Di Hadapan Komisi II Deprov Gorontalo, Kepala BPDAS-HL Tawarkan Solusi Banjir

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, GORONTALO: Kondisi iklim di Provinsi Gorontalo saat ini sudah cukup memprihatinkan. Di kala hujan mengguyur, langsung banjir. Begitu pun di saat musim kemarau, maka terjadi kekeringan. Dan hal ini tidak terlepas disebabkan oleh hutan yang mulai mengalami kerusakan.

Hal tersebut diuraikan oleh Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Bone Bolango Provinsi Gorontalo, M. Tahir P, SP, M.Si, di hadapan para anggota Komisi II DPRD Provinsi (Deprov) Gorontalo, yang melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke BPDAS-HL, Rabu pagi (29/7/2020).

Kepala BPDAS-HL Bone Bolango, M. Tahir, menyebut daerah yang mengalami tingkat keparahan hutan di Provinsi Gorontalo, yakni di sekitar Limboto dan Kabupaten Bone Bolango. Sehingga menurutnya sangat perlu untuk mendapat perhatian dari semua pihak.

Secara khusus, M. Tahir menyoroti kondisi di Kabupaten Bone Bolango. “Di dalam Bone Bolango itu kan ada Sungai Bone. Di kanan kiri sepanjang Sungai Bone itu terdapat pemukiman, yang seharusnya menurut aturan, (sungai) itu harus bebas dari permukiman,” katanya.

M. Tahir pun menawarkan pemecahan, agar Provinsi Gorontalo dapat kembali membaik sebelum persoalannya semakin sulit diatasi terkait kerusakan hutan yang dapat mengakibatkan banjir itu.

“Solusinya strateginya, kita harus menanam rehabilitasi hutan lahan di hulu. Itu jangka panjang. Dan untuk jangka menengah, kita harus membuat konservasi tanah dan air. Kita selama ini menyalahkan banjir, tidak pernah kita berpikir bagaimana caranya kita panen air,” jelas M. Tahir.

Dalam Kunker anggota Komisi II DPRD Provinsi  Gorontalo itu, M. Tahir juga mengungkapkan, bahwa pihak BPDAS-HL Provinsi Gorontalo setiap tahun menyiapkan satu juta benih yang terdiri dari berbagai jenis pohon, buah-buahan, dan juga tanaman bunga.

Olehnya itu M. Tahir mengajak anggota DPRD Provinsi Gorontalo serta masyarakat, agar dapat secara bersama-sama menyukseskan gerakan tanam 25 pohon setiap orang selama hidup. Sebab, menurut M. Tahir, gerakan itu adalah salah satu upaya signifikan dalam mencegah datangnya bencana banjir yang lebih parah di kemudian hari. (ams/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: