HARI INI :

PARTNER PEMERINTAH, KAWAN RAKYAT

Meneropong Elektabilitas Balon Bupati Gorontalo 2020-2025: Nelson “Berawan”, Rustam “Cerah”, Risjon “Kabur”

Bagikan dengan:

Oleh: Abdul Muis Syam

DM1.CO.ID, OPINI: Gong Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Gorontalo telah ditabuh, ditandai dengan diluncurkannya tahapan Pilkada oleh KPU setempat, pada Sabtu (2/11/2019), di Taman Budaya Limboto.

Sayangnya, hingga saat ini suara gong itu tak “sekekar” tubuh Nelson Pomalingo, dan tak “selincah” mulut Rustam Akili, serta tidak “sebanyak” baliho Risjon Sunge.

Artinya, ketiga nama Balon (Bakal Calon) Bupati Gorontalo itulah yang hingga kini lebih intens melakukan pola-pola pendekatan agar sukses mendapat simpatik masyakarat, dengan harapan mampu menjadi Cabup (Calon Bupati) Gorontalo pada Pilkada 2020 mendatang.

Sebagai pihak penyelenggara Pilkada, KPU Kabupaten Gorontalo pun tentunya amat diharapkan bisa intens menunaikan seluruh tugas dan tanggung-jawabnya, terutama memastikan tahapan dapat berjalan lancar meski dalam kondisi “cuaca” apapun.

Artinya, KPU Kabupaten Gorontalo harus bisa benar-benar bekerja normatif secara objektif, transparan, dan independen meski mungkin harus mendapat “intervensi” atau tekanan dari pihak-pihak lain.

Sebab, ketiga nama Balon Bupati Gorontalo tersebut adalah orang-orang yang “hebat berakrobat” dan bertarung dalam kondisi apapun, terlebih ketiganya diketahui kini juga telah mendaftarkan diri ke berbagai partai politik yang “hebat” pula. Olehnya itu, pihak KPU Kabupaten Gorontalo pun hendaknya bisa memperlihatkan “nyali” yang lebih hebat lagi, –Sukseskan Pilkada, dan jangan mau “terkontaminasi”!

Lalu sebesar apakah kehebatan ketiga Balon Bupati Gorontalo yang saat ini mulai nyaring diperbincangkan di berbagai kalangan?

Artikel ini bukanlah hasil kajian dari lembaga survei manapun. Juga bukan hasil diagnosis dengan melibatkan alat-alat atau fasilitas ukur tertentu. Artikel ini sebagian hanyalah sebatas hipotesis dari hasil peneropongan sebagai seorang jurnalis yang kerap bersentuhan dengan sejumlah lapisan akar-rumput.

Dan kita mulai dari Nelson Pomalingo. Bahwa sebagai petahana, Nelson di atas kertas bisa dipastikan sudah mengantongi suara jauh lebih banyak dibanding seluruh balon yang ada, seperti Rustam Akili, Risjon Sunge, Salahudin Pakaya, Tony Muhammad, dan Dadang Hemeto.

Sebab hampir lima tahun ini, Nelson dalam menjalankan roda pemerintahannya sebagai Bupati Gorontalo dianggap lancar tanpa kendala signifikan, yang juga meski setahun terakhir ini Nelson tak lagi didampingi oleh seorang wakil bupati, namum ia dinilai jauh dari sikap koruptif.

Hanya saja, Nelson dianggap terlalu “kecil” dalam hal terobosan. Sehingga menurut banyak kalangan, Nelson yang berpredikat profesor itu seharusnya mampu memunculkan “produk” pembangunan yang baru dan fenomenal sebagai tanda gebrakan dan terobosan, minimal memperlihatkan inovasi “barang” baru dalam bidang tertentu yang tak pernah dilakukan oleh para pendahulunya.

Yang diperlihatkan oleh Nelson sejauh ini sebagai bupati, boleh dikata sangat nampak adalah pekerjaan-pekerjaan yang juga bisa dan umumnya mudah dilakukan oleh kepala-kepala daerah lainnya, yakni lebih banyak kegiatan serial yang berbau seremoni, kunjungan atau perjalanan dinas. Kalaupun ada sesuatu yang baru, maka itu masihlah jauh dari kata dahsyat.

Sehingga, untuk mengukur elektabilitas Nelson Pomalingo jelang Pilkada Kabupaten Gorontalo ini, boleh dikata terbilang masih diselimuti “awan”. Artinya, pilihan masyarakat Kabupaten Gorontalo di lapangan terhadap sosok Nelson Pomalingo, saat ini masih berada pada ruang antitesis, yakni menggantung “antara ya atau tidak”.

Selanjutnya, Rustam Akili. Untuk meneropong elektabilitas sosok yang juga pernah dua periode memperjuangkan suara-suara rakyat Kabupaten Gorontalo melalui kursi sebagai anggota maupun selaku ketua di DPRD Provinsi Gorontalo ini, tentu sudah dapat disebut sebagai seorang “pendekar”.

Meski sudah dua kali pula takluk dalam Pilkada (sebagai cawabup dan cabup) di daerah yang sama, namun begitulah watak seorang “pendekar”, selalu ingin bertarung dalam kondisi apapun, meski harus meninggalkan “perguruan beladiri” yang menempanya lalu masuk ke “perguruan beladiri” lainnya demi mendapat tiket untuk bertarung kembali.

Saat menerima kekalahan di ruang pertandingan pun, seorang pendekar tentu selalu menonjol dan senantiasa menjadi pusat perhatian. Dan Rustam Akili nampaknya selalu mampu menempatkan diri sebagai orang yang tak terlepas dari perhatian publik. Sehingga popularitasnya dapat selalu terjaga.

Popularitas memang berbeda dengan elektabilitas. Namun popularitas menjadi modal awal. Karena memang dalam bidang politik, popularitas seorang figur merupakan hal yang amat penting dalam menumbuhkan elektabilitas. Dan elektabilitas seorang figur hanya bisa berkembang (dipastikan) meningkat apabila dapat ditunjang oleh “kekuatan” partai yang memiliki kharisma sekaligus “aset yang super”.

Dan Rustam Akili yang kini maju dengan warna atribut partai politik “biru” berpadu “kuning” itu, diprediksi mampu memiliki elektabilitas yang lebih tinggi dibanding seluruh Balon Bupati Gorontalo yang ada.

Prediksi ini menjadi sangat kuat, yakni di saat diketahui bahwa ada “strategi” yang sedang berhasil dipertunjukkan oleh Rustam Akili, yakni dengan “menggandeng” sosok Rahmat Gobel dan David Bobihoe Akib untuk mendukung perjuangan sang pendekar.

Dan dari bisik-bisik yang terdengar, Rahmat Gobel bersama sejumlah tokoh-tokoh penting di lingkaran internal partai politik, akan all-out mengerahkan sumber-sumber kekuatan untuk memenangkan Rustam Akili dalam Pilkada Kabupaten Gorontalo 2020.

Olehnya itu, Rustam Akili untuk sementara saat ini ditempatkan sebagai sosok Balon Bupati Gorontalo yang akan lebih mudah mendulang suara terbanyak nantinya. Artinya, langkah Rustam Akili pada tahap demi tahap sangat nampak akan “cerah” dan lebih mulus hingga ke garis finish.

Bagaimana dengan Risjon Sunge? Sepertinya, sosok birokrat yang satu ini hanya lebih layak disebut Kuda Hitam, jika tak ingin disebut “penggembira”. Mengapa?

Sesuai hasil peneropongan di sejumlah lapisan di masyarakat, figur yang pernah menjadi “anak kesayangan” dari seorang mantan Bupati di Gorontalo Utara (Gorut) ini, belum pernah teruji sebagai sosok yang memiliki elektabilitas tinggi. Saat maju sebagai Calon Wakil Bupati di kandangnya saja, di Gorut, pasangan Idrus Thomas Mopili dan Risjon Sunge kalah telak dari para rivalnya.

Meski tulisan ini adalah merupakan artikel opini, namun saya tidak mencoba untuk berspekulasi, apalagi merekayasa tentang siapa sebenarnya sosok Risjon Sunge.

Jauh sebelum menjadi pejabat seperti saat ini, Risjon Sunge sudah sangat saya kenali. Selain pernah amat aktif satu meja domino hingga semalam suntuk, Risjon juga pernah satu “band” amatiran membangunkan warga untuk sahur di bulan puasa saat di Makassar.

Saat itu, Risjon memang sedang menjalani studi S1, serta lanjut ke program S2. Dan hampir hari-hari kosong yang dilaluinya, selalu saya isi dengan kegiatan apa saja, mulai dari berdebat, hingga mengail ikan di rawa-rawa di kala usai hujan.

Izin pulang ke kampung halaman (Gorontalo) atau saat menjalani benchmarking di Singapura pada program magisternya, adalah waktu di mana batang hidungnya tak bisa saya lihat.

Dan memang Risjon termasuk orang yang saya anggap cerdas dan berani. Sampai-sampai ia menjuluki dirinya sebagai seorang Napoleon Boneparte, juga menggelari diri dengan nama “Wiro”.

Dan satu lagi, Risjon adalah sosok yang juga sempat pernah menjadi wartawan di koran milik saya di Makassar, sekitar 1998. Dan saya sempat “membimbingnya” bagaimana menjadi seorang jurnalis yang punya prinsip dengan nilai-nilai profesional yang tinggi.

Hingga kedekatan itupun membuat darah Risjon Sunge juga kini mengalir di dalam tubuh putra-putri saya saat ini.

Entah apa yang membuat kami saat ini harus mengarungi laut di kapal yang berbeda, hingga sangat lama rasanya tak lagi saling sapa apalagi saling bersua.

Sampai saat ini, pertanyaan itu sangat sulit kurangkai dalam benak. Untuk meneropong pun keadaannya sudah sangat sulit, hingga saya pun memutuskan untuk lebih memilih berdiam di atas tarian-tarian yang tak berjudul.

Dan kini dinamika hidup terus terjadi dan bergulir hingga ke titik di hari ini (Selasa, 26 November 2019) atau bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Gorontalo yang ke-346, kabar Risjon Sunge maju ke Pilkada pun tersampaikan dari mulut orang lain.

Kabar itu terbukti ketika baliho-baliho Risjon telah terlihat tertancap di berbagai penjuru Kabupaten Gorontalo, daerah di mana Risjon pernah menjabat sebagai salah satu Kepala Sub Bagian di Bappeda Kabupaten Gorontalo.

Jujur, saya sangat mengharapkan karir Risjon bisa mencapai puncak, tapi bukan sebagai Bupati di Kabupaten Gorontalo. Karena ia nampaknya lebih punya potensi untuk menjadi seorang gubernur, minimal seorang sekretaris daerah (Sekda) di tingkat provinsi. Sehingga saya khawatir, majunya Risjon Sunge ke Pilkada saat ini boleh jadi hanyalah jebakan agar bisa jatuh dari pendakian karir di birokrat yang telah hampir memuncak. Tapi itulah Risjon, ia memang lebih senang dengan tantangan, dan sulit membendung “nafsunya” jika telah membakar di ubun-ubun. Jadi taduwolo saudara…!!!

Namun, tak ada salahnya hasil penoropongan tercurah di tulisan ini, bahwa elektabilitas Risjon Sunge masih sangat “kabur” terlihat. Yakni, hati masyarakat Kabupaten Gorontalo saat ini masih dimiliki lebih banyak oleh Nelson Pomalingo, Rustam Akili, dan bahkan Dadang Hemeto, serta dr. Tony Muhammad.

Meneropong karir sebagai birokrat masih sangat lebih memperlihatkan cuaca yang amat cerah buat Risjon Sunge, dibanding harus memaksakan diri maju bertarung untuk memperebutkan jabatan di medan politik. Namun jika itu sudah menjadi pilihan “terakhir dan terbaik” tanpa desakan dan tekanan atau pengaruh dari pihak-pihak lain, maka sekali lagi “Taduwolo” saudara!!!

Tetapi, sebagai seorang jurnalis sekaligus selaku saudara, saya tentu akan hanya bisa membantu memperlihatkan kejujuran, bahwa kondisi medan pertarungan di Pilkada Kabupaten Gorontalo saat ini jauh lebih rumit dari yang pernah terjadi di Kabupaten Gorut. Dan kondisi itu telah diteropong dan “dikunci” di atas Menara Keagungan. Dirgahayu Kabupaten Gorontalo yang ke-346.

—–
(Penulis adalah Ketua DPD Serikat Pers Republik Indonesia/SPRI Provinsi Gorontalo)

Bagikan dengan:
  • 12856
  • 14483
  • 13710