BREAKING NEWS
| Terkait Dugaan Korupsi GORR, Kejati Gorontalo Dalami Keterlibatan Gubernur Rusli? | Geger, Sejumlah WNI Tionghoa Sekap dan Aniaya Anggota TNI-AU di Medan | Mengaku Tobat, Sejumlah Kelompok Relawan Jokowi Bertekad Menangkan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 | Bendera “Agustusan” Dicopot Pengelola Apartemen Kalibata City, Warga Protes | Rakernas GSI, Ratna Sarumpaet: Kita Harus Jadi Provokator Terbaik untuk Perubahan

Rizal Ramli Jelas Membela Petani, Nasdem Membela Siapa?

Bagikan dengan:
Oleh: Abdul Muis Syam (AMS)*

PENJELASAN Dr. Rizal Ramli pada acara “Indonesia Business Forum” yang disiarkan TV-One, Kamis (6/9/2018), dengan tema: “Dolar Tembus Rp.15.000, Awas Krismon”, tampaknya benar-benar membuat Partai Nasional Demokrat (Nasdem) jadi “kebakaran jenggot”.

Setelah melayangkan somasi, DPP Nasdem secara resmi akhirnya nekat melaporkan Rizal Ramli dengan tuduhan penghinaan dan fitnah terhadap Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem.

Betulkah Rizal Ramli telah melakukan penghinaan dan fitnah terhadap Surya Paloh?

Secara saksama bisa kembali dicermati pernyataan Rizal Ramli, yakni:

Sebetulnya biang keroknya ini menteri perdagangan saudara Enggar, ya, misalnya impor dari garam dia lebihkan 1,5 juta ton, petani garam marah. Yang kedua, impor gula dia tambahkan 2 juta ton, impor beras dia tambahin 1 juta ton, termasuk yang Faisal katakan tadi soal ban.

Jadi biang keroknya sebetulnya saudara Enggar, ya, cuma Presiden Jokowi gak berani negur, takut sama Surya Paloh, ya. Saya katakan Pak Jokowi panggil saya saja biar saya yang tekan Surya Paloh, karena (kelakuan impor) ini brengsek. Impor naik tinggi sekali, petani itu dirugikan, petambak dirugikan dan akibatnya elektabilitas Pak Jokowi juga merosot digerogoti mereka ini, pada main dari komisi, dari importir yang sedemikian besarnya”.

Jika ditelaah kalimat di atas (pernyataan Rizal Ramli tersebut), maka dapat ditemukan substasi masalahnya adalah tentang impor yang dinilai sangat ugal-ugalan yang dilakukan oleh Menteri Perdagangan.

Sebagai mantan Kepala Bulog dan Menko Perekonomian, Rizal Ramli tentu sangat paham betul tentang “bahaya” impor yang dilakukan secara ugal-ugalan.

Dan  Rizal Ramli menyebut bahwa biang keroknya adalah Menteri Perdagangan saudara Enggar, bukan Surya Paloh, dan bukan pula Nasdem.

Bisa dipastikan, Rizal Ramli harus melontarkan pernyataan seperti itu karena semata ingin membela nasib petani, dan juga sebagai solusi terhadap masalah ekonomi dalam negeri yang kian memprihatinkan.

Lalu di mana letak fitnah dan penghinaannya?

Nampaknya, DPP Nasdem hanya menerjemahkan pernyataan tersebut dengan menggunakan kata “seolah-olah”.

Dilansir Tempo, Ketua DPP NasDem Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pernyataan Rizal itu memberi kesan bahwa seolah-olah Surya Paloh berada di belakang kebijakan impor serta mengatur-atur dan “bermain” dalam impor yang dilakukan pemerintah.

Ungkapan Syahrul Yasin Limpo tersebut sangat jelas hanya mengandalkan perasaan, yakni dengan melibatkan kata “memberi kesan dan seolah-olah”. Perasaan inilah yang dijadikan ukuran bahwa Rizal Ramli telah melakukan fitnah dan penghinaan.

