Netizen ini “Ngotot” Bela Bantuan Sagela, Ahli: itu “Sampah”

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, TAJUK-RENCANA: Polemik tentang ikan Sagela terus berlanjut dan menjadi buah bibir tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga menjadi perbincangan menarik di media sosial (Medsos) di Provinsi Gorontalo.

Bermula dari sorotan tajam yang dilontarkan oleh Tahir Badu selaku Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Bone Bolango, dalam Rapat Evaluasi Pelaksanaan Bantuan JPS tahap pertama oleh Panitia Kerja Covid19, di Aula Kantor DPRD Bone Bolango, Sabtu (9/5/2020).

Dalam rapat tersebut, Tahir Badu memperlihatkan sikap geram lantaran mengetahui bahwa masyarakat Bone Bolango diberikan bantuan JPS (Jaring Pengaman Sosial) yang tidak sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati.

Sikap geram Tahir Badu tersebut sempat direkam oleh sejumlah pihak secara audio-visual (video), yang kemudian menjadi viral di medsos.

Dalam video tersebut, Tahir Badu memang nampak sangat murka, berkali-kali meja digebrak, dengan suara lantang menyatakan menolak jika melibatkan pihak ketiga dalam penyaluran bantuan tersebut.

Akibat dipihak-ketigakan, menurut Tahir Badu, masyarakat penerima bantuan hanya mendapatkan paket senilai Rp.135 Ribu.

Padahal, kata Tahir Badu, semestinya masyarakat menerima paket sembako sesuai yang disepakati oleh DPRD Bone Bolango, yakni senilai Rp.200 Ribu per Kepala Keluarga.

Yang membuat Tahir Badu bertambah murka, yakni dalam paket yang dinilai hanya sebesar Rp.135 Ribu itu, di dalamnya terdapat ikan Sagela.

Tahir Badu pun merasa banyak yang tidak beres (tidak sesuai) dalam penyaluran bantuan tersebut. Selain menolak sistem penyaluran yang melibatkan pihak-ketiga, Tahir Badu juga kecewa karena bantuan Sembako itu di dalamnya terdapat ikan Sagela.

Tahir Badu tentu saja protes, sebab di saat pemerintah mengimbau agar masyarakat bisa menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh dalam mencegah Covid19, namun nyatanya masyarakat di Bone Bolango malah diberikan ikan Sagela.

Tahir Badu mengaku sangat prihatin, sebab di saat orang sedang susah, malah diberikan ikan Sagela.

Bermaksud mengetuk hati pihak-pihak yang terlibat langsung dalam penyaluran bantuan itu, Tahir Badu pun menyinggung bahwa ikan Sagela itu adalah makanan hari-hari orang susah, sehingga Tahir Badu mengharap agar bantuan itu jangan lagi “disunat” dengan memberikan ikan yang lebih segar dibanding Sagela.

Karena Tahir Badu menyebut ikan Sagela adalah makanan hari-hari orang susah, membuat sejumlah pihak pun merasa tersinggung. Sebab, menurut mereka, ikan Sagela adalah makanan favorit orang Gorontalo pada umumnya. Akibatnya, sejumlah pihak itu pun mem-bully Tahir Badu di Medsos.

Padahal, substansi persoalan yang diprotes oleh Tahir Badu adalah sangat terang-benderang untuk kepentingan masyarakat, yakni masalah Sembako yang harusnya disesuaikan dengan anggaran Rp.200 Ribu yang telah disepakati tersebut. Bukan justru “mengurangi” alokasi tersebut menjadi Rp.135 Ribu yang di dalamnya terdapat ikan Sagela, yang menurut Tahir Badu adalah ikan yang tidak ada gizi.

Namun segelintir pihak ada yang mencoba “menyerang” Tahir Badu melalui Medsos. Mereka protes dengan statemen Tahir Badu yang menuding ikan Sagela adalah makanan orang susah.

Salah seorang netizen yang ngotot “membela” penyaluran Sembako yang di dalamnya terdapat ikan Sagela, adalah akun Facebook bernama Sofyan Dengo.

Pada Kamis (14/5/2020), Sofyan Dengo bahkan memosting sebuah tulisan yang dipublikasikan di salah satu grup publik Facebook lokal di Bone Bolango.

Tulisan yang telah diekspos oleh salah satu media online itu berisi penjelasan dari pihak Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Arifasno Nahu, yang menyebutkan bahwa ikan Sagela memiliki kandungan gizi yang baik bagi tubuh. Di antaranya, asam amino esensial, vitamin A, kalsium, fosfor, kalium, kalori, natrium, ferum, vitamin C dan lemak.

“Protein yang tinggi ini (kandungan sagela) sangat bermanfaat bagi perkembangan otak anak. Menikmatinya bisa dengan menaburkan sagela yang telah ditumbuk halus di atas bubur untuk makanan anak,” demikian Arifasono, dalam tulisan tersebut.

Pada tulisan itu juga melibatkan arahan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Misranda Nalole, untuk mengajak masyarakat agar gemar mengonsumsi sagela. Alasannya, karena selain memiliki kandungan gizi yang sangat baik, harga sagela ini sangat murah.

Dari tulisan yang diposting oleh Sofyan Dengo itu, tampaknya banyak pihak yang membela Tahir Badu, dan hanya segelintir yang membully Ketua Fraksi Gerindra DPRD Bone Bolango itu.

Lucunya, ketika ada netizen yang membela Tahir Badu terkait Sagela tidak ada gizi, maka Sofyan Dengo langsung tersinggung. Bahkan mengancam akan melaporkan netizen tersebut ke Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo.

Lalu, benarkah ikan Sagela itu memiliki kandungan gizi tinggi dan protein yang sangat baik, sebagaimana yang dikemukakan oleh Arifasno Napu beserta Misranda Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, dalam tulisan yang di-share oleh Sofyan Dengo itu?

Mari disimak penjelasan dari seorang ahli gizi sekaligus ahli pangan, Djoko Sutopo.

Namun sebelumnya, berikut ini adalah sekilas profil sosok Djoko Sutupo. Yakni, Sarjana Diploma III Akademi Gizi Jakarta; Sarjana Strata-Satu IKIP Manado; Pascasarjana Ilmu Pangan di Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Merintis Akademisi Gizi Manado tahun 1985. Salah satu murid saya adalah Arifasno Napu,” tulis Djoko Sutopo kepada redaksi DM1, via Messenger, Sabtu (16/5/2020).

Tahun 2001, Djoko Sutopo, menjabat sebagai Kasubdin Yankes (Pelayanan Kesehatan) di Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo.

“Tahun 2002 merintis Akzi (Akademi Gizi) dan Akbid (Akademi Kebidanan) Gorontalo. Tahun 2007 pensiun PNS,” tulis Djoko Sutopo.

Selanjutnya, 2014 Djoko Sutopo merintis STIKES (Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan) Bakti Nusantara (Baktara) Gorontalo. Dan pada 2018 hingga sekarang, Djoko Sutopo aktif sebagai dosen di STIKES Baktara Gorontalo.

Bagi Djoko Sutopo, “struktur” olahan ikan Sagela dengan abon, tidak jauh beda. Dan abon adalah “sampah” (junk-food).

Dan berikut ini adalah penjelasan Djoko Sutopo terkait ikan Sagela, yang diposting dalam linimasa Facebook-nya, pada Jumat (15/5/2020):

Masyarakat Gorontalo dihebohkan oleh karena ada salah seorang anggota dewan yang mengatakan bahwa SAGELA kurang bergizi. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat Gorontalo tersinggung.

Sagela merupakan ikan kering yang sangat digemari, karena enak sekali rasanya. Tapi menurut saya, yang dikatakan anggota dewan bahwa sagela kurang bergizi, itu benar.

Masyarakat sering menganggap bahwa suatu bahan makanan bergizi atau tidak berdasarkan kondisi bahan mentah segar. Padahal, pemrosesan dan pemasakan sangat berpengaruh terhadap kandungan zat gizi.

Contoh: abon, bagi Ahli Gizi, adalah sumber protein. Tapi bagi Ahli Pangan, abon adalah “sampah” (junk-food), karena sudah “rusak” zat gizinya.

Sagela sudah mengalami pengeringan dan pengasapan yang merusak protein, vitamin dan lemak, sehingga yang tersisa adalah mineral. Kalau Sagela dianggap sebagai sumber protein, omega 3 dan vitamin, (itu) adalah keliru.

Sagela memang enak dan digemari, tetapi bukan berarti bergizi tinggi. Sambal, krupuk, abon, juga digemari, tetapi fungsinya sebagai perangsang nafsu makan.

Silakan mengonsumsi Sagela, tapi lengkapilah dengan sumber protein seperti ikan, tahu, tempe, dan sumber protein lain yang diolah dengan baik. Penggunaan suhu tinggi akan merusak zat-zat gizi”.

Pada Ahad malam (17/5/2020), tulisan/penjelasan Djoko Sutopo tersebut telah mendapat tanggapan emoji sebanyak 214, yakni jempol (like) sebanyak 168; super 44; peduli 2; dan 106 komentar; serta 39 kali dibagikan.

Djoko Sutopo juga menjelaskan perbedaan ahli gizi dan ahli pangan. “Bedanya, ahli gizi lebih memperhatikan konten/kadar gizi bahan pangan atau makanan sebelum masuk ke perut. Sedangkan ahli pangan menelusuri disamping kadar gizi, juga bagaimana nasi zat gizi setelah masuk ke perut. Terlibat reaksi-reaksi biokimia yang tidak dipahami oleh ahli gizi,” pungkas Djoko Sutopo. (red/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: