Berdiskusi dengan Rizal Ramli, Nakamura Seolah Bersua Kembali dengan Gus Dur

DM1.CO.ID, TOKYO: Seorang peniliti Muhammadiyah dari Chiba University-Jepang, Prof. Mitsuo Nakamura, bersama Komaki (seorang mantan jurnalis di Nikkei-Jepang) menyempatkan diri berdiskusi dengan ekonom senior yang sekaligus sebagai tokoh nasional pergerakan untuk perubahan di Indonesia, Dr. Rizal Ramli, Sabtu (3/2/2018).

“Pak Rizal orang Padang, tetapi kenapa justru dekat dan tertarik ke NU (Nadhatul Ulama,–red)?” tanya Prof. Nakamura.

Pertanyaan dari penulis buku bertajuk “Bulan sabit terbit di atas pohon beringin: Studi Tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede sekitar 1910-2010” itu membuat diskusi di kediaman Prof. Nakamura itu, sesaat menjadi hening.

Tapi tanpa menunggu lama, Gus Romli (sapaan Rizal Ramli di kalangan NU) itupun bergegas menjelaskan, bahwa dirinya secara pribadi tidak pernah merasa ada dikotomi antara Muhammadiyah dan NU. Baginya, dua “institusi” itu sudah terserap menjadi satu di dalam dirinya.

“Jika Anda (Nakamura,–red) mengatakan, saya orang Padang, kenyataannya memang saya lahir di Padang. Dan mayoritas masyarakat Padang memang Muhammadiyah. Saat saya menjadi yatim piatu di usia 6 tahun, saya diboyong nenek saya ke Bogor. Di Bogor, mayoritas adalah warga NU,” jelas Rizal Ramli usai mencicipi sepotong kue di rumah Prof. Nakamura di Tokyo, Jepang.

Dalam penjelasannya yang diterima tribunnews.com, Sabtu (3/2/3019) dijelaskan, selain karena lingkungan masa kecil, NU juga telah menyatu dalam dirinya.

Sebagaimana diketahui, Rizal Ramli adalah sosok yang sangat disenangi dan bahkan amat dipercaya sebagai sahabat paling dekat oleh mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU), alm. KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur, yang juga merupakan Presiden RI ke-4.

Hubungan yang amat “harmonis” dengan Gus Dur itupun praktis membuat sosok Rizal Ramli sangat terterima di kalangan Nahdliyin atau yang lebih dikenal dengan NU Kultural itu.

“Saya bersahabat dengan Gus Dur sudah lama sekali. Semasa almarhum menjadi Ketua Umum PBNU, saya sering hadir di ceramahnya,” kenang Rizal Ramli.

Rizal Ramli-pun mengaku banyak mendapatkan ilmu dan pencerahan karena kerap berkunjung ke beberapa pesantren, seperti Tebu Ireng di Jombang, Al Hikam yang didirikan oleh almarhum KH Hasyim Muzadi di Depok, Jawa Barat.

Pesantren Al Kharimiyah yang dipimpin oleh KH A Damanhuri di Sawangan Depok, pesantren Mambaul Hikmah yang dipimpin oleh KH Sulton di Tegal.

“Ketika saya diundang ke pertemuan alumni pesantren Tebu Ireng, ratusan alumni yang hadir dalam pertemuan itu memberikan saya gelar Gus Romli,” tutur Rizal Ramli.

Rizal Ramli mengungkapkan, bahwa selain dengan NU, dirinya juga mempunyai hubungan cukup dekat dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah.

Ia menceritakan, dirinya juga kerap menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah. “Saya pernah menjadi saksi ahli dalam gugatan yang dilakukan oleh PP Muhammadiyah terhadap UU Nomor 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang dinilai pro pasar bebas dan asing. Gugatan itu diajukan ke Mahkamah Konstitusi dan berhasil menang,” cerita Rizal Ramli.

Rizal Ramli mengungkapkan, bahwa ia juga mempunyai hubungan dekat dengan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang banyak mempunyai alumni yang menjadi tokoh-tokoh Islam.

Antara lain, tambah Rizal, Din Syamsudin yang pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah dan almarhum KH Hasyim Muzadi yang pernah menjadi Ketua Umum PBNU serta Ustad Bachtiar Nasir yang menjadi penanggung jawab Aksi Damai satu juta Umat Islam pada tanggal 4 November 2016, yang lebih dikenal dengan gerakan aksi-damai 411, di Monas dan sekitarnya.

Rizal Ramli bahkan mengisahkan, bahwa dirinya sebenarnya punya historis juga dengan Pondok Pesantren Gontor. “Pada tahun 1976, saya dan seirang kawan, Irzadi Mirwan, pernah “nyantri” seminggu di Gontor,” ujar Rizal Ramli.

Mendengar rentetan penjelasan Rizal Ramli, Nakamura-pun mengaku memiliki kesamaan dengan mantan Menko Ekuin era pemerintahan Gus Dur itu.

Nakamura menyebutkan, bahwa meski penelitiannya hanya terfokus pada sejarah pergerakan Muhammadiyah, namun ia mengaku punya banyak kawan di Indonesia yang berasal dari kalangan Nahdlyin.

Bahkan, Nakamura mengungkapkan, bahwa almarhum Gus Dur pernah menyempatlkan diri bertandang ke rumahnya di Jepang.

Saat itu, kata Nakamura, Gus Dur bahkan sempat menantang dirinya untuk dapat meneliti lebih jauh gerakan Islam di Indonesia.

“Anda melihat sebagian dari Islam di Indonesia saja, kalau cuma Muhammadiyah itu kurang sempurna. Anda harus melihat NU (Nahdlatul Ulama,–red), coba ikut mengobservasi, pengamatan terhadap gerakan masyarakat NU,” kenang Nakamura menirukan ucapan Gus Dur.

Dan boleh jadi, kehadiran Rizal Ramli dalam diskusi di rumahnya itupun Nakamura seolah-olah berhadapan dan bersua kembali dengan sosok Gus Dur. (nt-dbs/dm1)

Komentar anda :

Muis Syam

2.757 views

Next Post

Launching PAKDOK, Seluruh Warga Kabupaten Gorontalo Punya “Dokter Pribadi”

Sel Feb 6 , 2018
Wartawan: Kisman Abubakar~ Editor: AMS DM1.CO.ID, GORONTALO: Untuk mempermudah layanan mengenai kesehatan, aplikasi yang baru muncul dan satu-satunya di Indonesia berada di Kabupaten Gorontalo ini Launching perdana Layanan Kesehatan PAKDOK berbasis Online pada Senin, (5/2/2018) di Ballroom Maqna Hotel Gorontalo, yang dihadiri Bupati Nelson Pomalingo, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, […]