Pilgub DKI Pesta Para Elite Partai, Rizal Ramli dan Yusril Tersingkir

PERSpektif:

DENGAN tersingkirnya Rizal Ramli dan Yusril Ihza Mahendra di Pilgub DKI Jakarta dapat dianggap sebagai bukti kuatnya peranan Asing dan pengusaha keturunan dalam hajatan itu.

Ramli, yang dipecat oleh Presiden Jokowi dari Jabatan Menko Maratim dan Sumber Daya sudah dapat terbaca dengan gamblang, adanya peranan pengembang di reklamasi yang begitu kuat mencengkeram Istana. Sehingga Keputusan Rizal Ramli sebagai Menko saat itu menghentikan Reklamasi Pulau G dianggap sebagai dosa besar Bang RR, begitu ia dipanggil,  dan harus di singkirkan.

Apalagi RR ditentang keras oleh Gubernur DKI Jakarta. Sehingga pencopotan RR itu sepertinya murni pesanan. Jika dibanding dengan langkah-langkahnya di Kabinet Jokowi yang banyak mendapat apresiasi publik dan orang-orang kecil yang merasa terayomi. Terutama para  nelayan yang ditemuinya yang tergusur dan terkait dengan soal reklamasi Teluk Jakarta.

Harapan Warga

Setelah tergusur dari Kabinet, publik dan sejumlah aktivis mencoba menggoda Bang RR agar bisa terjun dan meramaikan bursa Cagub DKI. Sebenarnya banyak harapan dan dambaan warga atas sosok Rizal Ramli, baik di media maupun di saat mendatangi mereka. Sangat disayangkan Parpol yang ada tidak menangkap aspirasi dan suara dukungan yang berkembang di masyarakat. Meski sudah ada upaya komunikasi politik untuk itu.

Yusril

Prof Dr Yusril Ihza Mahendra, yang akrab di siapa Bang YIM juga sudah mencoba membangun aktivitas untuk dapat masuk sebagai Cagub. Tentunya dengan dengan pengalaman dan kapasitasnya YIM juga terlibat sangat diminati oleh publik dan masyarakat Ibu Kota. Tapi lagi-lagi Parpol pemilik kursi threshold di DKI tidak memberi pilihan kepada pakar hukum Tata Negara ini. Meski komunikasi intens juga sudah dilakukan oleh YIM.

Alhasil Rizal Ramli dan Yusril Ihza Mahendra, tidak dilirik oleh Parpol di Pilgub DKI ini. Padahal sejatinya Demokrasi adalah suara rakyat. Rakyat DKI terlihat sangat antusias memberikan dukungan kepada RR dan YIM, tapi Elite Partai tidak demikian. Sehingga boleh dikatakan Pilgub DKI adalah pesta Demokrasi para elite partai.

Kursi Gubernur DKI bukanlah akhir dan segalanya dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan dan untuk menata Bangsa ini, sehingga, hemat penulis, justru dengan tidak masuknya Bang RR dan Bang YIM di bursa Cagub DKI seperti yang ada di KPU, maka arena tarung dan perjuangan atas nasib rakyat di negeri ini makin luas dan lebar.

Kekuatan Prodemokrasi sangat menanti kedatangan Bang RR dan Bang YIM untuk bersama sama perbaiki bangsa ini dari kehancuran.

*Penulis: Muslim Arbi, Koordinator Gerakan Aliansi Laskar Anti Korupsi (GALAK)
(ht/dm1)
Komentar anda :

Muis Syam

1 views

Next Post

Jokowi Jalan-jalan, Pengunjung Grand Indonesia Heboh

Sen Okt 3 , 2016
(DM1, Jakarta) Minggu (2/10/2016) pengunjung pusat perbelanjaan Grand Indonesia dikejutkan dengan kehadiran Presiden Joko Widodo. Mengenakan pakaian khasnya kemeja putih lengan panjang, Jokowi tampak sedang jalan-jalan dikawal Paspampres. Salah seorang pengunjung Grand Indonesia mengatakan, jokowi pertama kali terlihat sekitar pukul 14:30 WIB. “Banyak Paspampres, banyak juga orang yang minta salaman,” […]