

Akibatnya, manusia-manusia yang hidup di dalam permukiman itu akan menderita banyak penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk-nyamuk, juga kawanan tikus dan binatang-binatang melata lainnya tersebut. Di saat terserang penyakit, tentunya kondisi imun manusia jadi melemah, sehingga sangat-sangat berpotensi terserang Virus Corona (Covid19).

“Sekarang kita semua lagi kacau, galau, kelabakan dan bahkan diselimuti ketakutan serta kecemasan yang luar biasa menghadapi serangan Covid19,” ujar Abdul Muis Syam.

Dan di saat kekacauan melanda akibat Pandemik Covid19 ini, menurut Muis, tak banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintah selain hanya melakukan sosialisasi, imbauan maupun ajakan untuk menerapkan protokol kesehatan, seperti jaga jarak, memakai masker, dan cuci tangan setiap saat. Yang secara bersamaan memberikan bantuan Jaring Pengaman Sosial kepada masyarakat di saat PSBB.

“Kesibukan dan kekalutan pemerintah saat ini tampaknya adalah karena banyak mengabaikan prinsip: ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’. Akibatnya, seperti yang kita alami saat ini, pemerintah sangat sibuk melakukan sosialiasi dan ajakan untuk pakai masker, cuci tangan, dan jangan berkerumun,” tutur Muis.

Mengetahui kondisi yang sangat kacau itu, Muis pun mengaku kemudian terpanggil untuk ikut menyumbangkan pemikiran, khususnya dalam upaya membantu memberikan kesadaran kepada semua pihak, agar mulai sekarang segera secara maksimal menjaga lingkungan hidup, terutama tidak melakukan pembiaran terjadinya illegal-logging secara ugal-ugalan.

”Kita saat ini sudah sangat sulit terhindar dari bencana banjir, yang seiring dengan itu juga sangat rentan terserang berbagai jenis penyakit. Dan semua itu terjadi adalah akibat semakin rusaknya hutan yang terus berlangsung dengan sangat parah hingga saat ini,” tandas Muis.

Menurut Muis, pemerintah pusat saat ini menggelontorkan anggaran nyaris Rp.800 Triliun, dan Pemerintah Provinsi Gorontalo di sekitar Rp.200 Miliar hanya untuk penanganan Covid19, yang di dalamnya termasuk membiayai kegiatan sosialisasi, imbauan dan ajakan memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak. “Kalau saya tidak cukup 15 Juta, dengan melakukan hal dan tujuan serupa tetapi dengan cara yang berbeda, yakni menulis sebuah novel yang di dalamnya penuh dengan imbauan untuk mencegah terjadinya bencana banjir, serta ajakan untuk menghindari berbagai penyakit (termasuk Covid19) dengan cara jaga kelestarian hutan!”

Muis kemudian membacakan sinopsis Novel Jacme yang telah ditulisnya itu, yakni:

“Jesia Amsyani adalah seorang dokter yang bertugas di rumah sakit. Suaminya bernama Syarif Sabrino merupakan seorang manager hotel, yang sejak remaja telah mengidap penyakit. Syarif kemudian meninggal dunia setelah dua kali dirawat di rumah sakit tempat Jesia bertugas, dengan hasil diagnosis sakit pneumonia, yang kemudian divonis terpapar positif Covid-19.

Setelah menjadi janda, Jesia memutuskan untuk pindah tugas di sebuah Puskesmas yang terletak di desa yang sangat terpencil. Di desa itu, Jesia justru menemui kehidupan yang sangat berat. Tidak sedikit warga di desa itu mengalami sakit akibat kerusakan hutan yang dilakukan oleh para penebang liar. Dan jika kegiatan illegal logging itu tidak dihentikan, maka bukan hanya warga desa tempat yang menjadi korban jatuh sakit malaria dan bahkan Covid-19, melainkan lingkungan hidup juga akan mengalami kerusakan fatal.

Menyadari hal tersebut, Jesia pun mencoba melakukan perlawanan terhadap para pelaku beserta yang terlibat dalam illegal logging, yang dapat berlangsung secara leluasa karena kepala desa setempat diam-diam ikut terlibat. Sehingga Jesia terpaksa berhadapan secara konflik pada pertarungan antara hidup atau mati demi menghentikan penebangan secara liar itu.

Meski begitu, Jesia pada akhirnya mampu menaklukkan para perambah hutan, sekaligus menghantarkannya ke lembaran hidup yang baru dengan suasana tenteram dan bahagia.”

Tak hanya itu, Muis juga memperlihatkan sekilas beberapa chapter Novel Jacme tersebut. Berikut kilasannya:

Setelah sekilas menunjukkan beberapa chapter tersebut, Muis pun mengajak publik atau para pembaca untuk dapat membaca lengkap Novel Jacme ini. Jika versi hardcopy-nya hanya dicetak limited edition dengan harga yang agak mahal, maka Muis saat ini mengaku menyediakan dalam versi softcopy (eBook).

“Harga softcopy-nya yang rencana semula akan dilempar dengan harga Rp.65 Ribu, kini cukup kami tawarkan dengan harga Rp.41.500,” ungkap Muis.

Cara memperoleh softcopy Novel Jacme ini, kata Muis, sangat sederhana. “Cukup sampaikan via percakapan di nomor WhatsApp (WA) 0821-9621-5555 untuk pemesanan. Softcopy dalam bentuk file PDF langsung kami kirimkan setelah pemesan memperlihatkan bukti transfer harga Softcopy Novel Jacme tersebut,” terang Muis.

Ia pun berharap, semoga Novel Jacme ini bisa memberikan manfaat dan energi positif bagi semua pihak, terutama dalam upaya menangani masalah Covid19 ini. (red/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: