HARI INI :

PARTNER PEMERINTAH, KAWAN RAKYAT

Selain Pantai Batu Pinagut, Kades Boroko Utara juga Upayakan Wisata Hutan Mangrove

Bagikan dengan:
Wartawan: Mulkan dan Syarifudin | Editor: AMS

DM1.CO.ID, BOLMUT: Keindahan Pantai Batu Pinagut sebagai salah satu objek wisata alam di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), tak perlu diragukan.

Tidak sedikit wisatawan lokal maupun mancanegara telah menjadikan pantai ini sebagai destinasi alternatif dan favorit, baik saat berakhir pekan, maupun di momen libur panjang.

Pantai Batu Pinagut yang terletak di Desa Boroko Utara, Kecamatan Kaidipang ini, memang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai destinasi wisata pantai unggulan.

Kepala Desa (Kades/Sangadi) Boroko Utara, Nursila Buhang, pada Rabu (25/9/2019), kepada wartawan DM1 menyampaikan sejumlah hal penting terkait upaya mengangkat kesejahteraan warga melalui berbagai program kerja, termasuk pengembangan objek wisata.

“Destinasi wisata Pantai Batu Pinagut ini memiliki pasir putih, juga ada pekuburan kramat, karang-karang, dan hasil-hasil laut lainnya,” ujar Nursila.

Nursila menjelaskan, Pantai Batu Pinogut ini meliputi wilayah Desa Boroko Utara, Boroko Timur, Kuala Utara, dan Boroko. “Tapi yang lebih dominan adalah Desa Boroko Utara,” ujarnya.

Batu Pinagut itu, kata Nursila, adalah objek wisata pantai yang dekat dengan perkotaan, dan telah dilengkapi sejumlah fasilitas. Seperti tempat parkiran yang aman, tempat ibadah, warung makan atau kantin, ada MCK, gazebo, dan bahkan kantor pariwisata juga sudah ada di situ.

Nursila mengungkapkan, pada 2018 sudah dibangun jalan akses menuju ke pantai pasir putih, namun itu baru sebagian, dan akan dilanjutkan pada 2020.

“Dari pusat kota ke Pantai Batu Pinagut itu sekitar satu kilometer sudah beraspal. Keamanannya juga sudah baik karena sudah dibangun pos keamanan,” tutur Nursila seraya menambahkan, bahwa soal kebersihan juga senantiasa terpelihara dari dinas lingkungan hidup.

“Hari-hari tertentu apabila ada kegiatan festival, pengunjung dikenakan uang parkiran. Tapi karcis untuk kabupaten belum ada, karena memang belum ada Perda. Namun kalau untuk desa ada pungutan-pungutan sesuai aturan Perdes,” jelas Nursila.

Kegiatan-kegiatan daerah, lanjut Nursila, kerap dilakukan di pantai ini. Bahkan ada kegiatan skala nasional yang telah menghadirkan ustaz dan sejumlah artis ibukota lainnya.

Memang, kata Nursila, Dinas Pariwisata Bolmut sudah mematok setiap tahun menggelar Festival Pantai Batu Pinagut. “Perhatian Pemda Bolmut cukup besar terhadap pengembangan objek wisata Pantai Batu Pinagur ini,” ungkap Nursila.

ke depan, Nursila mengaku untuk tahun 2020 sudah ada beberapa perencanaan dari Pemda Bolmut maupun dari pemerintah desa, untuk mendanai pengembangan wisata Pantai Batu Pinagut ini.

“Dari dana desa kami sudah menganggarkan untuk mengadakan fasilitas-fasilitas, seperti permainan air berupa perahu-perahu keliling, permainan di darat seperti wahana-wahana untuk anak-anak,” ungkap Nursila.

Bahkan Nursila mengaku telah mendapat informasi, bahwa Dinas Pariwisata Bolmut akan menganggarkan kegiatan perluasan wilayah, seperti peningkatan jalan menuju pantai pasir putih atau ke pekuburan Kramat.

Selain Pantai Batu Pinagut, Nursila juga berencana memunculkan wisata hutan mangrove. Sebab, di Desa Boroko Utara ini juga memiliki hutan mangrove yang terbentang sekitar 500 meter di pesisir pantai.

Nursila mengaku rencana untuk memunculkan wisata hutan mangrove ini, telah dimasukkan dalam rencana kerja 2020. Nursila pun berharap anggaran tersebut bisa benar-benar terealisasi.

Tidak sedikit program kerja yang telah ditunaikan Nursila sejak diberi amanah sebagai kepala desa. “Tahun 2013 saya masih penjabat sementara. Dan tahun 2014 saya terpilih secara definitif. Waktu itu belum ada dana desa, yang ada cuma ADD, jadi terbatas untuk pembangunan, cuma khusus pembayaran insentif- insentif pegawai kelembagaan di desa,” jelas Nursila.

Setelah adanya dana desa, Nursila mengaku langsung melakukan berbagai kegiatan pembangunan. “Membangun sekolah PAUD, drainase tahun 2016, drainase lagi tahun 2017, lalu jamban keluarga. Tahun 2018 pembangunan jamban kembali, sisanya untuk BUMDes,” urai Nursila.

Pada 2019 ini, Nursila mengaku telah membangun jalan sepanjang 500 meter untuk perluasan pemukiman. Selain itu, juga ada rumah layak huni sebanyak 8 unit, dan kembali membangun drainase.

Nursila mengungkapkan perencanaan tahun 2020, juga di antaranya adalah pembangunan lapangan olahraga bola futsal, tambak udang, dan lain sebagainya.

Nursila menyebutkan, jumlah penduduk di Desa Boroko Utara ini sekitar 900 jiwa dari 200-an Kepala Keluarga (KK). “Di desa ini yang menonjol adalah nelayan, petani, dan PNS. Selebihnya buruh atau wiraswasta,” katanya.

Karena yang menonjol adalah nelayan, maka Nursila sejak awal kepemimpinannya telah mengajukan usulan pembangunan pabrik es balok. Sayangnya, usulan itu hingga kini belum mendapat realisasi. “Sudah delapan tahun diusulkan, tapi belum ada respons,” ujar Nursila.

Nursila pun berharap, karena ini kepentingan masyarakat mayoritas nelayan, maka hendaknya Pemda bisa memperhatikan usulan pabrik es tersebut. (mul-din/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
  • 12856