BREAKING NEWS
| Terkait Dugaan Korupsi GORR, Kejati Gorontalo Dalami Keterlibatan Gubernur Rusli? | Geger, Sejumlah WNI Tionghoa Sekap dan Aniaya Anggota TNI-AU di Medan | Mengaku Tobat, Sejumlah Kelompok Relawan Jokowi Bertekad Menangkan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 | Bendera “Agustusan” Dicopot Pengelola Apartemen Kalibata City, Warga Protes | Rakernas GSI, Ratna Sarumpaet: Kita Harus Jadi Provokator Terbaik untuk Perubahan

Ada 129 Kasus HIV/AIDS di Kota Gorontalo

Bagikan dengan:
Wartawan: Alfisahri Pakaya-
Editor: AMS

DM1.CO.ID, GORONTALO: Sejak tahun 2001 hingga 2017 ini, tercatat di Kota Gorontalo itu ada 129 kasus. Yaitu 54 HIV dan 75 AIDS. Dari kasus selama 16 tahun belakangan tersebut terdapat 38 orang yang meninggal.

Hal tersebut diungkapkan Walikota Gorontalo, Marten Taha, dalam Rapat Koordinasi Rutin dengan Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Gorontalo, di ruang kerja Walikota Gorontalo, Selasa (11/7/2017).

Selain dihadiri dinas-dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo, rapat tersebut juga diikuti pihak TNI, Polri, Kesehatan Pelabuhan, serta sejumlah instansi vertikal lainnya.

Selaku Ketua KPA, Marten Taha menyampaikan, bahwa pemerintah sejauh ini secara rutin melakukan rapat koordinasi dengan semua unsur yang terlibat dalam penanggulangan HIV/AIDS ini, terutama dalam hal pencegahan penyebarluasan virus HIV/AIDS di Kota yang berjuluk “Serambi Madinah” ini.

“Jadi saya kira dengan adanya koordinasi dengan seluruh dinas dan aparat terkait serta kerjasama yang sinergis, Alhamdulillah dengan kegiatan rakor seperti ini mereka memberikan masukan-masukan yang baik,” ujar Walikota Marten Taha selaku Ketua KPA Kota Gorontalo.

Dalam rapat koordinasi tersebut dibahas berbagai upaya sosialisasi penanggulangan HIV dan AIDS yang dilaksanakan KPA Kota Gorontalo, salah satunya adalah dengan cara membagi dua golongan komunitas masyarakat.

Dokter Yana Suleman selaku Sekretaris KPA Kota Gorontalo menyebutkan, dua golongan komunitas masyarakat yang dimaksud adalah, pertama, masyarakat yang beresiko tertular HIV dan AIDS. Dan yang kedua adalah komunitas secara umum.

Dan upaya pencegahan ini, kata dr. Yana, sangat intens dilakukan bagi komunitas yang beresiko tertular. Kemudian untuk komunitas yang umum, sosialisasi dilakukan adalah dengan cara penyuluhan terhadap dampak yang ditimbulkan dari virus HIV/AIDS.

“Hal ini terus dilakukan sampai dengan masyarakat itu sendiri sadar untuk melakukan tes HIV secara suka rela,” ujarnya.

Dokter Yana menjelaskan, bahwa sejauh ini dari hasil tes dan pendataan yang dilakukan ditemui sejumlah penderita AIDS. Sebagian besar adalah golongan wiraswasta, dan bahkan di antaranya terdapat sejumlah ibu rumah tangga.

(k17/DM1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up