Bupati Boalemo Tuding Gubernur Rusli “Jual Istri” dengan Bantuan?

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, BOALEMO: Suhu politik di Provinsi Gorontalo jelang Pemilu 2019 mulai benar-benar terasa panas membara. Dua partai “raksasa”, Golkar dan PDIP, nampak saling serang.

Pemicunya, berawal dari musibah banjir yang melanda Kabupaten Boalemo, akibat hujan yang mengguyur deras sejak Sabtu-Ahad (26-27/1/2019), sehingga menimbulkan tidak sedikit warga jadi korban terdampak banjir.

Mencoba menunjukkan kepedulian, Pemerintah Daerah (Pemda) Boalemo pun dikabarkan melayangkan surat ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo untuk memohon bantuan.

Dengan sigap, Pemprov Gorontalo pun merestui permohonan bantuan tersebut, yakni berupa beras sebanyak 5 ton.

Lokasi dan waktu acara pembagian bantuan beras pun telah ditentukan, yakni di Desa Mohungo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, pada Kamis (31/1/2019).

Namun, masyarakat tidak satupun yang menyangka jika di acara yang sedianya merupakan momen “suci” itu akan “dinodai” dengan sebuah insiden. Yakni, Bupati Boalemo mendadak marah-marah disertai teriakan.

Bagai “kerasukan setan”, Darwis yang terpilih sebagai bupati dari jalur independen yang belakangan “menjelma” menjadi “banteng moncong putih” itu, seolah “mengamuk” ingin “menanduk” rombongan Gubernur Gorontalo yang baru saja tiba di tempat acara.

Persoalannya boleh dikata cukup sepele, yakni lantaran Gubernur Rusli tiba pada sore hari di saat para korban terdampak banjir sudah sejak pagi menunggu pembagian bantuan beras.

Inilah yang membuat Bupati Darwis mendadak jadi geram. Ia merasa Gubernur Gorontalo telah melakukan penyiksaan terhadap rakyat yang menjadi korban terdampak banjir, karena harus menunggu sejak pagi.

Menurut Bupati Darwis, gara-gara 5 ton beras, rakyat korban terdampak banjir menjadi tersiksa. “Beras lima ton bikin siksa rakyat. Saya mampu 10 ton ini hari, 10 ton ini hari. Bukan nanti dari kamu 5 ton bikin siksa rakyat. 10 ton saya masih mampu,” lontar Darwis seraya menunjuk-nunjuk seorang staf Setda Provinsi Gorontalo.

Namun sejumlah pihak dari berbagai kalangan pun memandang, bahwa Bupati Darwis sepertinya terlalu berlebihan menyikapi Gubernur Rusli yang dinilai terlambat tiba di lokasi acara.

Padahal, menurut sejumlah kalangan, Gubernur Rusli sebetulnya tidak datang terlambat. Sebab, rakyat yang dinilai tersiksa oleh Bupati Darwis itu, nyatanya masih setia menanti kedatangan Gubernur Gorontalo 2 periode itu.

Meski begitu, Gubernur Rusli yang juga “nakhoda” Partai Golkar Provinsi Gorontalo itu dengan bijak telah menyampaikan permohonan maaf, sebab keterlambatannya bukan disengaja, melainkan karena juga harus menuntaskan kunjungannya di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo.

Mengetahui dirinya menjadi “sasaran” kemarahan Bupati Darwis, Gubernur Rusli hanya bisa mengingatkan, agar menjadi pejabat hendaknya mampu menghindari kata-kata yang memprovokasi rakyat, dan jaga mulut.

Amarah yang dipertontonkan oleh Bupati Darwis itupun kini telah menjadi viral dalam bentuk video, dan sudah tersebar di seluruh penjuru dunia media sosial.

Sehingganya, tidak sedikit masyarakat dari berbagai kalangan pun mengecam sikap emosional yang “dipamerkan” oleh Bupati Darwis.

Menurut sejumlah pihak, andai saja ada rakyat di tempat acara tersebut yang marah kepada Gubernur Rusli,  harusnya Bupati Darwis bisa dengan bijak meredamnya, bukan malah sebaliknya.

Meski mendapat kecaman dan sorotan tajam atas kemarahannya, dan kendati Gubernur Rusli telah memohon maaf, namun Bupati Darwis sepertinya tidak berhenti untuk terus “menyerang” dan melakukan “pembunuhan” karakter (character assassination) terhadap diri Rusli Habibie.

Hal ini terlihat dari video berikutnya yang juga telah menjadi viral.

Yakni, video kampanye dialogis PDIP yang disampaikan Bupati Darwis di Desa Buti, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, pada Ahad (3/2/2019).

Dari video yang berdurasi 16 menit 42 detik itu, menurut banyak pihak, Bupati Darwis sepertinya sedang melakukan current-issue yang tak hanya mengarah kepada negative-campaign tetapi juga berbau black-campaign.

Materi kampanye yang diorasikan oleh Bupati Darwis dalam video tersebut, sepertinya tidak hanya bernuansa “menyerang” Rusli Habibie sebagai gubernur, tetapi juga “menelanjangi” Rusli Habibie secara personal pribadi.

Darwis yang baru berusia 1 tahun 8 bulan sebagai Bupati Boalemo ini sepertinya ingin benar-benar “menumbangkan” citra dan nama baik Gubernur Rusli.

Dalam video kampanyenya tersebut, Bupati Darwis dengan suara tinggi mengatakan, bahwa  masyarakat Boalemo bukan masyarakat Gubernur Gorontalo Rusli Habibie.

Mulai dari para camat hingga kepala-kepala desa di Boalemo, menurut Darwis, itu adalah milik Bupati Boalemo.

Dalam video tersebut, Darwis kembali menyinggung acara pemberian bantuan beras bagi korban banjir terdampak .Ia mengatakan, sebenarnya (pemberian bantuan itu) diwakilkan saja untuk menyerahkan secara simbolis, agar rakyat tidak lagi menunggu.

“Kalau pribadi saya sebagai bupati yang menunggu tidak apa-apa, karena gubernur pimpinan saya. Tapi kalau masyarakat yang disuruh menunggu sampai berjam-jam, saya tidak bisa terima,” ujar Darwis.

Secara tegas Darwis menyebutkan, apa karena Gubernur Rusli masih akan mengambil untung dalam pembagian beras tersebut, dengan menjual istrinya kepada masyarakat sebagai calon anggota DPR-RI? “Apa cuman gara-gara menjual istri masyarakat yang disiksa menunggu kedatangannya Gubernur Rusli menyerahkan secara simbolis,” tukas Darwis dalam Bahasa Gorontalo.

Oleh karena itu,kata Darwis, ia tidak ingin masyarakatnya dibikin sesuka hati. “Makanya saya marah-marah pada waktu itu. Saya adalah petarung, bupati dan walikota yang lain takut. Saya tidak takut, dia (Gubernur Rusli) manusia, saya pun manusia. Yang saya takuti hanya malaikat dan Allah SWT, dan terakhir Pak Jokowi,” ujar Darwis.

Selama ini, lanjut Darwis, Jokowi lah sebetulnya yang memberikan bantuan. “Itu bantuan yang dibagi-bagikan (Gubernur Rusli) untuk menjual istrinya bersumber dari Pak Jokowi, dan dia (Gubernur Rusli) tidak pernah mengampanyekan Pak Jokowi,” ujar Darwis.

Masih dengan suara yang meninggi, Darwis pun berjanji, akan melapor ke pusat bahwa Jokowi tidak pernah dikampanyekan oleh Rusli Habibie, tetapi malah mengampanyekan atau “menjual” istrinya sebagai caleg DPR-RI dari Partai Golkar.

Darwis mengaku, bahwa dirinya berhasil menjadi bupati memang hanya dengan memakai ijazah paket C, tetapi ia tak ingin direndahkan.

“Nanti ketemu dengan bupati paket C kalian rasakan, paket C selalu disinggung, dikampanyekan akan jadi apa daerah ini dipimpin oleh bupati paket C, mungkin saja akan tenggelam. Subhanallah! Tidak tahu dengan program, tidak tahu melobi di pusat, allhamdulillah yang mereka tuduhkan kepada saya selalu terbalik. Sejak kepemimpinan saya sekitar 2 tahun ini, anggaran dari Jokowi sudah hampir 500 miliar lebih,” ungkap Darwis.

“Wau jahemo potali lo hialo latia watia ju, molito watia hemo potali lo hialo latia (Dan saya tidak menjual istri saya, malu saya menjual istri saya),” lontar Darwis.

Untuk itu, lanjut Darwis, kalau ada istri, carikan pekerjaan kepada istrinya yang baik, bukan dijual di semua kampung.

“Saya akan bongkar ini, bahwa Partai Golkar tidak pro-rakyat. Dan selanjutnya, kalau bukan karena PDI Perjuangan (Gubernur Rusli tidak terpilih). Sebenarnya (Gubernur Rusli) sudah masuk penjara kalau bukan PDI Perjuangan atau (Presiden Joko Widodo) yang memperjuangkanya,” ungkap Darwis di hadapan warga pada kampanye dialogis para Caleg PDIP di Mananggu tersebut.

“Saya tidak marah, hanya menjelaskan kepada masyarakat karena hanya terkesan saya yang disudutkan pada peristiwa pembagian beras kemarin. Saya bela rakyat saya, saya tidak mau rakyat saya disiksa dengan menunggu sampai berjam-jam membagikan beras karena hanya kepentingan istrinya (Gubernur Rusli). Kan itu bisa diwakilkan ke saya dalam penyerahan secara simbolis, tidak lagi menunggu gubernur, ini kan bantuan dari pusat. Lebih baik saya tegas dan marah-marah, dari pada (Gubernur Rusli) senyum-senyum membunuh,” tutur Darwis.

Darwis melanjutkan, “hanya saya (Bupati Boalemo) yang berani menggratiskan SIM, Gubernur tidak berani. Hanya Kabupaten Boalemo 14 Program yang jalan sekarang, dan itu kenyataan”.

Darwis juga membeberkan, bahwa selama dirinya jadi bupati tidak pernah diperiksa oleh pihak kejaksaan. “Bo ta boito (Hanya dia Gubernur Rusli yang pernah diperiksa), dan datang di partai ‘Merah’ minta perlindungan, dan mempergunakan kesempatan bantuan program dari Pak Jokowi untuk menjual istrinya. Tidak membela partainya Jokowi, termasuk saya sebagai kader partai PDI Perjuangan malahan diisukan. Nanti saya lapor,” ujar Darwis dengan nada berapi-api.

Darwis pun kembali menuding Gubernur Rusli telah “menjual” istrinya melalui momen pemberian  bantuan beras.

“Pak Jokowi hanya dimanfaatkan untuk menjual istrinya (Gubernur Rusli), kalau saya malu jika menjual istri saya begitu dengan bantuan. Ini bapak-ibu, pemberitaan di mana-mana mengenai saya marah-marah, dan saya tidak pusing. Dikirim rudal pun saya tidak takut. Begitu bupati harus membela rakyat, bukan mementingkan istri sendiri, jangan cuma kepentingan partai, semua diperbuat. Tolong catat kata-kata saya, dan saya tidak takut. Karena saya mati-matian membela untuk rakyat di Kabupaten Boalemo,” ungkap Darwis.

Menanggapi orasi Darwis Moridu yang cenderung negative-campaign dan berbau black-campaign tersebut, Ulul Azmi Kadji selaku anggota DPRD Provinsi Gorontalo dari fraksi Golkar mengecam sikap Darwis yang dinilai tidak santun dan sangat terkesan provokatif tersebut.

“Saya sangat sedih dan kecewa melihat kelakuan seorang khalifah, pemimpin di Boalemo, yang karakternya seperti itu, menyudutkan pribadi Pak Gubernur, yang nota-bene Pak Gubernur ini adalah wakil Pemerintah Pusat yang ada di Gorontalo. Harusnya beliau (Darwis) menghormati, jangan melakukan provokasi kepada masyarakat menyampaikan bahwa Gubernur tidak ada rakyat dan bahwa Gubernur tidak ada program. Beliau itu (Rusli Habibie) sudah dipilih dua periode jadi gubernur,” ujar Ulul.

Ulul pun menegaskan, bahwa Rusli Habibie sebagai gubernur itu sudah sangat teruji. “Persoalan ibu Gubernur (istri Rusli Habibie) mencalonkan diri (sebagai Caleg) ini kan permintaan masyarakat. Dan ini adalah hak partai politik mencalonkan siapapun, termasuk Ibu Idah Syahidah (istri Rusli Habibie). Kenapa dia (Darwis) mau intervensi?” kata Ulul.

Ulul mempertanyakan apa maksud Bupati Darwis yang secara terang-terangan menyebut dan menjelek-jelekkan nama partai (Golkar), dan menyinggung nama dan pribadi Gubernur Rusli dengan mempersoalkan istri Gubernur (Idah Syahidah) yang maju sebagai Caleg DPR-RI?

Istri Gubernur maju sebagai Caleg, menurut Ulul, itu hak Partai Golkar, dan tidak ada satu pihak pun yang bisa intervensi, termasuk Bupati Boalemo sekalipun. “Istrinya (Darwis) saja maju, anaknya juga maju. Semua kita punya hak yang sama di republik ini. Jadi jangan seolah-olah berkuasa dan semena-mena,” tegas Ulul.

Ulul pun mengingatkan, bahwa materi kampanye Darwis Moridu seperti yang beredar dalam video tersebut, sudah melanggar PKPU No.23 Tahun 2018 Tentang Kampanye Pemilu.

Yakni, pada Bab III Materi Kampanye, Pasal 21 menyebutkan, Materi Kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1), disampaikan dengan cara: (huruf a) sopan, yaitu menggunakan bahasa atau kalimat yang santun dan pantas ditampilkan kepada umum.

Kemudian (Huruf d) bijak dan beradab, yaitu tidak menyerang pribadi, kelompok, golongan, atau Pasangan Calon lain; dan (huruf e) tidak bersifat provokatif.

Masih di dalam PKPU No.23 Tahun 2018, pada Bab VIII Larangan dan Sanksi, Pasal 69 ayat 1 huruf c dan d, berbunyi: Pelaksana, peserta, dan Tim Kampanye Pemilu dilarang: c. menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon, dan/atau Peserta Pemilu yang lain; d. menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat.

Olehnya itu, Ulul Azmi yang pernah menjabat selaku Ketua KPU Boalemo ini meminta pihak Bawaslu bisa dengan tegas untuk segera menindaki siapapun yang dinilai melakukan pelanggaran kampanye, termasuk seorang bupati sekalipun.

Ulul juga berharap seluruh anggota DPRD Boalemo bisa segera bertindak untuk menangani perilaku Bupati Boalemo yang telah berulang-ulang kali melakukan hal-hal yang fatal.

“DPRD Boalemo seharusnya mengambil sikap terhadap perilaku bupati seperti itu. Jangan dibiarkan lagi, sudah berulang-ulang kesalahan bupati kok,” lontar Ulul seraya mengimbau seluruh masyarakat Boalemo agar tidak terprovokasi dengan ulah pejabat seperti itu.

Menanggapi Darwis Moridu sebagai Bupati Boalemo yang sempat meluapkan emosi dengan berteriak-teriak bagai “kerasukan setan” itu, Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo dari PDIP La Ode Haimudin mengatakan, bahwa pihaknya sudah melakukan koreksi internal.

La Ode menyebutkan, memang prinsipnya Darwis Moridu mengaku emosi. “Saya ini marah karena sudah terlalu lama, saya itu sampai 3 jam menunggu. Sementara kita ini juga ada agenda-agenda lain,” ujar La Ode menirukan pernyataan Darwis Moridu saat koreksi internal yang dimaksud.

La Ode yang ditemui DM1 di ruang kerjanya, Senin (4/2/2019) mengatakan, Bupati Darwis marah pasti ada sebabnya. Sekarang ini, lanjut La Ode, dia (Darwis) merasa semua pihak memojokkannya.

La Ode tidak banyak berkomentar secara mendalam seputar sikap Darwis Moridu. Ia hanya menyarankan kepada pihak yang mengatur jadwal kegiatan Gubernur Rusli agar bisa benar-benar diperhatikan untuk tidak lagi ada kata terlalu lama tiba di lokasi acara.

La Ode juga mengemukakan, bahwa sebetulnya Darwis Moridu adalah sosok yang sangat memperhatikan masalah kedisiplinan sejak dulu.

La Ode pun mengungkapkan, bahwa Darwis Moridu mengaku akan terus melakukan “perlawanan” karena hingga saat ini dirinya merasa terus disalahkan oleh publik. (kab-ams/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up