Insiden Bantuan Beras: Gubernur RH Sudah “Turun Panggung”, FM “Cari Panggung”

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, GORONTALO: Kemarahan Bupati Boalemo yang sempat meluap bagai “kerasukan setan” di acara penyerahan bantuan beras buat korban terdampak banjir, di Desa Mohungo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Kamis (31/1/2019), sepertinya akan dimanfaatkan sebagai “panggung” politik oleh “pemburu kursi” untuk dapat mendulang suara pada Pemilihan legislatif (Pileg) mendatang.

Pandangan tersebut diungkapkan oleh sejumlah sumber dari berbagai kalangan, termasuk sejumlah pengamat sosial-politik di Boalemo.

Mereka umumnya memang menyayangkan emosi yang dipertontonkan oleh Bupati Boalemo, Darwis Moridu, namun lebih disayangkan lagi dengan tiba-tiba munculnya sosok Fadel Muhammad (FM) di Boalemo bagai “siluman” yang secara khusus menemui Darwis Moridu, di rumah dinas Bupati Boalemo, Kamis (7/2/2019).

Hal ini kemudian yang dinilai oleh sejumlah sumber, bahwa kedatangan FM tersebut sepertinya malah berpotensi menambah keruh persoalannya.

Kawit, salah seorang tokoh masyarakat Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo mengaku prihatin dengan sikap Fadel Muhammad.

Kawit menyatakan, seharusnya semua pihak bisa menyikapi insiden kemarahan Bupati Boalemo itu secara dingin dan jernih, bukan malah ikut-ikutan untuk makin memperkeruh suasana.

“Pak Fadel ini tidak tahu apa-apa (terhadap persoalan acara penyerahan beras itu). Seharusnya sebagai anggota DPR-RI dari Golkar juga harus tenang menyikapi ini, jangan ikut-ikutan. Ini namanya kalau Fadel begini sudah ikut-ikutan memperkeruh suasana,” ujar Kawit.

Kawit sebagai praktisi politik sekaligus tokoh masyarakat ini pun mengaku menyesalkan sikap Fadel Muhammad yang “mendadak” datang bagai malaikat itu, namun sesungguhnya bisa ditebak ada maksud di balik kunjungannya tersebut.

Tebakan Kawit inipun coba dijawab oleh seorang Caleg DPD-RI incumbent, AD. Khaly dalam komentarnya di salah satu grup WA yang beredar. Ia menulis, ” Fadel mau rebut suara 100% Utk DPD di Boalemo”.

Sementara itu seorang tokoh masyarakat di Boalemo, Pahrun Yanis, menyatakan sepakat apabila ada pihak yang menebak-nebak kedatangan Fadel Muhammad itu adalah untuk “mencari panggung”, yakni dengan memanfaatkan insiden penyerahan bantuan beras tersebut.

Pahrun Yanis juga membenarkan jika seandainya ada kalangan yang memprediksi, bahwa kedatangan Fadel Muhammad ke Boalemo itu karena boleh jadi ingin membuat Boalemo sebagai “kantong suaranya” sebagai Caleg MPR/DPD-RI 2019.

Pahrun juga sepakat, jika seandainya ada sejumlah pihak yang menyebutkan bahwa Fadel Muhammad mendekati Darwis Moridu adalah karena sepertinya Fadel Muhammad sudah sangat sulit meraup suara banyak di 5 kabupaten/kota se-Provinsi Gorontalo, kecuali hanya tinggal berharap bisa mendapatkan luapan suara di Boalemo.

Sehingga, kata Pahrun, bisa ditebak alasan apa gerangan Fadel Muhammad sebagai anggota DPR-RI sekaligus Caleg DPD-RI 2019 itu berkunjung ke Darwis.

Sejumlah pihak pun mengingatkan, jangan lupa bahwa Fadel Muhammad adalah seorang politisi kelas kakap yang boleh jadi selalu “haus” dengan jabatan (kursi), sehingga bisa saja memanfaatkan setiap momen untuk kepentingan politiknya, termasuk memanfaatkan kemarahan Darwis Moridu tersebut.

Pahrun pun menyarankan, bahwa seharusnya Fadel Muhammad sebagai pejabat dan mantan pejabat (mantan Gubernur Gorontalo) bisa memberikan petuah dan nasehat atas insiden marah-marahnya Bupati Boalemo tersebut, bukan malah cenderung memperkeruh suasana dengan memberikan statemen yang menyudutkan Gubernur Rusli Habibie (RH).

Situasi seperti itulah kemudian di mata masyarakat dari berbagai kalangan bersama sejumlah pengamat sosial-politik tersebut memandang, bahwa kedatangan Fadel Muhammad ke Boalemo menemui Darwis Moridu itu boleh jadi adalah untuk “mencari panggung” untuk kepentingan politiknya.

Padahal, kata sejumlah sumber tersebut, sebagian besar masyarakat telah menyaksikan Gubernur Rusli Habibie sudah kelihatan “turun panggung”, alias sudah mengalah dengan berkali-kali telah menyatakan permohonan maaf.

Menurut Pahrun dan Kawit serta sejumlah kalangan lainnya memandang, bahwa Gubernur Rusli Habibie sepertinya sudah mencium insiden tersebut bakal dimanfaatkan oleh segelintir “oportunis politik”. Olehnya itu, Gubernur Rusli tanpa berlama-lama langsung memohon maaf kepada seluruh rakyat Provinsi Gorontalo.

Bahkan secara khusus, Gubernur Rusli Habibie memperlihatkan keseriusan dan kesungguhan hatinya agar persoalan ini segera disudahi, yakni dengan menggelar Konferensi Pers, di Aula Rumah Dinas Gubernur Gorontalo, Kamis (7/2/2019).

Dalam Konferensi Pers tersebut, Gubernur Rusli dengan bijak mengatakan, “saya lebih mengedepankan stabilitas daerah, apalagi dalam rangka menghadapi pesta demokrasi. Yang namanya pesta itu harus bersenang-senang, bukan justru membuat orang susah,” ujar Gubernur Rusli.

Sejak awal, Gubernur Rusli memang sudah menganggap persoalan tersebut sudah selesai. Yakni, di hari insiden itu juga Gubernur Rusli langsung memohon maaf atas keterlambatannya yang samasekali tidak disengaja itu.

“Sebenarnya saya menganggap persoalan ini sudah selesai. Karena begitu saya datang ke lokasi penyerahan bantuan, saya langsung mohon maaf kepada masyarakat. Saat itu saya sudah menyampaikan jika keributan ini hanya disebabkan oleh keterlambatan gubernur, saya sebagai gubernur dan Pemerintah Provinsi Gorontalo memohon maaf jika hal ini menyiksa masyarakat. Masyarakat pun memberikan aplaus kepada kami,” jelas Rusli.

Kalaupun di belakangan seorang ASN (aparatur) Setda Pemerintah Provinsi Gorontalo terpaksa melaporkan tindakan Bupati Boalemo akibat mendapat perlakukan tidak menyenangkan di hadapan umum, menurut Gubernur Rusli, hal tersebut merupakan hak pribadi dari aparatur yang bersangkutan.

“Saya tidak ikut campur, itu hak pribadi aparatur tersebut, apalagi staf saya itu melaporkan atas nama pribadi dan bukan atas nama Kabag Protokol,” tegasnya.

Pada kesempatan itu Gubernur Rusli meminta persoalan dengan Bupati Boalemo disudahi. Rusli mengajak seluruh kalangan agar tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang patut diduga sengaja ingin lebih memperkeruh suasana, dan bahkan ingin memanfaatkan persoalan ini untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu.

Seperti yang dikabarkan, sejumlah statemen Fadel Muhammad yang diduga bisa memperkeruh masalah saat mengunjungi Bupati Boalemo, di antaranya melontarkan, bahwa tidak hanya Bupati Boalemo yang pernah diperlakukan seperti ini oleh Gubernur Rusli Habibie, namun dirinya pun pernah diperlakukan seperti itu.

“Jadi pak bupati harus sabar menghadapi orang orang yang wataknya seperti itu,” ungkap Fadel Muhammad kepada Bupati Boalemo, Kamis (7/2/2019).

Di mata sebagian besar publik, statement yang dilontarkan oleh Fadel Muhammad inilah yang patut diduga berpotensi menambah lebar persoalannya.

Padahal sekali lagi, menurut sejumlah kalangan, Gubernur Rusli Habibie pada persoalan ini sangat jelas sudah “turun panggung”, sebab dikuatirkan ada pihak yang justru memanfaatkan panggung tersebut untuk kepentingan politik jelang Pemilu 2019 ini. (kab/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up