Ekonomi Bangsa Lumpuh, Netizen Minta Rizal Ramli Selamatkan Sebelum Hancur

Bagikan dengan:

Oleh: Abdul Muis Syam*

DM1.CO.ID, Opini: Dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020 tentang perubahan postur APBN 2020, tertuang pembiayaan anggaran sebesar Rp.1.006 Triliun.

Perpres tersebut ditandatangani pada Ahad (5/4/2020), yakni untuk melengkapi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 (yang kini menjadi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020) tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk penanganan Covid19.

Dan pada Senin sore (18/5/2020), Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan (Menkeu) mengumumkan, bahwa defisit anggaran mengalami lonjakan dari Rp.852,9 Triliun menjadi sekitar Rp.1.028,5 Triliun.

Pengumuman Sri Mulyani tersebut mendapat sorotan tajam dari seorang mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Mukhamad Misbakhum, yang kini merupakan Anggota Komisi XI DPR-RI.

Misbakhum menilai, Sri Mulyani benar-benar gagal sebagai Menkeu karena dianggap tidak mampu mematok angka defisit secara tepat.

Dalam Perpres Nomor 54 Tahun 2020 tentang perubahan postur APBN 2020, angka defisit dipatok sebesar 5,07 persen (sekitar Rp.852,9 Triliun). Namun belakangan, angka tersebut diubah menjadi 6,27 persen (sekitar Rp.1.028,5 Triliun).

Angka defisit yang berubah-ubah itu, tentu saja membuat banyak pihak justru sangat meragukan “titel” Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan terbaik.

”Jangan malah terkesan seenaknya membuat prediksi dan melakukan perubahan justru di saat postur angka-angka yang ada di APBN baru saja disusun,” ujar Misbakhum.

Misbakhum menegaskan, kredibilitas dan kemampuan seorang Menkeu juga ditentukan (diukur) melalui ketepatan menyusun prediksi dalam APBN.

“Perubahan besaran defisit ini menjadi bukti, bahwa Menteri Keuangan (Sri Mulyani) gagal melakukan prediksi yang akurat soal indikator ekonomi yang penting,” tegas Misbakhum.

Di saat bersamaan juga sangat disayangkan, Jokowi selaku presiden juga hanya asal teken dan tak mampu mengoreksi Perpres tersebut. Karena boleh jadi, Jokowi memang “tak punya pemahaman” yang banyak seputar prediksi ekonomi. Dan ini baru di satu sisi (soal prediksi ekonomi), belum di sisi-sisi lainnya.

“Kok, Sri Mulyani sama dungunya dengan ‘si nganu’,” lontar analisis ekonomi-politik, F. Reinhard MA.

Parahnya, setiap ada sorotan ataupun kritikan terhadap kesalahan atau kelemahan dan bahkan ketidak-mampuan yang dipertontonkan oleh rezim ini, maka para “pasukan” buzzer dan influencer “plat-merah” pun bergegas “menyerang” balik dengan tetap mengumandangkan bahwa rezim ini hebat.

Padahal kenyataannya, rezim yang dipimpin oleh Jokowi saat ini sungguh betul-betul sangat jauh dari kata hebat. Bahkan boleh dikata negeri ini mengalami kemerosotan yang luar biasa saat dipimpin Jokowi.

Kemerosotan itu dapat dilihat dari sejumlah pertanyaan yang harus dijawab (di-update) oleh rezim ini. Yakni di antaranya, sudah berapa hebatkah pertumbuhan ekonomi kita saat ini? Ekspor-impor surplusnya berapa? Setangguh apakah nilai tukar rupiah saat ini? Apa-apa saja yang sudah menjadi swasembada? Sudah berapa juta lapangan kerja yang sudah dibuka untuk anak negeri? BUMN mana saja yang sudah meraup untung besar? Seberapa banyak utang negara yang sudah dikurangi? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang menunjukkan, bahwa sesungguhnya rezim ini benar-benar tidak mampu membawa Indonesia menjadi negara maju, apalagi hebat.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, bahkan juga telah memprediksi, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 lebih rendah dari 2,3 persen.

Namun sungguh sangat memprihatinkan apabila ternyata pertumbuhan ekonomi malah di bawah angka 2,0 persen, yang tentu saja dipastikan akan meruntuhkan sendi-sendi perekonomian bangsa.

Dan ini tidak mustahil akan terjadi jika kondisi penanganan pandemik Covid19 terus menggerogoti perekonomian negara akibat ketidak-mampuan pemerintah dalam mengambil langkah-langkah penyelamatan yang “jenius”.

Dan saat ini (pada masa pandemik Covid19), tanda-tanda runtuhnya sendi-sendi perekonomian telah dapat terlihat. Yakni, pergerakan ekonomi bangsa sudah mulai mengalami kelumpuhan. Di mana-mana semua menjerit kesusahan, terutama pekerja harian (termasuk para pedagang, sopir angkutan, dan lain-lain), benar-benar dililit kesulitan ekonomi yang sangat mencekik akibat “serangan” wabah Covid19.

Kondisi tersebut menunjukkan, bahwa memang selama ini pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk dapat “menyediakan payung sebelum hujan”.

Artinya, selama ini pemerintah memang sama sekali tidak punya “daya imunitas ekonomi” berupa metode mandiri pengelolaan dan pengembangan ekonomi melalui cara-cara inovasi atau terobosan yang hebat. Semuanya dilakukan biasa-biasa saja. Padahal, Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Namun sayangnya, kekayaan alam itu tidak mampu dikelola dengan benar sesuai UUD 1945.

Dengan kondisi ekonomi yang sangat serba susah dialami oleh bangsa seperti sekarang, membuat tidak sedikit pihak saat inipun membayangkan, bahwa betapa hebat dan dahsyatnya negeri ini andai dipimpin oleh orang yang benar-benar ahli ekonomi yang memiliki integritas dan pengalaman sebagai sosok pejuang yang terbukti pro-rakyat sejak dulu hingga sekarang, yakni Dr. Rizal Ramli.

Sayangnya, Pemilihan Presiden (Pilpres) di negara yang kaya namun berpenduduk miskin ini, justru “disandera” oleh para “perampok berwajah malaikat” tetapi berhati iblis di bawah naungan partai politik. Yakni, dengan pencitraan semu diikuti money-politic.

Sehingga sosok idealisme seperti Rizal Ramli pun tentu akan selalu “dihambat”, agar tidak bisa maju dalam Pilpres oleh para “perampok” uang rakyat. Mengapa?

Sebab, jika Rizal Ramli menjadi presiden, maka para “perampok” itu tentu diyakini akan langsung game-over.

Mereka (para perampok itu) tahu persis, bahwa Rizal Ramli (RR) adalah satu-satunya anak bangsa sekaligus pakar ekonomi yang sejak dulu giat membela rakyat, baik di dalam maupun di luar pemerintahan.

Terlebih memang sejak masa muda hingga saat ini, Rizal Ramli dikenal konsisten memperjuangkan ekonomi bangsa, berani berkorban jabatan/kedudukan dan bahkan nyawa sekalipun (pernah di penjara di masa Orba).

Dan ketika kondisi ekonomi bangsa sedang lumpuh seperti saat ini akibat pandemik Covid19, maka jangan bermimpi kondisi serba sulit ini bisa membaik dan pulih dengan cepat. Sebab, rezim saat ini, untuk memprediksi defisit “di atas kertas saja” sudah gagal.

Pun dengan janji-janji kampanye pada periode pertama (lima tahun berlalu) saja, masih dan masih sangat banyak yang tidak mampu diwujudkan.

Pertanyaannya, mengapa rezim ini bisa terpilih dua periode?

Bagi yang paham, maka pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan pertanyaan tandingan: “mengapa acara konser virtual untuk pengumpulan sumbangan (donasi) terkait penanganan Covid19 berakhir sangat tidak sukses, padahal digelar oleh rezim yang terpilih dua periode itu?”

Tak salah jika sebuah meme menjadi viral yang menyinggung rezim ini, bahwa untuk urusan konser saja gagal (tidak sukses), sehingga tidak heran urus negara saja selalu tekor.

Pada kondisi yang serba sulit, dengan ekonomi bangsa yang kini lumpuh, dan tidak menutup kemungkinan akan mengarah kepada keruntuhan, para netizen pun menumpahkan curahan hatinya.

Ekonomi Indonesia??? Solusi nya adalah Pak @RamliRizal. Dunia Internasional sekelas PBB saja pernah rekrut beliau koq………kenapa kita tidak??? Heran deh !!! 🤔,” tweet Namaku Anisa @Namaku_Anisa.

“Semalam, secara lansung gw dengar paparan ttg Indonesia ke dpn, perihal solusi efektif penanganan wabah covid-19, membangkitkan kekuatan ekonomi yg berpihak kpd rakyat, membangun demokrasi seutuhnya yg tdk berdampak bencana korupsi, dsb! Kesimpulannya… #RizalRamliSolusiIndonesia,” tweet  King Purwa @K1ngPurw4.

“(RR) orang cerdas…yg ditakuti rezim karena kejujuran dan kepintarannya… rezim sekarang ga butuh orang pintar… makanya ekonomi mau hancur bodo amat yg penting bagi2 proyek dpt royalti…,” tweet Putra Banten @AChiekal.

👍👍 Terimakasih Pak @RamliRizal. Harusnya kisah sukses spt ini dilanjutkan olh Menko/Mentri berikutnya. Agar Indonesia bisa jaya raya, adil sejahtera,” tweet Hidayat Nur Wahid @hnurwahid.

 “pak @RamliRizal diberhentikan krn GAK BISA diajak jahat, diajak korup, diajak bagi2 hasil rampokan. prinsip itu cuma dipunyai org2 pinter yg msh pengen bener. org pinter banyak, tp org bener susah nyarinya klo kata ALM KH ZAINUDDIN MZ,” tweet zuhdihafiz @zuhdibenjafiz.

“Kalau dipecat bukan berarti ga pinter, tapi karena ga mau nurutin kemauan yg mecat. Sekarang tinggal kredibilitas yg mecat dan yg dipecat. Mana yg lebih cinta NKRI,”tweet Ponang @ponangpr.

“Rizal ramli memberi semuanya. Negara memperlakukan semaunya. Tdk perlu berteriak saya Pancasila, RR telah membuktikanya,” tweet Aji N @ajii001.

“Ini (Rizal Ramli) manusia yang berjiwa jadi pemimpin, walau tidak menduduki jabatan di negara ini, tapi tetap berjuang hanya untuk rakyat. Ya Allah jagalah selalu Bang RR kami,” tweet RUDI HR @RudiHar90664727.

“Alhamdulillah masih ada bpk RR yg selalu mengawal kepentingan rakyat…. Kami rakyat di akar rumput bisa bisa terus di prank kalo tidak ada negarawan cerdas yg punya hati nurani seperti bp… Sehat selalu bpk RR,” tweet Omar Benjamin @Omarben17046081.

“Herannya knapa nggak ada parte yg melamar #RizalRamliSolusiIndonesia,” Annas Binarjo @annasbinarjo.

Keheranan Annas Binarjo ini kemudian ditanggapi oleh Rizal Ramli. “Partai2 minta upeti utk pencalonan Bupati, Gubernur dan Presiden Wajah menyeringai Alat peras-nya: batasan Threshold. Tahun 2014: Tarif 1 partai  300 Milyar; tahun 2019: 500 Milyar. Itulah basis dari demokrasi kriminal !” tulis Dr. Rizal Ramli @RamliRizal.

“Yang ga punya uang,  diongkosin oleh cukong. Tapi nanti kekuasaan ada di tangan cukong,” Abraham Semendawai @Asemendawai.

“Professor Rizal Ramli orangnya lurus makanya gak di pake sm Pemerintah ini, Krn umumnya Pemerintah saat ini bengkok semua,” tweet Taufik Qurahmansah @LaOfi_Aja.

“Semoga Allah memberikan Anda waktu dan kesempatan utk menyelamatkan ekonomi negeri ini, pak RR,” Coffe_lover @AnisahKFitri1.

“(Jokowi) Mundur dulu deh itu tindakan yg paling bijaksana, urusan pengelolaan Negara memang hrs diserahkan kepada yg mampu dan amanah. 6 tahun cukup waktu diberi kesempatan dan memang tdk mampu, memaksakan diri hanya akan membuat NKRI tambah terpuruk,” tweet Rian.RD @RianRD3.

Benar Pak ! Negara Indonesia butuh pemimpin bersih seperti Rizal Ramli. Pak RR, semoga Pak RR bisa tetap jaga hati yah & tetap pertahankan idealisme Bapak sampai selama-lamanya …. 👍,” Yudhi @Yudhi04188481.

“Saya setuju, dan kapan kita mulai bergerak memberi dukungan? Krn ini harus segerakan di mulai mendukung @RamliRizal secara masif. Buat saya bbrp hal sdh sangat gamblang beliau sangat memperhatikan bangsa dan negara,” Beny Ibrahiim @BenyIbrahim5.

“@RamliRizal  Orang yang tepat mnggantikan @jokowi sebelum semuanya terlambat,” Siriana @SirianaGde.

——

(Penulis adalah pengamat sosial-politik, aktivis kedaulatan rakyat, dan presidium GSI: Gerakan Selamatkan Indonesia)

Komentar anda :
Bagikan dengan: