BREAKING NEWS
| Terkait Dugaan Korupsi GORR, Kejati Gorontalo Dalami Keterlibatan Gubernur Rusli? | Geger, Sejumlah WNI Tionghoa Sekap dan Aniaya Anggota TNI-AU di Medan | Mengaku Tobat, Sejumlah Kelompok Relawan Jokowi Bertekad Menangkan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 | Bendera “Agustusan” Dicopot Pengelola Apartemen Kalibata City, Warga Protes | Rakernas GSI, Ratna Sarumpaet: Kita Harus Jadi Provokator Terbaik untuk Perubahan

Risman Taha: Hari Patriotik, Jauhkan Warna-warni Perbedaan

Bagikan dengan:

DM 1.CO.ID GORONTALO: Sekitar Jumat subuh, tanggal 23 Januari 1942, pasukan Nani Wartabone dengan rakyat dari Suwawa beserta wilayah yang di laluinya, tiba di Kota Gorontalo. Pasukan ini mengepung dan berhasil menguasai Tangsi (asrama) polisi.

“Markas dan tangsi polisi telah dikuasai oleh pemuda dan rakyat. Sebaiknya Tuan menyerah saja,” lontar Nani Wartabone di hadapan seorang kepala polisi Belanda.

Kepala polisi itu sempat ingin melakukan perlawanan dengan mencabut pistolnya, tetapi bedil Nani Wartabone telah lebih dulu terhunus ke perut kepala polisi Belanda tersebut, lalu disusul dengan sergapan pasukan Nani Wartabone yang sigap merampas pistol dan melekatkan pedang, pisau dan keris ke tubuh orang belanda itu.

Dan singkat cerita, seusai berhasil menaklukkan seluruh titik-titik strategis dan pasukan Belanda, Nani Wartabone pun memimpin rakyat untuk menurunkan bendera Belanda (merah -putih- biru), lalu menggantikannya dengan bendera Indonesia, merah putih. Yang mula-mula diturunkan adalah bendera di depan kantor pos, kain warna biru disobek, lalu sisanya merah putih dinaikan kembali.

Dan di saat itulah, Nani Wartabone pun memproklamirkan Kemerdekaan dengan menyatakan Indonesia bebas dari belenggu tangan penjajah untuk pertama kalinya di Gorontalo, yakni pada Jumat 23 Januari 1942.

Begitulah sepenggal sejarah perjuangan merebut kemerdekaan yang dilakoni oleh Nani Wartabone, yang kini telah dinobatkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional asal Gorontalo.

Dan kini, setiap tanggal 23 Januari, masyarakat Provinsi Gorontalo menjadikannya sebagai hari Patriotik sekaligus hari mengenang perjuangan perlawanan Pahlawan Nani Wartabone.

“Khusus pada tahun ini, kita memperingati hari Patriotik ini dengan berbagai kegiatan yang diawali dengan Napaktilas, yaitu berjalan kaki membawa bendera dan menelusuri jejak-jejak langkah perjuangan di titik-titik jalan yang dulu telah dilalui oleh Pahlawan kita, Nani Wartabone, di daerah ini,” ujar Ketua Karang Taruna Kota Gorontalo, Risman Taha.

Kegiatan tersebut diselenggarakan, menurut Risman Taha, dimaksudkan agar generasi muda yang ada saat ini dapat turut menghayati betapa keras dan sengitnya perjuangan yang telah dilakukan oleh para pahlawan secara penuh keikhlasan demi sebuah kemerdekaan.

“Untuk tahun ini kita akan membuat kegiatannya lebih semarak lagi, karena tahun ini bertepatan dengan pilgub, jadi momen 23 Januari ini bagaimana kita mempersatukan para generasi muda untuk tidak memandang suku, ras, agama, melainkan secara damai kita harus bersatu tanpa ada ikatan warna-warni bendera yang membedakan,” ujar Risman Taha kepada DM1, belum lama ini.

Namun dari kegiatan ini, Risman Taha berharap ke depan agar kiranya generasi muda di Provinsi Gorontalo sedapat mungkin memperkokoh persatuan dan mempersembahkan karya-karya  yang terbaik untuk kemajuan bersama.

(Herman/DM1)
Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up