DESA MEMBANGUNDM 1 BTerbaruUNIK

Kecamatan Asparaga Punya 5 Inovasi Desa yang Unik di 2018, Yuk Simak!

Bagikan dengan:
Wartawan: Kisman Abubakar~ Editor: Avi|

DM1.CO.ID, GORONTALO: Dengan luas wilayah 1.750,83 kilometer, saat ini Kabupaten Gorontalo memiliki 19 kecamatan yang ditempati oleh 355.988 penduduk yang masing-masing tersebar di 12 kelurahan dan 157 desa.

Sebelum dimekarkan pada tahun 1999, Kabupaten Gorontalo yang dibentuk pada tanggal 26 November 1673 ini mempunyai 18 kecamatan. Namun setelah melalui proses pemekaran hingga tahun 2011, jumlah kecamatan di Kabupaten Gorontalo menjadi 19 kecamatan yakni Asparaga, Dungaliyo, Batudaa, Batudaa Pantai, Bilato, Biluhu, Boliyohuto, Bongomeme, Limboto, Limboto Barat, Mootilango, Pulubala, Tabongo, Telaga, Telaga Biru, Telaga Jaya, Tibawa, Tilango, dan Tolangohula.

Dari 19 kecamatan tersebut, Kecamatan Asparaga yang berada di pelosok Kabupaten Gorontalo berbatasan dengan Kabupaten Boalemo, menjadi satu-satunya kecamatan yang menyimpan banyak inovasi desa di dalamnya. Dimana, inovasi desa tersebut dinilai mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

Berikut 5 inovasi desa di Kecamatan Asparaga yang berhasil dirangkum oleh kru DM1:

  1. Desa Prima – Kegiatan Budi Daya Jamur Tiram Putih

Budidaya Jamur Tiram Putih yang dikembangkan oleh masyarakat kelompok tani yang ada di Desa Prima, Kecamatan Asparaga saat ini telah menjadi ikon Desa Prima.

Berbagai prestasi di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan nasional pun berhasil diraih oleh Pemerintah Desa Prima melalui budidaya Jamur Tiram Putih.

Pada tahun 2017, Desa Prima memperoleh peringkat 1 dalam lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat kabupaten. Kemudian di tingkat provinsi, Desa Prima juga memperoleh peringkat 1 untuk kategori “Produk”. Hingga akhirnya, Desa Prima hadir pada pameran dan lomba TTG tingkat Nasional ke-19, yang dilaksanakan di Sulawesi Tengah.

Tidak hanya itu, di tahun 2018 ini, Desa Prima kembali mengikuti  lomba tingkat Nasional sebagai Wakil Provinsi Gorontalo pada lomba kuliner dengan menu berbahan dasar jamur. Diantaranya sate jamur, abon jamur dan aneka menu tradisional Gorontalo lainnya.

Adapun dilakukannya budidaya jamur ini sebagai bentuk upaya pemanfaatan limbah pertanian berupa tongkol jagung, dimana tongkol jagung yang selama ini menjadi limbah dan mencemari lingkungan, dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Prima sebagai bahan dasar media tanam Jamur Tiram Putih. 

Menurut Arianto Luma selaku pendamping desa sekaligus inovator dan pencetus budidaya Jamur Tiram Putih, “Saat ini budidaya jamur menjadi salah satu alternatif usaha masyarakat Desa Prima yang mayoritasnya petani, selain komoditas pertanian lainnya”.

  1. Desa Prima – Kegiatan Pengembangan PAUD Holistik Intergratif

Sejalan dengan kebijakan pemerintah tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan pendidikan dan kesehatan. Maka, pengembangan kualitas Sumber daya Manusia (SDM) di tahun 2018, menjadi salah satu kegiatan prioritas pemerintah Desa Prima.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Holistik Integratif sebagai model pengelolaan dan pengembangan pendidikan dan kesehatan yang terintegrasi, saat ini sedang dikelola dan dilaksanakan secara bersamaan dengan Pos Pelayanan Kesehatan Terpadu (Posyandu) dalam satu gedung.

Diselenggarakan berdasarkan kerjasama antara Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Prima, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Asparaga, serta Pusat Kesehatan Masyarakat Asparaga.

Pada kegiatan PAUD tidak hanya dilakukan pembinaan dan pengembangan aspek intelektual, akan tetapi aspek emosional dan spiritual melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan metode yang menyenangkan dan menarik bagi anak didik.

Sementara untuk Posyandu, tidak hanya disediakan bagi bayi dengan rentan umur di Bawah Lima Tahun (Balita) saja, tetapi juga untuk remaja dan Lanjut Usia (Lansia).

Pada remaja dilakukan penyuluhan bahaya HIV/AIDS dan narkoba, serta hal-hal lain yang bersinggungan dengan tumbuh kembang remaja. Sedangkan untuk Lansia, dilakukan pemantauan perkembangan kesehatan serta penyuluhan tentang makanan-makanan yang dibutuhkan oleh Lansia dalam menjaga kesehatannya.

Di samping itu, pada Posyandu ini juga dilakukan pelayanan dan pemantauan kesehatan kerja bagi pengrajin mebel yang juga banyak terdapat di Desa Prima.

  1. Desa Olimohulo – BUMDes RAKSASA

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang sudah berdiri sejak tahun 2017 di Desa Olimohulo, dengan modal awal kurang lebih Rp. 50 juta, kini mulai menunjukkan banyak kemajuan.

Sebagai contoh bisnis Warung Serba Ada (Waserda), yang sejak dirintis pertama kali terus memperlihatkan perkembangan yang pesat.

Bahkan dari penghasilan Waserda tersebut, Desriyanti Abdul selaku Direktur BUMDes Raksasa ini, sudah mampu membeli aset berupa satu set alat hiburan elekton, yang kemudian disewakan di seputaran Asparaga hingga ke luar wilayah Kabupaten Gorontalo.

Melihat kemajuan tersebut, di tahun 2018 Pemerintah Desa Olimohulo memberikan tambahan modal kurang lebih Rp. 75 juta.

Kemudian di tahun 2019 direncanakan akan dialokasikan anggaran untuk tambahan modal BUMDes sebesar kurang lebih Rp. 200 juta.

“Hal ini dimaksudkan agar BUMDes bisa lebih mengembangkan usaha, guna meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD), yang menjadi salah satu sumber pembiayaan pembangunan desa di tahun-tahun mendatang,” ungkap Mohamad K. Latif selaku Kepala Desa Olimohulo.

  1. Desa Bihe – Pengembangan Wisata Alam Botu Kapali

Salah satu potensi yang dimiliki oleh Desa Bihe adalah Wisata Alam Botu Kapali (Batu Kapal), akan tetapi selama ini wisata alam tersebut belum terekspos secara maksimal, baik oleh pemerintah desa maupun masyarakat.

Kendati demikian, Pemuda Karang Taruna Bihe yang dipimpin oleh Parmin Bilo, terus berupaya melakukan kegiatan-kegiatan kreatif untuk pengembangan dan promosi Botu Kapali.

Sehingga diharapkan akan dapat dikunjungi oleh wisatawan lokal Asparaga, atau jika perlu wisatawan dari luar daerah. Yang nantinya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

  1. Desa Bontula – Pengembangan Wisata Alam Air Terjun

Wisata Alam Air terjun merupakan salah satu potensi yang dimiliki oleh Desa Bontula.

Akan tetapi, sama halnya dengan Botu Kapali di Desa Bihe, selama ini Air Terjun Desa Bontula belum diekspos secara maksimal oleh pemerintah desa ataupun masyarakat setempat.

Sehingga, oleh Ketua Karang Taruna Bihe, Herman Dama bersama kawan-kawan mengambil langkah kreatif dengan melakukan kegiatan pengembangan dan promosi Wisata Alam Air Terjun Bihe, guna menarik minat wisatawan lokal maupun wisatawan luar daerah.

Yang diharapkan, semakin banyak pengunjung semakin meningkat pula kesejahteraan ekonomi masyarakat. Karena jika banyak pengunjung, masyarakat pun bisa mencari peluang usaha dari Wisata Alam Air Terjun tersebut. (kab/avi/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: