Ahok Dibenci Karena Selalu Rasis, Beda dengan Henk Ngantung dan Pejabat Lain

Oleh: Abdul Muis Syam

DM1.CO.ID, JAKARTA: Banyak kalangan yang menilai, jika hingga saat ini Ahok selalu dibenci, itu sebetulnya BUKAN karena ia keturunan Cina atau berasal dari kaum minoritas.

Ahok dibenci karena INDIVIDUNYA semata yang doyan memancing situasi jadi ribut dengan melontarkan kata-kata rasis. Dan apabila situasi (yang dipancingnya itu) sudah jadi ribut, maka ia dengan mudahnya menempatkan posisinya sebagai sosok yang seolah-olah di-zalimi.

Menurut banyak pihak, Ahok begitu doyan melontarkan kata-kata kasar dan rasis lantaran didorong oleh sifatnya yang egois, arogan dan sombong. Ia seolah sangat paham, bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah merupakan “kekuatan” sekaligus “kelemahan” di negeri ini yang bisa dimanfaatkan untuk mendapat simpatik di dunia politik,– caranya–, cukup dengan memunculkan pro-kontra yang berbau minoritas Vs mayoritas. Intinya, mengadu-domba.

Seakan tak kapok dengan masalah Surah al-Maidah 51 yang kini menjeratnya, Ahok baru-baru ini kembali lagi melontarkan kata-kata rasis. “Mau jadi gubernur aja susah, ini lagi mau jadi wapres. Kafir mana boleh jadi pejabat di sini,” kata Ahok sambil tertawa di Balai Kota, Jakarta, Kamis (4/5/2017).

Secara individu, perilaku Ahok ini tidak pernah dilakoni atau dipraktikkan oleh kaum minoritas sejenis (keturunan Cina dan non-Muslim) yang juga pernah menduduki jabatan penting di negeri ini.

Mereka bahkan benar-benar sangat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa yang telah terbina dengan baik selama ini: “minoritas harus dilindungi, dan mayoritas harus dihormati”.

Beberapa nama kaum minoritas sejenis yang dimaksud yang pernah menduduki jabatan penting di negara ini, yaitu di antaranya adalah:

#MENTERI :
1. Amir Syamsuddin (Freddy Tan Toan Sin), Menteri Hukum dan HAM.
2. Bob Hasan, Menteri Perdagangan dan Perindustrian era orde baru, pengusaha.
3. Ignasius Jonan, Menteri ESDM.
4. Kwik Kian Gie, Menko Perekonomian, ahli ekonomi.
5. Laksamana Sukardi, Menteri Negara BUMN
6. Lie Kiat Teng, Menteri Kesehatan, ahli kesehatan.
7. Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan, ahli ekonomi.
8. Oei Tjoe Tat, Menteri Negara, politisi.
9. Ong Eng Die, Menteri Muda Keuangan, ahli ekonomi.

#POLITISI:
1. Alex Indra Lukman, politisi PDI Perjuangan, anggota DPR-RI.
2. Alvin Lie Ling Pao, politikus PAN, anggota Ombusman
3. Charles Honoris, keponakan obligor BLBI Samadikun Hartono, politisi PDI Perjuangan, anggota DPR-RI.
4. Christiandy Sanjaya, Wakil Gubernur Kalimantan Barat.
5. Hari Tjan Silalahi, Tokoh senior CSIS.
6. Jusuf Wanandi, politisi senior, mantan anggota MPR.
7. Sofjan Wanandi, Ketua Tim Ahli Wapres, politikus dan pengusaha, pendiri Gemala Group.
8. Setya Novanto, Ketua DPR-RI.

#PERWIRA TINGGI TNI:
1. Brigadir Jenderal TNI Teguh Santosa (Tan Tiong Hiem).
2. Mayor Jenderal TNI Iskandar Kamil (Liem Key Ho).
3. Brigadir Jenderal TNI Teddy Yusuf (Him Tek Ji).
4. Marsekal Pertama TNI Ir Billy Tunas, M.Sc.
5. Brigadir Jenderal TNI Paulus Prananto.
6. Laksamana Pertama TNI FX Indarto Iskandar (Siong Ing).
7. Mayjen TNI dr Daniel Tjen, Sp.S.
8. Brigadir Jenderal Surya Margono alias Chen Ke Cheng (Tjhin Kho Syin).

Dan tentu masih banyak lagi tokoh-tokoh Cina non-Muslim yang berkiprah di bidang lainnya, yang selama menjabat dan terlibat dalam pemerintahan sebagai pejabat negara tak pernah bermulut kasar dan rasis seperti Ahok.

Selain itu bisa diperhatikan, bahwa dari 101 Pilkada serentak 2017 yang lalu, tidak ada satupun daerah yang dihantam isu agama kecuali di Jakarta. Sebab, para calon pasangan kepala daerah di wilayah masing-masing tak ada yang bermulut seperti Ahok.

Olehnya itu, tak sedikit kalangan saat ini mencap, bahwa sesungguhnya Ahok adalah “penyakit” paling berbahaya yang bisa memecah-belah persatuan dan menghancurkan kedamaian di negeri ini.

Rizal Ramli selaku tokoh nasional yang juga pernah beristrikan seorang wanita Cina, ikut merasa prihatin dengan sikap dan sifat jelek yang dimiliki oleh Ahok tersebut. Ia pun membandingkannya dengan Gubernur Jakarta pertama yang beragama Kristen keturunan Tionghoa, yakni Henk Ngantung, kelahiran Manado.

Melalui akun Twitternya, Rizal Ramli menuliskan, “Kenapa ya Henk Ngantung, Gubernur Jakarta pertama yg Kristen dan Tionghoa disenangi, tapi kenapa si X disebelin, semua yg disentuh langsung menjadi kontroversi ?” 

Sangat bisa ditebak, si X yang dimaksud oleh Rizal Ramli tersebut tidak lain adalah Ahok.

Di dalam Twitternya, Rizal Ramli juga nampak mengupload lukisan hasil karya Henk Ngantung. “Karya lukisan Henk Ngantung, Gubernur Jakarta Kristen dan Tionghoa. Jiwanya halus ??,” tulis @RamliRizal.

Beragam balasan dan tanggapan dalam bentuk komentar atas tweet yang dimunculkan oleh Rizal Ramli. “Ahok sombong dan arrogant. Not proven yet,” tulis @dinosutarlet.

@bangfauziamril: “Henk sangat dekat dengan Rakyat kecil, sedangkan si X dekatnya sama Pengembang dan Naga.”

@BrataRobinto: “Henk Ngantung tdk pernah menorehkan luka di hati rakyat jakarta apalagi umat islam.”

Jauh sebelumnya, pada Nopember 2016, Letjen TNI (Purn). Suryo Prabowo juga telah menuangkan satu tulisan tentang Ahok di Facebook (FB) miliknya.

Dalam tulisannya tersebut, Suryo Prabowo mengajak sesama non-Muslim untuk bijak mengakui bahwa prilaku Ahok yang dipermasalahkan saat ini bukanlah terletak pada masalah Agama, dan Suku, melainkan murni adalah masalah hukum yang secara pribadi dilakukan oleh Ahok.

Tulisan Suryo Prabowo sampai saat ini (8 Mei 2017) telah 35 ribuan yang memberi like dan 37 ribu lebih yang membagikan ke kronologi FB masing-masing. Berikut tulisannya:

Buat temanku Non MUSLIM, di seluruh Indonesia & Dunia.
Saya cuma ingin menyampaikan, bahwa kasus #ahok ini kasus pidana. BUKAN kasus minoritas vs mayoritas. BUKAN juga kasus agama.

Kalau umat Islam marah. Itu karena #ahok telah menista agama Islam, dan tidak ditahan sebagaimana yang diberlakukan terhadap orang-orang sebelumnya yang diduga sebagai penista agama. Penerapan hukum seperti ini TIDAK ADIL. Sehingga membuat MARAH banyak orang. Bukan hanya umat Islam. Bukan hanya Pribumi.

Jadi #ahok itu tidak mewakili perilaku minoritas dan non muslim. Dia kriminal yang tidak perlu dibela atas nama persamaan agama dan status minoritas. Dia juga tidak pantas dijadikan simbol Bhinneka Tunggal Ika.

Saya yang Katolik. Ayah saya (almarhum) turunan Madura. Istri saya asli orang Batak Karo beragama Kristen, dan keluarga besar ayah dan ibu saya mayoritas Muslim, gak nyombong sebagai simbol kebhinnekaan.

Saya bersyukur jadi minoritas di Indonesia. Di negara tetangga yang mayoritas Katolik, mana ada orang non Katolik yang bisa bernasib seperti saya.

Di Indonesia, yang mayoritas Muslim, saya yang Katolik ini bisa lulus nomer satu, hampir diseluruh jenjang pendidikan militer. Prestasi saya dalam tugas operasi militer pun diakui. (Baca: Prabowo akui Letjen Suryo jago perang dari Timor-timur)

Hubungan mayoritas-minoritas di Indonesia jauh lebih baik daripada di AS. Lihat saja di AS baru satu orang Katolik jadi presiden, sudah tewas dibunuh (JF Kennedy).

Jangan biarkan keharmonisan mayoritas-minoritas dalam Bhinneka Tunggal Ika rusak hanya karena #ahok, dan negara mana pun, termasuk LSM nya tidak perlu mengajari kita cara hidup berbangsa dan bernegara.

Ada ribuan netizen yang memberi komentar, dan umumnya menyatakan salut kepada sang Jenderal purnawirawan tersebut, di antaranya pemilik akun FB Yuni Aryani dan Surya.

Betul banget pak … Saya tinggal di pulau Belitung … Etnis Ahok banyak banget di sini… Tp kita tetap aman damai… Saling menghormati .. tanpa pernah ada gesekan2 … Tapi kalo masalah Ahok…. Dialah yg membuat masalah … Tp kenapa jd di benturkan dng Isyu antar etnis ?? Padahal cuma sama dia aja orang gak suka… Karena sifat dan kelakuannya… Karena penista agama… Dan bukan karena dia China … Atau non muslim… seolah2 saat ini kita lg perang antar etnis … Padahal aslinya… Umat Islam cuma perang lawan 1 orang itu aja…,” tulis Yuni.

Penguasa yg bikin kasus ini melebar kemana2…. dr awal mereka lemparkan bola liar bahwa…. ada tokoh politik yg mendalangi aksi 411…… sekarang yg dilempar lbh parah…. dibilangnya mau ada makar…..,” komentar Surya.

Sejumlah lain menyebut, Ahok bukanlah sosok pemimpin yang diharapkan oleh para leluhur di negeri ini. Sikap dan sifatnya yang arogan dan angkuh sudah sangat melampaui batas, sampai-sampai Tuhan pun berani ia lawan jika ngaco. 

Dari situlah semua kemudian dapat disimpulkan, bahwa pribadi buruk dan sifat kasar seperti Ahok sesungguhnya tidaklah mewakili kaum minoritas yang selama ini sangat harmonis dengan kaum mayoritas di negeri ini. Sebab, ada banyak kaum minoritas yang jadi pejabat sejak dulu hingga saat ini, namun mampu menjaga “mulut” dengan menghormati kaum mayoritas atas nama Bhinneka Tunggal Ika.
(Penulis adalah Pengamat Independen, dan aktivis pergerakan kedaulatan rakyat pada MKRI)

Komentar anda :

Muis Syam

3.538 views

Next Post

Sabu 84 Kg Dari China Berhasil Digagalkan, 1 Pelaku Tewas

Sen Mei 8 , 2017
DM1.CO.ID, JAKARTA: Penyelundupan pengedaran Narkotika jenis sabu sebanyak 84 Kg dari China, berhasil digagalkan Petugas Bea Cukai bekerja sama dengan Direktorat Narkotika Bareskrim Polri. Komentar anda :