EKONOMIPOLITIKTerbaru

Reshuffle Kabinet III, Angin Segar bagi Perekonomian Indonesia

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, JAKARTA: Isu Reshuffle Kabinet kembali menyeruak, beberapa media nasional mengangkat masalah ini dengan Headline yang cukup besar. Adanya kabar beberapa menteri yang akan dicopot cukup dinantikan oleh masyarakat yang selama ini sudah putus harapan dengan kondisi bangsa ini yang makin tidak menentu, terutama di bidang ekonomi yang masih stagnan dan bahkan berjalan mundur.

Nama terkait yang terekspose adalah Sri Mulyani dan Darmin Nasution. Banyak analis yang berpendapat alasan dirombaknya kabinet dikarenakan kecewanya Presiden Jokowi terhadap kinerja dan prestasi para menterinya, terutama Menko Darmin Nasution dan Menkeu Sri Mulyani yang belum menunjukkan kinerja positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Belum adanya kebijakan-kebijakan yang efektif dan miskin inovasi membuat keduanya sangat layak untuk dicopot. Apalagi program Tax Amnesty yang digadang-gadangkan Sri Mulyani tidak mencapai target yang diharapkan.

Dan perlu diingat bahwa program Tax Amnesty ini adalah inisiatif dari mantan Menkeu Bambang Brodjonegoro, bukan dari gagasan atau ide Sri Mulyani. Sehingga kegagalan Tax amnesty ini diakibatkan kurangnya terobosan dan inovasi Sri  Mulyani dalam mengimplementasikan gagasan atau inisiatif mantan pendahulunya tersebut.

Kinerja Sri Mulyani yang cenderung teoritis dan miskin inovasi, serta hanya heboh soal-soal pajak serta reformasi pajak, nyaris tidak efektif. Belum lagi dengan adanya pemotongan APBN-P 2016 yang hampir 133,8 trilyun, membuat terjadinya kelesuan ekonomi di berbagai sektor. Daya beli masyarakat yang menurun serta terkatrolnya harga-harga kebutuhan pokok semakin menambah daftar kegagalan kinerja Sri Mulyani selama ini.

Setali tiga uang dengan Menko Darmin Nasution, semenjak dilantik hingga saat ini, kinerjanya tidak menunjukkan prestasi yang membanggakan. Sudah 14 paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan, namun belum mampu mendongkrak kemajuan ekonomi Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat dan cenderung jalan ditempat membuktikan kalau Darmin Nasution tidak mampu mengidentifikasi masalah-masalah pokok yang menghambat pertumbuhan ekonomi.

Kurangnya penguasaan permasalahan  di lapangan dan tidak mampunyai menggerakkan birokrasi di bawah koordinasi kementeriannya, membuat tidak terwujudnya target-target ekonomi yang diprioritaskan oleh Presiden Jokowi.

Dan yang terbaru adalah bagaimana Darmin Nasution tidak memahami tentang apa itu Revolusi Mental. Padahal Presiden Jokowi yang notabene adalah atasannya dari awal dilantik menjadi presiden sudah menjelaskan tentang apa itu Revolusi Mental, hal ini bisa dilihat pada laman kominfo.go.id.

Jadi tidak mengherankan jika perekonomian kita sulit tumbuh, dikarenakan bawahan yang tidak mengerti apa yang sudah ditugaskan oleh atasannya yaitu seorang Presiden. Bagaimana sekelas Menko Perekonomian bisa mewujudkan target jika ia sendiri masih bingung dengan landasan yang telah dicanangkan oleh Presiden?

Inilah yang menjadi pokok masalah masih stagnannya pertumbuhan ekonomi kita, di samping masih kurangnya pemahaman dan miskinnya terobosan Darmin Nasution sebagai Menko Perekonomian dalam tugas-tugas yang telah Presiden berikan.

Jadi kalau ada yang bilang Sri Mulyani nanti jadi dicopot oleh Presiden dikarenakan telah menekan para taipan dengan Tax Amnesty, itu adalah salah besar. Malah di era Sri Mulyani ini hubungannya dengan para taipan sangat harmonis dan tidak ada satupun kebijakannya yang merugikan pebisnis besar. Malah kebijakan Sri Mulyani yang ada justru kerap menyengsarakan rakyat. Tidak ada prestasi dan minim inovasi.

Jadi sudah sewajarnya jika nanti terjadi Reshuffle kabinet, Darmin Nasution dan Sri Mulyani masuk dalam daftar pertama yang harus dicopot dalam daftar reshuffle.

Karena sebagai ujung tombak kebijakan perekonomian Indonesia, mereka tidak mampu mewujudkan target-target yang diingini oleh Presiden Jokowi. Yang terjadi malah mereka terus-menerus membebani Presiden dengan kinerja yang buruk dan kebijakan yang salah arah.

Sudah saatnya Presiden Jokowi mengambil langkah yang bijak dalam reshuffle ini, yaitu dengan mencopot Darmin Nasution dan Sri Mulyani serta menggantinya dengan tokoh yang mengerti dan paham tentang bagaimana membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia maju serta yang kaya akan terobosan-terobosan di bidang ekonomi, dan yang lebih penting lagi adalah paham apa itu Revolusi Mental.

–sumber: kompasiana

(DM1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: