ESI Gorontalo Bantah Adanya “Kongkalikong” Menuju PON XXI, Tetapi Ibu Nina Menangis: “Saya Dizalimi”

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, GORONTALO: Surat Terbuka dari Deddy Umar selaku seorang pencinta dan pemerhati game E-Sports di Gorontalo, yang sengaja ditulis untuk diketahui oleh pihak KONI Provinsi Gorontalo seputar adanya dugaan “kongkalikong” oleh beberapa oknum Pengurus Provinsi (Pengprov) E-Sports Indonesia (ESI) Gorontalo, terkait keikutsertaan dalam PON XXI, mendapat bantahan dari sejumlah pengurus ESI Provinsi Gorontalo.

Poin-poin yang diungkapkan Deddy Umar dalam surat terbukanya yang telah dipublikasikan di media ini pada Selasa (11 Juni 2024), seluruhnya ramai-ramai dibantah oleh sejumlah pengurus ESI Provinsi Gorontalo dan atlet E-Sports dalam sebuah momen klarifikasi di Sekretariat KONI Provinsi Gorontalo, Jalan Sutoyo, Kota Gorontalo, pada Kamis siang (13 Juni 2024).

Menurut mereka, apa yang menjadi tudingan Deddy Umar dalam surat terbukanya tersebut berbanding terbalik dengan kondisi yang sebenarnya. Misalnya, soal adanya pemotongan gaji pelatih saudari Indra Mustafa Akib (yang akrab disapa Bu Nina) selaku pelatih Free-Fire sebesar Rp.600 ribu itu adalah sebuah kesepakatan bersama.

Uang itu, menurut mereka, bukan pemotongan, tetapi merupakan sumbangan untuk diberikan kepada para asisten pelatih secara merata sebagai kompensasi transportasi, dan itu diketahui oleh Ketua Umum berikut Ketua Harian Pengprov ESI Gorontalo, serta jelas peruntukannya.

Olehnya itu, Eric Bahtiar selaku manager yang disebut-sebut dalam surat terbuka tersebut sebagai orang yang melakukan pemotongan, menyanggah dengan tegas. “Saya tidak pernah meminta, dan (tudingan) itu sangat keliru,” tandas Eric dalam penyampaian klarifikasi yang dilakukan di ruangan Abdullah Adhie Pala selaku Sekretaris Umum KONI Provinsi Gorontalo.

Terkait dugaan adanya manipulasi data atlet dan pelatih, juga dibantah oleh Fandli Supandi selaku pelatih sekaligus Ketua Bidang Atlet dan Kompetisi di Pengprov ESI Gorontalo. Namun Fandli mengaku memang ada evaluasi-evaluasi yang dilakukan pihaknya, salah satunya adalah untuk me-reshuffle pelatih dan official pendamping yang akan diikutsertakan dalam PON XXI.

Terkait ungkapan Deddy Umar dalam surat terbukanya yang seolah protes dengan sikap Pengprov ESI yang terkesan semena-mena main “bongkar-pasang” daftar atlet, pelatih dan official pendamping yang akan diberangkatkan ke PON XXI, juga diklarifikasi oleh Fandli.

Dalam surat terbukanya, Deddy Umar menyebutkan bahwa Ramlan Buhungo yang mulanya berposisi sebagai atlet cadangan e-Football tiba-tiba menjadi pelatih Free-Fire menggantikan Ibu Nina. Dan kebijakan inilah yang diduga oleh Deddy sebagai sebuah “kongkalikong” sekaligus mengendus adanya “persekongkolan” untuk menjatuhkan Ibu Nina.

Namun dugaan maupun tudingan Deddy tersebut diklarifikasi oleh Fandli dengan menegaskan bahwa Ramlan patut menjadi pelatih karena mengantongi lisensi pelatih. Selain itu, menurut Fandli, sikap atau kebijakan tersebut diambil karena juga untuk kondusivitas serta kenyamanan atlet.

Mengenai Ibu Nina yang harus digeser dari pelatih menjadi asisten pelatih, lalu kemudian terpaksa diberhentikan hingga benar-benar tak lagi bisa diikutsertakan dalam keberangkatan di PON XXI Aceh-Sumut, menurut Fandli, hal itu sudah melalui prosedur dan mekanisme yang diatur dalam ketentuan Pengprov ESI Gorontalo.

