BREAKING NEWS
| Terkait Dugaan Korupsi GORR, Kejati Gorontalo Dalami Keterlibatan Gubernur Rusli? | Geger, Sejumlah WNI Tionghoa Sekap dan Aniaya Anggota TNI-AU di Medan | Mengaku Tobat, Sejumlah Kelompok Relawan Jokowi Bertekad Menangkan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 | Bendera “Agustusan” Dicopot Pengelola Apartemen Kalibata City, Warga Protes | Rakernas GSI, Ratna Sarumpaet: Kita Harus Jadi Provokator Terbaik untuk Perubahan

Anak Stunting, Faktor Pengaruh dan Ancamannya Bagi Negara

Bagikan dengan:

Wartawan: Dewi Mutiara~Editor: DM1

DM1.CO.ID, GORONTALO: Dinas Kesehatan (Dinkes) Propinsi Gorontalo menggelar media briefing pada Rabu (30/1/2019), bertempat di kantor Dinas Kesehatan Propinsi Gorontalo, terkait peringatan Hari Gizi Nasional ke-59 yang ditetapkan pada 25 Januari 2019.

Narasumber yang dihadirkan pada media briefing tersebut adalah Suryanto Soleman, SST, selaku Ketua Dewan Pimpinan Dearah (DPD) Persatuan Ahli Gizi (PERSAGI) Propinsi Gorontalo, dan Syafiin Saridin Napu, SKM, M.Kes, sebagai Kepala Seksi Kesehatan Keluarga, Pengendalian Penduduk, KB, dan Gizi (KKPP KB dan Gizi) .

Tema yang diangkat pada peringatan Hari Gizi Nasional kali ini tentang membangun gizi seimbang menuju bangsa yang sehat dan berprestasi, dengan misi menumbuhkan keluarga sadar gizi, Indonesia sehat dan produktif, sehingga slogan gizi seimbang prestasi gemilang yang digalakkan oleh Dinkes Propinsi Gorontalo dapat terwujud.

Dari tema, misi dan slogan yang diangkat tersebut mengarah pada intervensi pemerintah pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan memberikan manfaat jangka panjang dan berkelanjutan, satu fokus yang diperhatikan adalah gizi.

Kenapa gizi? Karena permasalahan yang saat ini sedang viral di kalangan gizi dan kesehatan yaitu stunting, pemerintah saat ini gencar melakukan percepatan penurunan dan pencegahan stunting di Indonesia.

Apa itu Stunting? stunting adalah keadaan gizi pada anak yang mengalami gangguan gizi berkepanjangan, menyebabkan tinggi badannya tidak sesuai dengan umurnya yakni pendek.

Suryanto Soleman, SST, selaku Ketua DPD PERSAGI Propinsi Gorontalo mengatakan, stunting merupakan bencana populasi yang paling besar dan bisa berdampak pada bonus demografi.

“Menurut ahli gizi, stunting adalah ancaman besar bagi negara, merupakan bencana populasi yang paling besar, jika tidak ditangani dan tidak dimaksimalkan pencegahannya, akan berdampak pada menurunnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan kita persiapkan kedepan,” ujar Suryanto.

Hal ini pula dibenarkan oleh Syafiin Saridin Napu, SKM, M.Kes, mengungkapkan, stunting adalah faktor yang mempengaruhi kualitas fisik seseorang.

“Anak yang sudah terlanjur stunting pasti mengalami penurunan kognitifnya, daya pikirnya menurun termasuk juga penurunan terhadap metabolismenya, akibatnya, dewasa nanti dia tumbuh pendek, dan anak stunting biasanya gemuk, dan jika sudah gemuk maka akan timbul penyakit-penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung, hipertensi, dan sebagainya, itu yg kita cegah,” ungkap Syafiin.

Masih keterangan Syafiin, stunting juga akan berdampak pada kualitas generasi penduduk produktif di masa mendatang.

“Kita punya bonus demografi, nanti tahun 2035-2040, angka penduduk yang produktif itu tinggi, kalau kita tidak perbaiki gizinya sekarang, maka pada tahun tersebut kita memiliki generasi produktif tapi gizinya payah, perkembangan atau kualitas otaknya payah, akhirnya menyebabkan banyak pengangguran, kalau pun tidak, jadi pekerja kasar,” ungkap Syafiin.

Menurut keterangan Suryanto Soleman, stunting bersifat permanen, dipengaruhi oleh multi faktor dari hilir hingga ke hulu, mulai dari ketersediaan pangan gizi, faktor lingkungan, faktor ekonomi, serta pola asuh baik dari keluarga, orang tua, juga ASI eksklusif.

Terkait penanganan penurunan dan pencegahan masalah gizi utamanya stunting tersebut, pada Jumat (25/1/2019), Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PERSAGI Kota Gorontalo, melaksanakan aksi bagi-bagi 1000 paket buah-buahan dan sayur-sayuran pada masyarakat yang melintas di sepanjang Tugu Selamat Datang, Saronde.

“Aksi bagi-bagi buah dan sayuran itu sebagai bentuk kampanye kami untuk menyadarkan masyarakat meningkatkan konsumsi buah dan sayuran,” ujar Suryanto.

Selain itu, Suryanto menjelaskan, kapasitas tenaga gizi yakni nutrisionis di Propinsi Gorontalo berjumlah sekitar 700 orang lebih, yang nantinya akan ditingkatkan kapasitasnya untuk menghadapi permasalahan gizi, utamanya stunting dan masalah gizi lainnya.

“Data yang ada sekarang, selain stunting kita juga masih ada gizi buruk, gizi kurang, dan yang terbaru sesuai hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), sudah mulai meningkat angka obesitas di kalangan anak-anak balita yang ada di Gorontalo, ini yang menjadi tugas kami ke depan menyiapkan generasi Gorontalo yang berkualitas, ” jelas Suryanto.

Lebih lanjut, Suryanto menambahkan, saat ini pemerintah melalui Dinas Kesehatan fokus untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang 1000 hari pertama kehidupan atau “Golden Age”.

“1000 hari pertama kehidupan itu dimulai dari sejak ibu hamil sampai anak itu berusia 2 tahun. Karena menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada rentang usia itu adalah “jendela emas” penentu kehidupan seseorang, jika orangtua salah meletakkan dasar, salah meletakkan pondasi, maka itulah yang akan di bawa anak itu sampai usia dewasa,” ungkap Suryanto.

Informasi dari Kepala Seksi Kesehatan Keluarga, Pengendalian Penduduk, KB dan Gizi, Syafiin Saridin Napu, SKM, M.Kes, berdasarkan Hasil Riset Kesehatan (Riskesdas) tahun 2013, Gorontalo termasuk pada 100 Kabupaten/Kota di Indonesia yang masuk Lokasi Fokus (Lokus) stunting. Namun setelah diintervensi, pada tahun 2018, Gorontalo termasuk 2 propinsi yang berhasil menurunkan angka stuntingnya, yakni Bali dan Gorontalo.

“Dari 100 Kabupaten/Kota itu, pada tahun 2018 dua diantaranya ada di Propinsi Gorontalo yakni Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Boalemo, namun pada tahun 2019 ini, lokus stunting di Gorontalo ada penambahan yakni Kabupaten Pohuwato, sehingga lokus stunting di Propinsi Gorontalo menjadi tiga kabupaten, dalam tiga kabupaten tersebut terdapat 10 desa yang diintervensi terkait tingginya kasus stunting, dengan,” ungkap Syafiin.

Syafiin menambahkan, di tahun 2017-2019 Dinas Kesehatan melaksanakan beberapa program yang ternyata berdampak pada penurunan stunting, yaitu program pendampingan ibu hamil yang beresiko dan program pemberian tablet penambah darah pada remaja putri.

Difokuskan pada remaja putri, karena banyak remaja putri siswi SMP/SMA mengalami anemia terutama saat mereka sedang menstruasi akibatnya semangat belajar tidak ada, konsentrasi hilang, malas-malasan, itu yang  coba diperbaiki melalui intervensi pemerintah dengan pemberian tablet penambah darah sehingga nantinya anemianya hilang, maka semangat belajar dan sebagainya aktif kembali.

“Remaja putri adalah calon-calon ibu yang akan hamil, dan diharapkan dengan pemberian tablet  penambah darah akan memutus mata rantai anemianya ketika mereka akan menikah,” ujar Syafiin.

Selanjutnya, program pendampingan ibu hamil yang beresiko untuk menurunkan angka kematian ibu. Dinas Kesehatan Propinsi Gorontalo bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Gorontalo untuk pendampingan ibu hamil di wilayah Kabupaten Bone Bolango, Kota Gorontalo, dan Kabupaten Gorontalo.

Sementara itu, untuk pendampingan ibu hamil di wilayah Kabupaten Boalemo, Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), dinas kesehatan merangkul dasawisma dan kelompok pengajian Al Hidayah untuk menjadi mitra.

“Program pendampingan ibu hamil yang kami laksanakan itu alhamdulillah berhasil, tahun 2016  jumlah kematian ibu ada 61 kasus, tahun 2017 Gorontalo turun menjadi 44 kematian ibu, dan tahun 2018, kematian ibu kita turun menjadi 30 kasus,” ungkap Syafiin.

Upaya pendampingan ibu hamil yang beresiko ini, dilaksanakan untuk mengurangi angka kematian ibu, kalaupun tidak terjadi kematian, ibu akan melahirkan bayi yang Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) yang dikenal dengan prematur.

“Jika bayi lahir BBLR, maka dia akan berlanjut menjadi gizi buruk, kalau gizi buruknya berkepanjangan sejak saat hamil kemudian lahir hingga dua tahun, maka diatas 2 tahun pasti dia menjadi stunting, dia jadi pendek,” tambah Syafiin.

Dikeluarkannya instruksi dari mendagri no.440 tentang pencegahan stunting, dimintakan semua pihak, baik dari Tim Penggera PKK, lintas tokoh masyarakat, akademisi, serta media massa untuk ikut berupaya mencegah dan menurunkan angka stunting dan masalah gizi lainnya.

“Dengan instruksi mendagri tersebut, kami bertekad, bersama-sama kita dapat menurunkan angka stunting yang ada di Propinsi Gorontalo ini, melalui komitmen dan kemitraan bersama, semata-mata untuk mempersiapkan generasi masa depan Gorontalo yang benar-benar berkualitas dan berprestasi,” pungkas Suryanto. (dmk/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up