BERITA EKSKLUSIFDM1 Kolaka TimurHUKUMKehilanganTerbaru

Bendahara Kesra Koltim Mendadak Hilang, Diduga “Melahap” Uang MTQ

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, KOLAKA TIMUR: Seorang Bendahara Pembantu Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), berinisial RW, mendadak hilang dan entah ke mana rimbanya.

Sosok RW yang dikabarkan tiba-tiba menghilang itu, diduga  membawa kabur atau menggelapkan dana Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tahun 2022, yang dilaksanakan di Kecamatan Poli-polia, Sabtu (26/2/2022).

Total anggaran yang diduga “dilahap” (dibawa kabur dan digelapkan) oleh RW, yakni sebanyak Rp.687 Juta. Dana sebesar itu sebagian adalah untuk honor dewan hakim, panitia, pemenang lomba dan konsumsi. Saat ini, kasusnya sedang ditangani oleh pihak kepolisian sektor Rate-rate.

Ayi Wahyuddin selaku Kepala Bagian (Kabag) Kesra Koltim mengatakan, sejak tanggal 6 Maret sampai sekarang, RW telah mangkir dari tanggungjawabnya sebagai bendahara pengeluaran pembantu pada bagian Kesra.

Sejak itu, kata Ayi, RW sudah tidak dapat dihubungi lagi, baik secara langsung maupun tidak langsung (putus komunikasi).

“Kami menduga yang bersangkutan (RW) telah membawa lari dana MTQ tahun anggaran 2022. Dan kami sudah melaporkannya kepada pihak berwajib (polisi) pada Kamis (17/3/2022) sekitar jam dua siang,” kata Ayi kepada wartawan DM1 pada Kamis sore, di ruang kerjanya.

Ayi menceritakan, bahwa sebelum pembukaan MTQ, pada Kamis (24/2/2022), dirinya sempat bertemu dengan RW, bahkan sampai menandatangani cek tunai sebesar Rp.30 Juta untuk panjar makan serta minum (konsumsi).

Setelah itu, atau besoknya Jumat (25/2/2022), RW mendatangi kediaman Ayi untuk menyodorkan penandatangan cek tunai sebesar Rp.35 Juta.

Saat itu pula, kata Ayi, RW sempat menyampaikan bahwa hari Selasa (1/3/2022) akan dilaksanakan pembagian hadiah kepada pemenang lomba MTQ.

Pada Jumat sore Ayi mengaku masih sempat chatting-an dengan RW di WA (WhatsApp). “Saya pertanyakan soal honor panitia, apa sudah atau belum?” kata Ayi.

RW kemudian menjawab pertanyaan Ayi tersebut. “Dia bilang, yang BRI agak lambat pak, mungkin dua atau tiga hari karena itu antar bank,” tutur Ayi mengutip percakapannya dengan RW via WA.

Besoknya (Sabtu), ungkap Ayi, WA RW sudah tidak aktif lagi. “Seninnya saya chat kembali melalui WA, tapi juga sudah tidak aktif. Saya cek ke teman-teman yang lain, sama, semua sudah tidak aktif juga. Di grup juga begitu. Di situlah (RW) hilang jejak,”ungkap Ayi.

Karena diliputi tanda tanya yang besar, Ayi pun mencari RW langsung ke rumah istri keduanya. Namun jawaban yang ditemui dari istrinya menyebutkan bahwa ia juga tidak tahu keberadaan RW. “Istrinya bilang juga tidak tahu ke mana RW. Saya juga sudah hubungi keluarga RW, tapi juga tidak ada yang tau kabarnya,” ujar Ayi.

Lantaran merasa sudah tak dapat lagi menemukan RW, Ayi pun kemudian melaporkan berita orang hilang ke Polsek Rate-rate secara lisan. Ayi berharap pihak kepolisian bisa membantu dan segera menemukan RW, karena ada banyak hal yang harus segera diselesaikan oleh RW dalam kaitan tugasnya selaku bendahara pembantu.

Selain itu, Ayi juga melakukan pengecekan rekening koran untuk pengeluaran Bagian Kesra di bank. Dan betapa kagetnya Ayi ketika mengetahui bahwa ternyata terdapat 6 kali pengeluaran dana Kesra tanpa sepengetahuannya.

Ayi mengaku bertambah kaget ketika mengetahui bahwa cek tunai yang pernah ditandatanganinya sebanyak dua kali, yakni sebesar Rp.30 Juta dan Rp.35 Juta, ternyata tidak terdapat dalam daftar rincian pengeluaran tujuh kali tersebut.

Tujuh kali pencairan yang dilakukan oleh RW dengan total Rp.769 Juta (Sisa saldo Kesra Rp.37.912.500.), dirincikan oleh Ayi dalam wawancara dengan wartawan terdiri dari:

1. Tanggal 7 Februari 2022 sebesar Rp.180 Juta ;
2. Tanggal 11 Februari 2022 sebesar Rp.100 Juta;
3. Tanggal 14 Februari 2022 sebesar Rp.75 Juta (terjadi transfer antar rekening entah kepada siapa);
4. Tanggal 17 Februari 2022 sebesar Rp.82 Juta;
5. Tanggal 22 Februari 2022 sebesar Rp.140 Juta (dugaan Ayi cek tunai Rp.30 Juta yang diubah);
6. Tanggal 25 Februari sebesar Rp.135 Juta (dugaan Ayi cek tunai Rp.35 Juta yang diubah);
7. Tanggal 4 Maret 2022 terjadi lagi pencairan sebesar Rp. 57 Juta.

Ayi menguraikan, dari total pencairan itu sebagiannya sudah dipergunakan untuk membayar honor panitia (sebagian belum), honor dewan hakim (sebagian lagi belum), pembelian hadiah untuk para juara lomba MTQ (sama sekali belum), serta biaya konsumsi (sebagian belum).

Ayi mengaku heran, karena RW dikenal sebagai pribadi yang cukup baik. Ayin dan RW sendiri sudah saling akrab selama tujuh tahun lamanya. Dan Ayi sama sekali tak menyangka akan terjadi permasalahan seperti ini.

“Sama sekali saya tidak pernah menyangka, karena anak ini (RW) bagi saya sudah seperti saudara atau adik sendiri. Karena sekecil apapun terkait pengeluaran uang di kantor, dia (RW) selalu melaporkan kepada saya. Tidak masuk kantor saja dia melapor pada saya. Tapi tidak tahu mengapa dia bisa begini, apakah dia mempunyai masalah atau tidak, sayaa juga tidak tau. Karena dia tidak pernah bercerita kepada saya,” terang Ayi.

Ayi pun berharap kepada RW agar bisa segera masuk kantor kembali. “Ke manapun atau di manapun RW berada maka kalau bisa kembalilah secepatnya. Apapun masalah yang dihadapi, kita bisa mencari solusinya secara bersama-sama. Apakah itu masalah di luar sebagai PNS (pribadi), saya kira masih banyak cara untuk mengatasinya. Saya juga sudah menyampaikan kepada semua keluarga RW, teman ataupun sahabat RW agar kalau ada informasi sekecil apapun tentang RW tolong disampaikan kepada kami,” imbau Ayi. (rul/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: