Bupati Darwis “Kerasukan Setan”, Gubernur Rusli: Jadi Pejabat Harus Jaga Mulut Jangan Provokasi Rakyat

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, BOALEMO: Bupati Boalemo, Darwis Moridu, tiba-tiba mempertontonkan emosi yang meluap-luap di hadapan publik, Kamis (31/1/2019), di acara pembagian bantuan beras bagi warga Boalemo korban terdampak banjir, di Desa Mohungo, Kecamatan Tilamuta.

Bupati Darwis yang hadir dalam acara tersebut tidak mampu menahan kesabaran lantaran Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, beserta rombongan dinilai sengaja mengulur-ulur waktu.

Bupati Darwis menilai Gubernur Rusli telah membuat warga Boalemo korban terdampak banjir itu menjadi susah dan tersiksa, karena sejak pagi hingga sore sudah menunggu kedatangan Gubernur Gorontalo beserta rombongan untuk menyerahkan bantuan beras sebanyak 5 ton.

Kedatangan Gubernur Rusli Habibie di lokasi acara jelang petang, langsung disambut emosi yang meledak-ledak dari Darwis Moridu sambil berteriak-teriak melalui pengeras suara.

“Jangan kasih bantuan begitu modelnya, hee…, kasihan rakyat. Saya sendiri sudah lama, sudah berasa lama di sini, apalagi rakyat sejak pagi, iya,” lontar Darwis.

Sambil bertolak pinggang dan menunjuk-nunjuk ke arah rombongan Gubernur Gorontalo, Darwis Moridu melontarkan kata “keluar!”

Namun tak berselang lama, disaksikan oleh warga Boalemo, Darwis kembali mendekati rombongan Gubernur Gorontalo dengan suara keras.

Di hadapan publik, seorang protokoler Setda Provinsi Gorontalo harus menjadi “korban” amarah Darwis.

“Heeii.. bupati menyerahkan itu boleh? Boleh ndak? Kita somo pulang kalau tidak bisa. Heeii… siksa rakyat! Kamu datang ke sini mau bantu rakyat atau menyiksa rakyat! Hee… kalau bisa saya serahkan, boleh, kalau tidak bisa kita so langsung pulang. Bisa, ndak? Tidak bisa? Jangan… jangan… jangan… Kasihan rakyat, hee.. disiksa begini. Siapa yang mo ditunggu? Boleh saya ndak (serahkan), kalau tidak bisa saya sudah pulang. Kasihan napa masyarakat sudah menunggu. Hee.. sudah banjir lagi, saya akan… Cuma beras lima kilo bikin siksa masyarakat. Bisa ndak, bisa ndak..,” ujar Darwis dengan suara yang sangat jelas bernada emosi.

Darwis yang berhasil terpilih sebagai bupati dari jalur independen namun sekarang “berjuang” membesarkan partai “merah” itu, nampak seolah mengamuk bagai “banteng kelaparan” di tempat acara dengan dalih membela rakyat.

“Beras lima ton bikin siksa rakyat. Saya mampu 10 ton ini hari, 10 ton ini hari. Bukan nanti dari kamu 5 ton bikin siksa rakyat. 10 ton saya masih mampu,” lontar Bupati Darwis menunjuk-nunjuk seorang staf Setda Provinsi Gorontalo.

Situasi di lokasi acara nampak benar-benar riuh dan geger akibat teriakan Bupati Darwis yang juga disambut teriakan dari warga.

Sejumlah pihak menilai, bahwa sepertinya Bupati Darwis sedang “kerasukan setan”, yakni dengan mempertontonkan sekaligus “mengajarkan” ketidaksabaran di hadapan rakyatnya.

Padahal, menurut sejumlah kalangan, sikap Bupati Darwis itu sangat bertentangan dengan slogan daerah yang digaungkannya, yakni “Boalemo Damai Bertasbih”.

Seharusnya, menurut sejumlah pihak, Bupati Darwis memanfaatkan bencana banjir yang menerpa Boalemo beberapa waktu lalu itu sebagai momen introspeksi diri.

Mengetahui sambutan Bupati Darwis yang sangat terkesan penuh emosi itu, Gubernur Rusli Habibie hanya menanggapi dengan tenang, sekaligus mengklarifikasi keterlambatannya hadir di tempat acara.

Gubernur Rusli menanggapi teriakan Bupati Darwis yang menyatakan masyarakat jadi susah dengan acara penyerahan bantuan beras itu.

“Masyarakat mana yang susah? Masyarakat dipersulit nggak, masyarakat merasa susah nggak dengan keterlambatan saya. Dan saya ke sini sudah terjadwal, bukan karena memang (sengaja) saya terlambat. Saya ke Wonosari, ke Saritani, jalannya cukup rusak dan jauh,” jelas Rusli.

Gubernur Rusli mengaku merasa heran apabila dirinya dituding bikin siksa dan membuat masyarakat jadi susah melalui pemberian bantuan ini. “Buktinya masyarakat masih banyak menunggu saya (di tempat acara),” tutur Rusli.

Rusli juga mengaku menyayangkan teriakan-teriakan emosi dari seorang pemimpin daerah yang dipertontonkan di hadapan rakyat. “Kalau jadi pejabat, janganlah, hindarilah kata-kata yang memprovokasi rakyat, hindari dari sekarang. Dan jaga mulut sebagai pejabat,” sindir Gubernur Rusli.

Mengomentari “insiden” tersebut, anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Ulul Azmi Kadji angkat bicara.

Ulul mengatakan, pejabat itu tidak pantas emosional apalagi di hadapan publik. “Harus sudah lebih cerdas dan menjaga emosi,” ujar Ulul.

Ulul bahkan mengungkapkan, bahwa keterlambatan Gubernur Rusli tiba di Desa Mohungo itu lantaran lama di Desa Saritani-Wonosari karena sedang menunggu kehadiran Bupati Darwis yang katanya akan hadir.

“Mungkin saja mis-komunikasi karena di Desa Saritani tidak ada jaringan (signal) handphone,” tutur Ulul.

Ulul membantah jika Gubernur Rusli dalam momen itu disebut menyiksa dan membuat rakyat jadi susah.

Justru, kata Ulul, kunjungan kerja Gubernur Rusli Habibie ke Kabupaten Boalemo (Saritani, Tilamuta, Botumoito) itu membawa berkah bagi rakyat Kabupaten Boalemo,  khususnya bagi korban terdampak banjir.

Menurut Ulul, Bupati Darwis harusnya bersyukur dan berterimakasih, bukan malah mempertontonkan emosi di depan masyarakat.

Sementara itu, Kabag Humas dan Protokoler Setda Kabupaten Boalemo yang dimintai konfirmasi maupun klarifikasi seputar bupati yang seolah “kerasukan setan” itu, tak bersedia berkomentar. “Kami masih akan komunikasikan dengan pak bupati,” jawab Kabag Humas, Sukarman.

Meski begitu, dari “insiden” tersebut membuat banyak pihak pun mulai menduga-duga, bahwa jangan-jangan ini adalah bagian dari “skenario” politik jelang Pemilu, dan boleh jadi PDIP akan melakukan berbagai “manuver” untuk merebut kursi Ketua DPRD Boalemo yang kini dikuasai oleh Partai Golkar. (kab/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: