Tiket Pesawat Mahal, Penumpang Beralih “ke Era 90-an” Kapal Laut

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, JAKARTA: Akibat harga tiket pesawat yang terus mengalami kenaikan sejak akhir Desember 2018 hingga akhir Mei 2019 ini, membuat masyarakat yang ingin melakukan perjalanan jauh, terutama pada musim mudik lebaran ini terpaksa memilih jalur laut.

Bagai kembali ke tahun 1990-an, nampak penumpang di dalam dek, koridor, dan di burit Kapal Motor (KM) Gunung Dempo milik PT. Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), dipadati penumpang yang berdesak-desakan, melebihi hari-hari sebelumnya.

Perjalanan laut KM Gunung Dempo itu dilakukan pada 27-30 Mei 2019 dengan rute Sorong-Surabaya.

Para pemudik pada 2 dekade terakhir ini yang sudah terbiasa menggunakan pesawat udara, kali ini terpaksa memilih melakukan perjalanan via laut.

Meski harus mengeluh dengan ketidak-nyamanan karena harus berdesak-desakan, juga dengan kurang berfungsinya fasilitas umum di atas kapal, namun seolah tak jadi soal, selama harga tiket kapal terjangkau bagi mereka.

Penuh sesaknya penumpang KM Gunung Dempo tersebut, dibenarkan oleh pihak PT. Pelni, bahwa adanya penumpang yang duduk di koridor dan di burit kapal adalah karena larisnya tiket dispensasi.

Yahya Kuncoro selaku Kepala Kesekretariatan Perusahaan PT.Pelni menyatakan, pihaknya menjual tiket dispensasi karena terbatasnya armada kapal laut di saat lonjakan penumpang yang signifikan pada angkutan Lebaran 2019.

Tiket dispensasi, kata Yahya, dijual kepada penumpang yang bersedia untuk tidak duduk di bangku kapal laut.

Ia menjelaskan, dalam empat bulan terakhir terdapat peningkatan penumpang signifikan dari 852.255 menjadi 1.172.143 pelanggan, atau naik rata-rata 38 persen per-bulan dibanding sebelumnya.

“Kami menampung aspirasi masyarakat untuk tiket dispensasi. Penambahan tiket, karena keterbatasan armada kapal. Pelni belum mampu menambah armada,” kata Yahya dikutip dari siaran persnya, Ahad (2/6/2019).

Ia mengungkapkan, pada angkutan Lebaran 2019 ini, PT. PELNI mengoperasikan 26 kapal trayek nusantara dengan 83 pelabuhan singgah, melayani 1.239 ruas, dengan total kapasitas angkut menjadi 54.967 pax atau seat, sudah termasuk kapasitas toleransi yang telah disetujui Kemenhub.

Ia menyebutkan, tiket dispensasi tetap mengutamakan keselamatan, namun akan mengurangi kenyamanan pelanggan.

“Penumpang non-seat, akan menempati lorong-lorong dekat tangga dan ruang-ruang terbuka yang biasanya kosong di dekat masjid (musala), yang pada masa normal menjadi tempat bersantai,” ungkap Yahya.

Sejak sebelum Ramadan, lanjut Yahya, para calon pemudik telah diimbau untuk mengatur waktu bepergian sesuai ketersediaan tiket.

Ia mengungkapkan, realisasi data pemudik dari H-15 hingga H-5 penumpangnya naik 34 persen, pada tahun lalu 169.919 menjadi 226.996 pelanggan. (ist/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up