Sebetulnya yang merasa difitnah dan dihina itu siapa? Surya Paloh atau Enggar?

Pertanyaan ini harus dan perlu dijawab oleh Nasdem dengan memperhatikan ungkapan Rizal Ramli yang menyebutkan, bahwa sebetulnya biang keroknya ini menteri perdagangan saudara Enggar.

Kalau keduanya (Surya Paloh dan Enggar) yang merasa difitnah dan dihina, maka seharusnya Surya Paloh dan Enggar lah yang melakukan somasi atau melaporkan Rizal Ramli ke polisi, bukan malah Nasdem yang harus “kebakaran jenggot”!

Atau apakah karena mentang-mentang keduanya (Surya Paloh dan Enggar) adalah elit yang berasal dari Nasdem, sehingga harus mengerahkan “pasukan” yang bernama Partai Nasdem untuk “menggempur” seseorang yang jelas-jelas membela nasib petani?

Entahlah! Yang jelas, Partai Nasdem pada konteks ini telah mempertontonkan sebuah reaksi kalap, dan seolah memamerkan sebuah arogansi serta egoistis yang sangat berlebihan. Sangat terkesan, bahwa apapun dan siapapun yang berani menyinggung elit Nasdem, salah atau benar, hantam!

Jika memang Nasdem hanya lebih cenderung membela elit-elitnya tanpa mau tahu dengan esensi masalahnya, maka itu mengindikasikan bahwa Nasdem tak layak diandalkan sebagai parpol pembela nasib rakyat, khususnya petani.

Terlebih hari ini, Nasdem sepertinya dengan jelas-jelas hanya memperlihatkan keberpihakannya kepada kepentingan kelompoknya saja, yakni dengan berusaha “membunuh” Rizal Ramli sebagai sosok pembela petani yang memberi solusi terhadap masalah ekonomi yang sedang melilit bangsa ini.

Lalu apakah Rizal Ramli akan ketakutan dan menyerah di hadapan Nasdem? Dapat dipastikan jawabannya adalah “Tidak”.

Dengan dilaporkannya ke polisi, Rizal Ramli saat ini tentu seolah kembali hidup di era Orde Baru. Di mana ketika itu ia pernah dijebloskan ke penjara oleh rezim Soeharto karena bersuara lantang memperjuangkan hak-hak dan kepentingan rakyat, termasuk hak berdemokrasi.

Rizal Ramli juga dipastikan tidak akan minta maaf. Karena apa yang diungkapkannya dalam telewicara pada sebuah acara di TV-One itu adalah sangat diyakini sebagai sebuah pembelaan terhadap petani, sekaligus sebagai tawaran solusi untuk memperkuat kinerja pemerintahan dalam mengelola ekonomi negeri ini.

Rizal Ramli adalah sosok pejuang dan juga tokoh pergerakan perubahan di negeri ini yang sangat konsekuen. Sejak dulu, di dalam maupun di luar pemerintahan, ia memang tak pernah ingin diam jika mencium dan melihat sebuah kesalahan yang dapat merusak negeri ini.

Rizal Ramli bukan tipe tokoh pergerakan yang cengeng. Juga bukan tipe sosok pejuang yang planga-plongo, atau plintat-plintut. Sejak dulu, perjuangan dan garis keberpihakannya sangat jelas kepada kepentingan bangsa dan negara ini. Buktinya, sampai detik ini Rizal Ramli terus berjuang tanpa harus berlindung di bawah “ketiak” salah satu parpol. Artinya, Rizal berjuang benar-benar murni untuk rakyat Indonesia, tidak membawa-bawa nama sebuah parpol.

Nah, di saat Rizal Ramli benar-benar murni berjuang dan membela kepentingan rakyat, lalu dalam konteks ini Nasdem membela siapa?

—–

*Penulis adalah pengamat politik independen, salah satu Presidium Gerakan Selamatkan Indonesia (GSI)
Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up