Silaturahmi Persiapan Musda, Marten Taha: Yang Menang Jangan Merasa Sombong…

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, GORONTALO: Lama tak saling berkumpul dan berdiskusi, Partai Golkar Kota Gorontalo akhirnya menggelar acara silaturahmi, di pelataran belakang rumah pribadi Wali Kota Gorontalo, Marten Taha, pada Senin malam (7/9/2020).

Acara yang dihadiri oleh sejumlah pengurus DPD I Partai Golkar Kota Gorontalo, di antaranya H. Erwin Rauf, Hardi Sidiki, Irwan Hunawa, beserta ketua-ketua tingkat kecamatan (PK) dan kelurahan-kelurahan (PL) itu, salah satunya adalah membahas rencana Musda Partai Golkar Kota Gorontalo.

Marten Taha selaku Wali Kota Gorontalo yang juga sebagai Ketua DPD II Kota Gorontalo mengatakan, kegiatan ini adalah silaturahim, sekaligus momen pencerahan informasi terkait persiapan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Gorontalo.

Marten menyebutkan, sedianya Musda sudah harus diselenggarakan pada 29 Agustus 2020, tetapi karena suatu dan lain hal, terutama menyangkut kehati-hatian yang ditekankan oleh Rusli Habibie selaku Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Gorontalo terhadap bahaya Covid19, sehingga pelaksanaannya pun ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

“Pada tanggal 26 Agustus 2020, kita menerima surat dari DPD I Partai Golkar Provinsi Gorontalo, untuk meminta pelaksanaan Musda kedua daerah yakni Kota dan Kabupaten Gorontalo agar diundur waktunya, dengan ketentuan akan diberitahukan kemudian,” ungkap Marten.

Dijelaskannya, dari seluruh proses pelaksanaannya, Musda ke-10 ini sebenarnya sudah siap 95 persen. “Persiapan pra-Musda dalam hal penyiapan berbagai materi, peralatan dari berbagai sarana prasarana fasilitas Musda, itu sudah disiapkan hampir seluruhnya,” beber Marten.

Pada kesempatan itu, Marten Taha mengingatkan betapa pentingnya menyiapkan kader-kader partai untuk dapat dijadikan sebagai kepala daerah.

“Dalam momentum-momentum politik, kita sudah harus siap dari awal kader-kader yang akan menduduki jabatan-jabatan penting, baik legislatif maupun eksekutif,” ujar Marten.

Sebab, menurut Marten, jumlah kursi sebuah partai yang banyak di DPRD tidak serta-merta membuat partai itu otomatis menempatkan kadernya sebagai calon kepala daerah, apalagi sebagai jaminan untuk memenangkan Pilkada.

Di sejumlah daerah, kata Marten, kursi Golkar yang banyak di DPRD tidak menjadikan kader Golkar sebagai calon kepala daerah. “Dan itu harus menjadi pelajaran penting bagi kita semua, agar kita harus bisa jauh-jauh hari menyiapkan kader,” katanya.

Kondisi itu berbeda dengan yang terjadi di Kota Gorontalo. Yakni, selama dua periode sebagai Wali Kota, Marten Taha mampu maju bertarung dan berhasil memenangkan Pilkada dengan pasangan yang juga berasal dari Partai Golkar.

Olehnya itu, mengingat tak bisa lagi kembali maju pada periode ketiga sebagai Wali Kota Gorontalo, membuat Marten Taha mengaku sangat fokus untuk sedini mungkin mempersiapkan kader-kader Partai Golkar lainnya, agar bisa melanjutkan kejayaan Golkar di Kota Gorontalo untuk kepentingan rakyat.

Ia pun meminta agar para kader bisa lebih meningkatkan perjuangan demi membesarkan Partai Golkar. “Bagaimana supaya partai ini bisa berkontribusi untuk kepentingan rakyat. Kalau partai mau berkontribusi untuk kepentingan rakyat, berarti partai itu harus bisa memegang kekuasaan,” katanya.

“Kalau Partai Golkar di luar kekuasaan, maka sulit bagi kita memosisikan diri untuk berbuat yang lebih baik untuk kepentingan rakyat. Karena pasti, siapa yang berkuasa, maka dia yang lebih banyak berbuat untuk kepentingan rakyat. Olehnya itu, Partai Golkar harus merebut kekuasaan,” sambung Marten.

Tapi kekuasaan itu, menurut Marten, bukan untuk digunakan semena-mena dalam mencari kekayaan dan membesarkan partai. “Kekuasaan itu adalah demi dan untuk kepentingan rakyat,” tegasnya.

Terkait dengan rencana pelaksanaan Musda ke-10 Partai Golkar Kota Gorontalo, Marten Taha pun berharap agar kebersamaan tetap dijaga. “Pak ketua DPD I minta dalam pelaksanaan Musda ini kita jangan gontok-gontokan, jangan tarik-menarik,” ungkapnya.

Marten menyebutkan, bahwa semua kader yang punya kepedulian terhadap partai ini, pasti akan berpikir dan bertindak demi kebersamaan dan kebesaran partai. “Pasti dia akan menanggalkan kepentingan pribadinya,” lontar Marten.

Di penghujung sambutannya, Marten Taha berpesan, andai terjadi perselisihan dan pertengkaran dalam perebutan posisi di hajatan Musda, maka hendaknya diakhiri dengan saling mengikhlaskan.

“Yang menang tidak merasa sombong, yang kalah juga tidak merasa dikecewakan. Yang tidak didukung juga tidak merasa ditinggalkan, dan yang didukung pun tidak merasa disanjung,” pungkas Marten Taha disambut tepuk tangan riuh dari seluruh kader dalam acara silaturahmi tersebut. (ams/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: