Banjir ke-6 Kalinya Terjang Bonebol, Ini Saran dan Pengakuan Mengejutkan dari Ahli Geologi

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, GORONTALO: Akibat hujan yang mengguyur sejak pagi hingga tengah malam ini, Jumat (31/7/2020), membuat sebagian besar wilayah di Kabupaten Bone Bolango kembali diterjang banjir. Bahkan merembes ke sejumlah titik di Kota Gorontalo.

Informasi yang dirangkum Wartawan DM1 di lapangan menyebutkan, banjir di hari raya Idul Adha ini adalah yang keenam kalinya sejak bulan kemarin.

“Ini yang keenam kalinya kami mengalami banjir. Dan banjir hari ini yang lebih parah dibanding banjir-banjir sebelumnya,” ujar Eti (27), warga Dusun Dua, Desa Tingkohubu Timur, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango.

Eti mengungkapkan, kondisi air Sungai Bone yang meluap ke dusunnya mencapai hampir dua meter. “Banjir sejak pagi hingga malam ini di dusun kami sudah mencapai dagu orang dewasa, dan airnya berarus,” ungkapnya.

Menurut Eti, air tampak sudah naik setinggi leher sekitar pukul 21.00 WITA. Dan saat itu, lanjut Eti, tak ada lagi warga dusun yang berani bertahan di rumah mereka. “Saat ini seluruh warga dusun sudah mengungsi di rumah-rumah warga lainnya yang berada di ketinggian,” ujar Eti.

Dusun Dua ini, lanjut Eti, terbilang parah mengalami banjir karena letaknya hanya berjarak sekitar 70 Meter dari bantaran Sungai Bone. “Dan sejak banjir kemarin-kemarin, semua tanggul di Sungai Bone sudah hancur,” ungkap Eti.

Eti menyebutkan, Bupati Hamim Pou sempat kelihatan meninjau dusun tersebut saat air naik, dan tak lama kemudian sejumlah tim Tagana beserta personil BPBD Bone Bolango dibantu aparat kepolisian telah turun membantu mengevakuasi warga dengan perahu karet.

“Dari Pemkab ada bantuan, ada makanan yang dibagi-bagi ke warga,” tutur Eti seraya menambahkan, bahwa dirinya bersama warga terdampak banjir sudah sangat lelah mengungsi dan telah capek bersih-bersih rumah pasca banjir.

Sementara itu Bupati Bone Bolango, Hamim Pou, saat dikonfirmasi terkait kondisi warga terdampak banjir menyatakan, pihaknya senantiasa tanggap melakukan upaya-upaya penanganan darurat, agar memastikan tak ada korban.

“Dalam kondisi seperti ini memastikan tidak ada korban, insyaAllah,” kata Bupati Hamim Pou kepada redaksi DM1 via percakapan WhatsApp, Jumat malam (31/7/2020).

Bupati Hamim Pou juga menyebutkan, pihaknya telah melakukan evakuasi kepada seluruh warga terdampak banjir ke tempat yang lebih aman, dan memberikan bantuan makanan.

Di tempat terpisah, seorang peneliti di Marine Geological Institute dan Ahli Geofisika di ITB, Delyuzar Ilahude, saat DM1 memintai tanggapannya terkait banjir di Gorontalo, memberikan sejumlah masukannya.

Delyuzar Ilahude menyarankan agar pemerintah setempat segera melakukan upaya-upaya pemulihan hutan di daerah hulu sungai. “Mumpung belum terlambat, segera pulihkan hutan di daerah hulu,” ujar Delyuzar kepada redaksi DM1, Jumat malam (31/7/2020).

Menurutnya, apabila  upaya pemulihan hutan di hulu sungai itu tidak diseriusi oleh Pemda, maka ke depan rumah-rumah penduduk di DAS (Daerah Aliran Sungai) Bone akan hanyut disapu derasnya air sungai.

Delyuzar juga menyoroti sejumlah pejabat ketika banjir hanya datang memantau ke bendungan untuk melihat kondisi air.

“Kenapa pejabat hanya mengontrol ketinggian air di Bendungan Alale? Itu hanya action yang ga ada gunanya. Kenapa tidak menyelidiki pemicu banjir itu? Harusnya buat tim investigasi untuk banjir ini!” kritik Delyuzar.

Ia menyayangkan ada banyak pejabat yang tidak paham tentang lingkungan. “Penghijauan itu harus kontinu, tidak sporadis, akan sia-sia nanti. Jadi harus terkontrol dan berkesinambungan. Jangan nanti ada banjir baru gandeng PLN, gandeng sana-sini untuk penghijauan,” ujarnya.

Padahal, lanjut Delyuzar, anggaran untuk lingkungan di Bappeda itu besar. “Tapi entah jatuh ke mana ya?” sindir Delyuzar seraya menunjuk contoh revitalisasi Danau Limboto.

Menurutnya, dengan dana dan anggaran yang sangat besar, ternyata tidak membuat Danau Limboto dapat berubah sesuai yang diharapkan, dan tidak ada kemajuan penanganannya. “Tetap aja begitu, padahal anggarannya sudah puluhan miliar, para pekerja Danau Limboto sampai ‘ganti kulit’, tapi oknum pejabatnya (di saat bersamaan justru) banyak yang ganti mobil dan renovasi rumah. Yang saya lihat di Gorontalo, Pemdanya bereaksi setelah ada kejadian banjir. Padahal masalah lingkungan itu harus dipantau terus. Kira-kira begitu,” jelas Delyuzar.

Lebih jauh Delyuzar menyarankan, sekarang ini aktivitas perusahaan tambang Gorontalo mineral di perbukitan Bone Bolango harus dievaluasi lagi.

“Ini bukti nyata, saya masih ingat waktu itu di gedung DPRD Provinsi Gorontalo, sesuai  yang telah disampaikan di depan Pansus DPRD Provinsi Gorontalo. Ketuanya waktu itu Pak Rustam Akili. Saya bersama Pak Dani Pomanto diundang sebagai narasumber dalam rangka penyusunan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Gorontalo sehubungan dengan rencana tukar guling Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), dengan di daerah di Pinogu. Karena di lokasi TNBNW itu punya potensi bahan galian emas. Kita jelaskan, bahwa kalau di daerah itu terganggu, maka akan mengakibatkan banjir bandang. Dan sekarang ini sudah terbukti apa yang sudah disampaikan waktu itu,” urai Delyuzar.

“Dan anehnya ada ibu Prof. Winarni sebagai Ketua Bapedalda waktu itu malah mendukung alih-fungsi hutan itu. Bahkan oknum DPRD sempat bersitegang dengan saya dan Pak Dani Pomanto. Kita menjelaskan, bahwa morfologi tinggian di Gorontalo sewaktu-waktu akan memicu banjir bandang di daerah hilir karena elevasinya cukup tinggi ke arah muara Sungai Bone. Dan sekarang bisa dilihat sendiri, di kota banjir luar biasa, infrastruktur yang telah dibangun di daerah Suwawa ambyar. Para bupati di Provinsi Gorontalo harusnya menyadari, Gorontalo itu rawan bencana banjir dan rawan gempa. Sekarang baru tahu apa yang kami berdua sampaikan di depan Pansus DPRD (waktu itu) kini jadi kenyataan. Jadi kata kuncinya harus dievaluasi lagi yang punya kuasa pertambangan di daerah Bonebol. Dan semoga tidak ada korban banjir kali ini,” tandas Delyuzar. (ams/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: