HARI INI :

PARTNER PEMERINTAH, KAWAN RAKYAT

Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW, Desa Sogitia Buat Tolangga Raksasa

Bagikan dengan:

Wartawati/Editor: Dewi Mutiara

DM1.CO.ID, BONE BOLANGO: Peringatan hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW selalu dinantikan oleh seluruh umat islam. Di Gorontalo, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan cara sedikit berbeda dibandingkan dengan daerah lain.

Masyarakat Gorontalo merayakannya dengan cara berdzikir sepanjang malam dimulai setelah shalat isya hingga pukul 09.00 esok paginya.

Dzikir ini oleh masyarakat Gorontalo dikenal dengan istilah “dikili”. Kata dikili diambil dari kata dzikir yang artinya alunan dzikir. Biasanya Dikili dilatunkan oleh imam mesjid, ibu-ibu majelis taklim yang telah ditunjuk oleh panitia dikili.

Walaupun dilakukan semalam suntuk, peserta dikili tetap semangat melantunkan sholawat dan puji-pujian untuk Baginda Nabi Muhammad SAW. Adapun masyarakat yang tidak menjadi peserta dikili, mereka bertugas untuk menyediakan makanan bagi peserta dzikir dengan hidangan ala kadarnya seperti teh, kopi, dan kue untuk sekedar menghilangkan rasa kantuk sehingga peserta tetap segar dan suara lantang terdengar.

Selain dzikir, masyarakat Gorontalo juga menyiapkan aneka makanan dan kue yang dikemas atau dihias dalam sebuah “tolangga”. Tolangga adalah wadah yang terbuat dari kayu yang dihias dan diisi dengan berbagai macam makanan, seperti aneka kue, nasi kuning, nasi merah, dan telur. Kue-kue Isi tolangga ini disebut dengan kue walima yang berasal dari bahasa arab artinya kue perayaan.

Namun seiring waktu, masyarakat Gorontalo tidak lagi menghias tolangga hanya dengan aneka kue saja, tapi sudah ditambahkan dengan makanan-makanan ringan kemasan (snack) dan kebutuhan rempah-rempah dapur.

Pada bagian inilah yang menjadi keunikan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gorontalo yakni bisa melihat warna warni tolangga hasil kreatifitas tiap-tiap warga.

Esok paginya, tolangga-tolangga ini kemudian dikumpulkan di mesjid, setelah proses dikili selesai, masyarakat akan berkumpul di mesjid untuk berbagi bahkan saling berebut isi tolangga.

Ada tolangga yang dibagikan untuk anak-anak, ada tolangga yang dibuat khusus untuk dibagikan ke masyarakat, dan ada tolangga yang diberikan pada peserta dikili sebagai imbalan atas pengorbanan mereka melantunkan dzikir sepanjang malam.

Desa Sogitia, Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo adalah salah satu desa yang tetap merayakan tradisi Maulid ini di Gorontalo.

Desa ini dijuluki desa festival karena pemerintahan desanya banyak menyelenggarakan festival untuk memberdayakan dan menyejahterakan warganya.

Kepala Desa Sogitia, Sumitro Lopuo berhasil merangkul seluruh warganya, warga Desa Sogitia dikenal sangat kompak, sehingga tidak heran berbagai festival yang digelar desa ini terbilang sukses.

Seperti baru-baru ini, dengan menggelar Festival atau Parade Walimah pada Sabtu (9/11/2019), Desa Sogitia satu-satunya desa yang menggelar tradisi walimah di Kecamatan Bone.

Sebanyak 150 tolangga dengan beragam hiasan kue walimah disiapkan Desa Sogitia hasil dari swadaya masyarakat. Tolangga-tolangga ini dibuat dengan ukuran yang sudah disepakati bersama, tujuannya agar tolangga bisa terbagi ke masyarakat dengan sama rata.

Selain tolangga dengan ukuran standar tersebut, masyarakat juga menyiapkan tolangga raksasa dengan tinggi sekitar tiga meter dan lebar sekitar 2,5 meter. Tolangga raksasa inilah yang dibuat khusus untuk dibagikan ke masyarakat.

Meriahnya festival dengan menyaksikan ratusan warga saling berebut makanan, kue-kue dan minuman yang tergantung di tolangga, tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga tidak mau ketinggalan uforianya, mereka berebut makanan ringan kemasan seperti coklat dan biskuit.

Pada acara tersebut hadir Camat Bone, Yasni Hadju yang disambut dengan prosesi adat “aleyao” yang biasa digunakan untuk menyambut tamu agung.

“Parade walimah yang ada di Desa Sogitia ini menurut saya sangat luar biasa,” tutur Yasni kepada kru DM1 usai acara.

Yasni juga berharap agar peringatan Maulid Nabi Muhammad terus dilakukan, sebab hal ini sejalan dengan salah satu hadist nabi, dan sebagai bentuk kecintaan kita kepada baginda Rasul tanpa melanggar prinsip-prinsip syar’i.

“Saya harap kegiatan maulid ini diusahakan tidak putus-putusnya untuk dilakukan, karena dalam hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda barang siapa mengingat kelahiranku, maka umat itu akan bersamaku di surga,” tukas Yasni.

Yasni juga menambahkan, apa yang dilakukan Desa Sogitia juga bisa dilakukan desa-desa lain khususnya di Kecamatan Bone, agar syiar islam bisa terus didakwahkan dan masyarakat bisa mengambil manfaatnya.

“Desa Sogitia ini merupakan pilot project kegiatan seperti ini di Kecamatan Bone, sehingga diharapkan desa-desa lain mengikuti,” tandas Yasni.

Ditemui di tempat terpisah, Sumitro Lopuo, Kepala Desa yang sudah menjabat tiga periode berturut-turut ini mengapresiasi atas partisipasi masyarakat dalam festival tersebut.

“Saya selaku kepala desa menyampaikan terima kasih dan mengapresiasi partisipasi dan antusias warga untuk menyukseskan kegiatan ini, walaupun dirasa belum maksimal, namun saya berharap masyarakat semua bergembira dan walimah ini dapat bermanfaat untuk semua warga,” pungkas Sumitro. (dmk/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
  • 12856
  • 14483