Tetapi Ibu Nina Menangis: “Saya Dizalimi”

Sesaat ketika mengetahui surat terbukanya diklarifikasi dan mendapat bantahan dari pihak Pengprov ESI Gorontalo, Deddy Umar pun bergegas menghadirkan istrinya yang tak lain adalah Ibu Nina ke redaksi DM1.

Dalam kesempatan itu, Ibu Nina tak hanya mencurahkan unek-uneknya, tetapi juga menceritakan jengkal demi jengkal dan tetes demi tetes keringatnya yang telah banyak tertumpah dari pori-pori perjuangannya sebagai pelatih, hingga mampu menghasilkan serta melahirkan atlet-atlet E-Sports yang hari ini siap berlaga di PON XXI Aceh-Sumut tersebut.

Ibu Nina menceritakan, demi mencetak atlet E-Sports yang akan mengharumkan nama baik Provinsi Gorontalo dalam PON XXI, maka dirinya dari awal sudah bersedia berkorban dan mengabdikan diri menghabiskan waktu di luar rumah, serta siap menerima risiko yang kadang “berkonflik” dengan suami demi melatih para atlet E-Sports.

Bahkan tak jarang, Ibu Nina mengaku harus menggadaikan barang-barang berharganya demi mewujudkan cita-citanya yang ingin terus mendampingi dan menyaksikan anak-anak didiknya (para atlet E-Sports) agar dapat bertanding dan meraih sukses di kancah besar seperti PON XXI tersebut.

Namun kini, cita-cita Ibu Nina itu nyatanya hanya bagai embun pagi sejuk sesaat karena seketika pudar dan hilang diterpa oleh terik matahari.

Ibu Nina yang telah berhasil menghantarkan dan meloloskan atlet-atlet E-Sport dari pra PON hingga dinyatakan berhak diikutkan dalam PON XXI itu, mengaku sangat dirundung kesedihan yang mendalam.

Pasalnya, di detik-detik menjelang keberangkatan ke PON XXI Aceh-Sumut, Ibu Nina tak menyangka terseret dalam kondisi yang sama sekali ia tidak mengerti, seolah dipaksa untuk menelan pil yang sangat pahit. Yakni, yang semula berjuang sebagai pelatih dan berhasil memunculkan atlet-atlet, tiba-tiba digeser menjadi asisten pelatih, bahkan dengan waktu yang sangat singkat mendadak dinyatakan diberhentikan tanpa posisi apapun, hingga secara otomatis ia tidak diberi hak untuk bisa ikut mendampingi para atlet di PON XXI tersebut.

“Saya tidak tahu, kesalahan dan pelanggaran serius apa yang sudah saya lakukan. Demi Tuhan saya tidak mengerti seberat apakah kesalahan dan pelanggaran yang sudah saya perbuat, sampai-sampai saya harus diberhentikan dan dibuang begitu saja seperti sampah,” ujar Ibu Nina terisak-isak dengan mata yang berkaca-kaca karena tak mampu menahan kesedihannya.

Namun meski begitu, Ibu Nina mengaku akan berusaha ikhlas dengan adanya “perlakuan” kebijakan Pengprov ESI Gorontalo yang terkesan dan seolah memang ada gerakan yang ingin menyingkirkannya dari awal sebagai pelatih, hingga benar-benar terhempas keluar dari momen PON XXI ini.

“Saya merasa dizalimi, tapi saya berusaha untuk ikhlas. InsyaAllah di balik ini Tuhan menyiapkan sesuatu yang terbaik buat saya,” tutur Ibu Nina sambil memperlihatkan semacam Id Card miliknya sebagai pelatih, serta SK yang masih memuat namanya sebagai pelatih yang akan mengikuti PON XXI. Namun SK tersebut kini telah teranulir karena adanya SK baru yang tak lagi memunculkan namanya.

(dms-dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:

Muis Syam

549 views

Next Post

Jelang Idul Adha, Takmir Versi Roy Bumulo "Keroyok" Masjid Baiturrahim Dihadiri Pj Wali Kota Gorontalo

Ming Jun 16 , 2024
DM1.CO.ID, GORONTALO: Saat Badan Takmir Masjid (BTM) Baiturrahim periode Yusri Deu berakhir, pengelolaan masjid ini pun dititipkan kepada Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Pemerintah Kota Gorontalo, Arifin Mohamad selaku Pelaksana Tugas (Plt) Ketua BTM, pada 1 Maret 2024. Komentar anda :