HARI INI :

PARTNER PEMERINTAH, KAWAN RAKYAT

20 Tahun Usia Boalemo, Meneropong Kinerja Bupati

Bagikan dengan:
(Opini) Oleh: Kisman Abubakar*

DM1.CO.ID, OPINI: Artikel ini ditulis berdasarkan fakta dan keterangan masyarakat dari berbagai lapisan yang menginginkan Boalemo segera bangkit dari tidur panjang di bawah kepemimpinan DAMAI.

Bahwa, Darwis Moridu dan Anas Yusuf dari pasangan independen DAMAI berhasil terpilih pada perhelatan Pilkada di Kabupaten Boalemo periode 2017-2022.

Keduanyanya kemudian dilantik oleh Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, di rumah dinas Gubernur Gorontalo, Senin (22/5/2017).

Dalam pidato pada acara pelantikan tersebut, Rusli Habibie menitip sejumlah penegasan dan pesan-pesan penting kepada pasangan Bupati dan wakil Bupati Boalemo terpilih itu.

Rusli Habibie mengatakan, menjadi kepala daerah itu harus bisa menyiapkan waktu 1×24 jam untuk melayani rakyatnya. Dan hasil pembangunan yang akan dicapai oleh pasangan bupati baru, minimal harus sama yang telah dilakukan oleh bupati sebelumnya.

Jangan sampai, kata Gubernur Rusli Habibie, (hasil pembangunan) justru menurun dari pada apa yang sudah dipersembahkan oleh pasangan Bupati dan Wakil Bupati Boalemo kemarin, Roem Pagau dan Lahmudin Hambali.

Pertanyaannya, apakah pesan-pesan dan harapan Gubernur Rusli Habibie itu sudah berhasil diwujudkan oleh Darwis Moridu dan Anas Yusuf pada titik menuju 3 tahun kepemimpinannya selaku bupati dan wakil bupati?

Kita bisa meneropong, bahwa hari ini, Sabtu (12/10/19) Kabupaten Boalemo genap berusia 20 tahun. Sayangnya, di usiannya yang sudah cukup matang itu, kondisi pembangunan di Kabupaten Boalemo nampaknya hanya “jalan di tempat” dan bahkan sepertinya mengalami kemunduran dan jauh tertinggal dibanding daerah tetangga lainnya, seperti Kabupaten Pohuwato.

Padahal, dibanding Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Boalemo yang lebih dulu dimekarkan menjadi daerah otonom, tetapi saat ini sangat nampak Boalemo justru ditinggal jauh dari segi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi oleh Kabupaten Pohuwato.

Sejauh ini saya banyak berdiskusi dan bersentuhan dengan kalangan masyarakat atas dan menengah, serta lapisan bawah. Umumnya mereka menilai, bahwa di era pemerintahan DAMAI (Darwis Moridu dan Anas Yusuf) saat ini, sama sekali belum mampu menyamai hasil yang telah dicapai oleh pemerintahan sebelumnya.

Artinya, yang nampak saat ini hanyalah pembangunan dan kinerja dari pasangan bupati sebelumnya yang pernah menjabat di Kabupaten Boalemo.

Bicara mengenai keberlangsungan pembangunan dan ekonomi di daerah ini, pastinya kondisi pembangunan dan ekonomi di Kabupaten Boalemo bisa dipastikan hanya akan jalan di tempat, atau bahkan menurun. Dampaknya, tentu masyarakatlah  yang merasakan, karena banyak kalangan masyarakat yang bergantung dari APBD untuk perputaran ekonomi di daerah ini. Segi pembangunanpun belum bisa ditonjolkan oleh pemerintahan dari Bupati Darwis, karena dia (Bupati) hanya sibuk menyajikan masalah kepada rakyatnya sendiri.

Bahkan pada setengah periode perjalanannya, 14 program yang sangat ditonjolkan oleh pemerintahan DAMAI itu, nyatanya belum mampu mencapai perubahan dalam konteks peningkatan kemajuan pembangunan di daerah ini, terlebih mengenai kesejahteraan masyarakat Boalemo, itu masih sangat sulit diwujudkan oleh DAMAI.

Memang benar, masyarakat Boalemo juga mengakui bahwa di satu sisi pasangan DAMAI sejauh ini sudah melakukan berbagai upaya untuk mencapai kinerja yang lebih baik, tetapi di sisi lain DAMAI justru lebih cenderung memunculkan banyak permasalahan, serta “memamerkan” tindakan-tindakan yang dapat membuat hati rakyat menjadi tidak nyaman dan jauh dari “kedamaian”.

Misalnya, bupati dinilai seenaknya melakukan mutasi dan non-job, sehingga membuat para ASN di daerah inipun merasa benar-benar berada di bawah tekanan dan bekerja tidak nyaman. Akibatnya, ASN sangat sulit mempersembahkan kinerja yang terbaik. Sebab, sebentar-sebentar dan sedikit-sedikit mereka langsung terkena mutasi dan non-job.

Akibat lain dari tindakan memutasi dan non-job ASN itu, tentu saja membuat pelayanan kepada masyarakat akhirnya tidak maksimal. Pertanyaan, apakah ASN di Boalemo itu yang memang sedang “sakit parah”, atau justru pemimpinnya yang perlu “diobati”?

Entahlah! Yang jelas saya belum bisa menceritakan sedetail mungkin dalam tulisan ini, karena masyarakat tentu juga sudah dapat melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa seperti apa kondisi Kabupaten Boalemo, dan sudah sejauh mana Darwis Morido selaku bupati berbuat untuk membangun Kabupaten Boalemo?

Dari masalah mutasi dan non-job tersebut, ternyata  oleh Komisi ASN menyatakan Bupati Boalemo melanggar Undang-undang ASN. Sehingga Komisi ASN pun meminta Bupati Boalemo agar segera mengembalikan para ASN yang dimutasi dan dinonjob tidak sesuai aturan tersebut, untuk kembali ke dalam jabatan mereka semula, atau diberi jabatan setara lainnya.

Sungguh tidak sedikit masyarakat, termasuk saya sebagai putra daerah yang menginginkan Boalemo ini mengalami kemajuan. Sayangnya, di era pemerintahan DAMAI ini justru hanya lebih banyak masalah beruntun yang kerap dilakoni oleh Bupati Boalemo sendiri.

Beberapa tokoh masyarakat, baik di dalam maupun di luar daerah menyarankan, seharusnya Bupati Boalemo Darwis Moridu segera belajar dan memahami nilai-nilai Pancasila agar dapat mengerti tentang etika publik, dan tidak seenaknya melampiaskan nafsu emosi yang justru dapat mencerminkan sebagai orang yang tak berpendidikan.

Mereka menilai, sejumlah perilaku Darwis Moridu belum mencerminkan diri sebagai pemimpin daerah, sebab selalu saja menjadi “pelopor” permasalahan di Kabupaten Boalemo, yang akibatnya dapat merusak citra dan nama baik rakyat dan daerah Boalemo Otabiu.

Misalnya, adanya putusan Pengadilan Negeri Tilamuta terhadap Darwis  Moridu yang dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana Pemilu, meski hanya dinyatakan vonis 2 bulan penjara dengan 6 bulan masa percobaan. Namun itu setidaknya sudah menjadi fakta hukum, bahwa Darwis Moridu terbukti bersalah. Bahkan saat proses persidangan masih berlangsung, Darwis Moridu sempat membuat gaduh dengan melontarkan ucapan-ucapan dengan nada meninggi dan emosional di hadapan hakim.

Belum lagi masalah kasus dugaan penganiayaan terhadap salah seorang warga Boalemo, yang duga dilakukan oleh Darwis Moridu. Dan juga terhadap masalah-masalah “krusial” yang belum bisa saya beberkan dalam tulisan ini.

Saya hanya bisa mengingatkan, bahwa beberapa “peristiwa” tersebut seharusnya bisa menjadi pengalaman dan pelajaran untuk Darwis Moridu agar segera sadar, bahwa yang dilakukannya itu sama sekali tidak mencerminkan adat dan adab.

Sekadar diketahui, bahwa Kabupaten Boalemo ini dilahirkan dengan adat dan adab yang mulia, sehingga yang menjadi khalifah di daerah ini seharusnya adalah sosok yang mampu menjaga adat dan adab di daerah ini.

Olehnya itu, belum terlambat bagi Darwis Moridu sebagai Bupati Boalemo untuk bergegas rendah hati melayani seluruh lapisan masyarakat, yakni dengan memperlihatkan tindakan serta perilaku yang dapat membuat kesejukan dan kedamaian di daerah dan rakyatnya. Wujudkan itu slogan yang saat ini digaungkan: “Boalemo Damai Bertasbih”!

Semua yang saya paparkan ini bukan hanya sebagai keluhan, tetapi juga merupakan sebuah keprihatinan yang hampir setiap hari dilontarkan dari mulut masyarakat di berbagai kalangan, yakni rakyat kecil hingga tokoh-tokoh masyarakat, dari dalam maupun di luar Boalemo.

Meski begitu, mereka juga mengaku senantiasa hanya bisa berdoa, agar pimimpin di daerah ini diberikan petunjuk serta hidayah Allah SWT dari banyaknya permasalahan yang ada. Dan semoga para pemangku kebijakan di Kabupaten Boalemo bisa benar-benar mempersembahkan kesejahteraan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Boalemo.

Selamat ulang tahun Kabupaten Boalemo yang ke-20 tahun, “Damai Indonesiaku, damai Boalemoku, Boalemo damai bertasbih”.

—-

(Penulis adalah pemerhati sosial dan aktivis Pers) ——

Redaksi menerima artikel dari semua pihak sepanjang dianggap tidak berpotensi menimbulkan konflik SARA. Setiap artikel yang dimuat adalah menjadi tanggungjawab sepenuhnya oleh penulis.

Komentar anda :
Bagikan dengan:
  • 12856
  • 14483