HARI INI :

PARTNER PEMERINTAH, KAWAN RAKYAT

Bupati Darwis Dinilai “Durhaka” Kepada Rakyat

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, BOALEMO: Akhir-akhir ini, boleh dikata sebagian besar rakyat Kabupaten Boalemo dari berbagai lapisan, mengeluhkan sikap Bupati Boalemo (Darwis Moridu) yang dinilai sangat jelas terkesan memimpin secara otoriter.

Hal tersebut diungkapkan sejumlah tokoh masyarakat berpengaruh di Kabupaten Boalemo. Salah satunya adalah mantan Ketua DPRD Kabupaten Boalemo, Nizam Dai.

Kepada awak DM1, Nizam Dai mengaku sangat banyak menerima keluhan dari rakyat, baik dari dalam maupun warga Boalemo yang ada di luar daerah.

Nizam mengungkapkan, bahwa keluhan tersebut bukan hanya dari rakyat di lapisan bawah, tetapi juga berasal dari banyak tokoh masyarakat Boalemo.

Umumnya, kata Nizam, sebagian besar rakyat di Boalemo tidak hanya mengeluh, tetapi juga hampir semua rakyat Boalemo kini mengecam sikap semena-mena yang dipertontonkan oleh Darwis Moridu selaku Bupati Boalemo.

Nizam menjelaskan, keluhan dan kecaman itu muncul lantaran Darwis Moridu yang diketahui berhasil “lahir” sebagai bupati melalui “rahim” rakyat (jalur independen), namun dalam perjalanannya justru seolah “menjelma” menjadi “Banteng”.

Nizam Dai mengingatkan, bahwa Darwis Moridu lahir sebagai bupati bukan melalui “rahim Banteng”, tetapi  melalui “rahim rakyat” (dari jalur independen).

Sayangnya, kata Nizam, saat ini Darwis Moridu sebagai Bupati Boalemo justru terkesan hanya cenderung mengabdi dan mendahulukan kepentingan kelompok tertentu.

Dan hal ini disebut Nizam Dai sebagai salah satu “pembodohan” dan “kedurhakaan”.

Sebab, kata Nizam lagi, Darwis yang kini seolah “menjelma sebagai Banteng” itu, saat ini terkesan “membabi-buta” yang siap “menanduk” siapa saja yang berseberangan dengan kepentingan politiknya, termasuk aparatur (ASN) dan rakyatnya sendiri.

Nizam Dai adalah salah satu tokoh masyarakat yang pernah ikut “mati-matian” memperjuangkan Darwis Moridu pada Pilkada Boalemo 2017 sebagai tim sukses.

Sebab, saat itu Nizam mengaku melihat ada keseriusan yang diperlihatkan Darwis untuk membangun Boalemo melalui jalur independen.

Artinya, Nizam Dai menilai, bahwa saat itu Darwis akan membangun Boalemo murni untuk rakyat tanpa tendensius kepada salah satu partai politik. Termasuk kebijakannya akan ditempuh secara objektif untuk rakyat.

“Kami mendukung beliau (Darwis Moridu) pada perhelatan Pilkada 2017 kemarin, karena kami melihat ada kesungguhan yang tulus dari beliau untuk berbakti menyejahterakan masyarakat Boalemo karena berangkat dari jalur independen. Tentu saja saya ikut menyakinkan masyarakat agar memilih Darwis Moridu,” ujar Nizam.

Namun pada kenyataannya sekarang, lanjut Nizam, sang Laka (penguasa lubang tambang emas) itu malah hanya memunculkan PDIP sebagai partai penguasa di Kabupaten Boalemo. “Tentu saja ini sama halnya ‘membodohi dan durhaka’ kepada rakyat Boalemo,“ tutur Nizam Dai.

Jadi, kata Nizam, sangat disayangkan kenyataan sekarang meleset dan bahkan sangat jauh melenceng dari kondisi awal.

Yakni, menurut Nizam, saat ini Darwis Moridu bukan lagi sosok independen, melainkan telah “menjelma” menjadi “Banteng” yang sangat jelas terkesan “membabi-buta”.

Nizam Dai menyebut contoh sikap “membabi buta” dari Bupati Darwis Moridu, salah satunya adalah ASN dimutasi dan bahkan dinon-job diduga kuat dilakukan hanya secara sesuka hati. Yakni, sangat jelas-jelas terkesan, bahwa siapa (ASN) yang “ketahuan” tidak mendukung PDIP, maka bisa dipastikan akan digantikan posisinya oleh ASN lainnya yang dinilai siap “memenangkan” sang “Banteng” pada Pemilu 2019.

Sangat bisa ditebak, Bupati Darwis yang lahir dari “rahim” independen itu akan menggunakan kekuasaannya untuk “memenangkan” PDIP. Hal ini bisa dilihat dari berbagai indikator.

Indikasi pertama, kata Nizam, yakni semua instansi di pemerintahan Boalemo saat ini sudah di-cat “merah”. Dan indikasi kedua, adalah istri dan anak Bupati Darwis Moridu saat ini maju sebagai Caleg dari PDIP.

Nizam Dai selaku Pembina Dewan Adat di daerah inipun mengaku prihatin terhadap sikap dan kebijakan pemimpin seperti ini. “Ini adalah pembodohan dan mencederai hati rakyat Kabupaten Boalemo,” ujar Nizam.

Yang lebih parah, lanjut Nizam, jika hal ini tidak segera dicegat, maka daerah dan masyarakat Boalemo ini bisa dipastikan akan dibuat hancur.

Sebab, menurut Nizam Dai, cara kepemimpinan yang dipertontonkan oleh Darwis Moridu saat ini sudah jelas-jelas mengarah layaknya pemimpin zalim yang semena-mena menurut selera sendiri.

Selain itu, Nizam juga menyayangkan sejumlah stakeholder dan pemangku kepentingan yang mengambil kesempatan di balik “kebodohan dan pembodohan” yang dipertontonkan oleh Bupati Darwis. “Mereka memanfaatkan kebodohannya sehingga mereka saat ini semua terlihat bodoh,” pungkas Nizam Dai geleng-geleng kepala.

Sementara itu, Eka Putra M. Santoso selaku Juru Bicara (Jubir) Bupati Darwis Moridu menanggapi hal tersebut mengaku tak sependapat jika warna partai menjadi landasan rakyat merasa “tertipu” atas pilihannya yang pada awalnya Independen.

“Saya kira tidak sesederhana itu.  Justru Partai adalah salah satu mesin untuk mencapai tujuan kemakmuran masyarakat. Teori Parpolnya Begitu. Banyak referensinya, salah satunya tulisan Hans Dieter Klingemann atau para ahli politik tanah air,” jelas Eka.

Ia berpendapat, bahwa langkah masuk dalam partai politik bupati (Darwis Moridu) tidak ada hubungannya dengan narasi untuk “Menipu Rakyat”. (kab/dm1)

Bagikan dengan:
  • 12856
  • 14483
  • 13710