Bupati Boalemo Dinilai “Tumpul” Adab dan Bikin Malu Adat

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, BOALEMO: Sikap Bupati Boalemo, Darwis Moridu, yang mempertontonkan amarah seolah “kerasukan setan” di hadapan publik saat menanti kunjungan kerja Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, Kamis (31/1/19), mendapat sorotan tajam dari banyak kalangan, baik dari tokoh masyarakat maupun dari sesepuh dan Pembina Adat di Kabupaten Boalemo.

Menurut tanggapan dari berbagai pihak, Darwis Moridu seharusnya bisa bersikap mencerminkan slogan daerah yang dipatoknya sendiri, yakni “Boalemo Damai Bertasbih”.

Sejumlah kalangan pun menilai, Darwis Moridu sepertinya telah memperlihatkan kegagalannya sekaligus ketidakmampuannya sebagai pemimpin.

Sebab, menurut sejumlah pihak, dengan mengumbar kemarahan dan berteriak-teriak di hadapan umum, itu salah satu bukti bahwa Darwis tidak cocok menjadi pemimpin daerah.

Menurut berbagai kalangan, Darwis seharusnya mampu menenangkan masyarakatnya dengan cara memperlihatkan kesabaran, apalagi ketika itu masyarakat Boalemo dalam suasana berduka atas musibah banjir.

Marah-marah dengan berteriak-teriak di hadapan umum, menurut banyak pihak, adalah bukan cara-cara cerdas dan bukan cara-cara elok, serta bukan cara-cara santun.

Tidak sedikit pihak dari berbagai kalang pun menilai, bahwa adab kepemimpinan Darwis Moridu sepertinya masih “tumpul” dan bikin malu.

“Dengan kejadian itu, kami ingin menyampaikan permohonan maaf terkait Bupati Darwis yang marah-marah. Sebagai masyarakat Boalemo kami mengucapkan permohonan maaf, karena kami juga (sebagai masyarakat) tetap merasa malu atas perlakuan Bupati Darwis kepada rombongan Gubernur Rusli,” ujar Nizam Dai di kediamannya di Desa Limbato, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Sabtu (2/2/2019).

Nizam Dai yang juga sebagai Pembina Adat Boalemo mengatakan, bupati itu adalah sosok khalifah yang harus jadi panutan oleh seluruh rakyatnya.

“Dengan mempertontonkan sikapnya (marah-marah) seperti itu di mata masyarakat, sungguh membuat saya menyesalkan kejadian tersebut. Sikap Bupati Darwis, tentunya memberi contoh buruk bagi masyarakat,” tutur Nizam.

Menurut Nizam Dai, Darwis selaku bupati seharusnya bisa memperlihatkan sikap yang bisa dijadikan panutan. Dan marah-marah besar di hadapan publik itu tidak pantas dijadikan panutan.

Nizam Dai yang juga pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Boalemo itu mengingatkan, bahwa Boalemo ini dibuka dan didirikan dengan adat, seharusnya seorang khalifah menunjukkan nilai-nilai adat dan adab yang menjunjung falsafah di Gorontalo, yakni “Adat bersendikan sara’ dan sara’ bersendikan Kitabullah”

Pahrun Yanis selaku tokoh masyarakat Boalemo menyebutkan, masalah keterlambatan Gubernur Gorontalo hadir dalam acara pembagian sumbangan beras itu sebetulnya persoalan kecil, tidak perlu kemudian seorang bupati menanggapi dengan sangat berlebihan, apalagi dengan cara berteriak-teriak di hadapan umum. Ini sangat memalukan.

Pahrun pun menantang Bupati Darwis untuk segera minta maaf, seperti yang telah dilakukan oleh Gubernur Rusli Habibie yang telah menyampaikan permohonan maaf di hadapan masyarakat Boalemo.

Jika Darwis Moridu tidak berani meminta maaf, kata Pahrun, maka boleh dikata Bupati Boalemo itu tidak paham dengan posisinya sebagai khalifah yang harus menjunjung tinggi adat dan adab.

Kalau tidak minta maaf, lanjut Pahrun, maka hal ini patut dijadikan evaluasi oleh Dewan Adat Boalemo. Sebab,  hal ini sudah sangat bertentangan dengan nilai-nilai adat dan adab di Boalemo.

Anggota MPR/DPD-RI perwakilan Gorontalo, A.D Khaly juga angkat bicara terkait hal tersebut.

“Sbg org Boalemo sy jadi maluuu..krna setibanya sy di ktr DPD dan mengikuti rapat, teman2 dari provinsi lain mempertanyakan tindakan bupati Boalemo yg jadi viral mempermalukan pemerintah dan rakyat Gorontalo. Tdk pantas  seorg ‘bupati’ teriak2 Kemasukan ‘Setan’ di hadapan rakyatnya mencela gubernur sebagai atasannya,” tulis A.D Khaly melalui salah satu grup di WA.

(Baca berita terkait: Bupati Darwis “Kerasukan Setan”, Gubernur Rusli: Jadi Pejabat Harus Jaga Mulut Jangan Provokasi Rakyat)

“Patato dila’o adabu Tumu-tumula to lipu lo’adati? (Baru tidak ada adab hidup di daerah adat? ). Hal yg sama pernah dia lakukan bersama anaknya  (Wahyu) terhadap saya menjelang akan berakhirnya kampanye Pilkada wkt lalu di hotel Borobudur di Jakarta, di hadapan para calon kepala daerah dari daerah2 lain di Indonesia. Sy menilai bhw ‘sifat manusiawi’ pd diri org ini terkikis oleh sifat kebendaan (merasa ‘KAYA HARTA’) tanpa disadarinya bhw harta itu adalah titipan Allah dan menjadi COBAAN bagi org yang ‘TIDAK BERIMAN’,” tulis AD.Khaly seraya menambahkan ajakan untuk mari bersama-sama melawan tindak  kezaliman di daerah yang kita cintai ini. (kab/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up