DM1.CO.ID, GORONTALO: Setelah novel pertamanya diterbitkan dengan judul “Janda Corona Menggugah” pada 2020 silam oleh penerbit Nasmedia, Abdul Muis Syam sebagai penulis novel kembali menelurkan karya keduanya dengan judul yang lebih impresif dan interesan, yakni berjudul: “Bukan Prabowo”, yang diterbitkan oleh penerbit Madani Kreatif Publisher.
Muis (begitu sapaan akrab Abdul Muis Syam) dikenal sebagai wartawan senior. Ia pertama kali menekuni dunia jurnalistik pada tahun 1990-an di Harian Fajar (Jawa Pos Grup) di Makassar, lalu mendirikan dan menjalankan usaha media massa secara mandiri di Gorontalo pada medio 2000 hingga saat ini.
Ketika Covid-19 melanda dunia, Muis lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah karena adanya pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Di kala itulah, Muis terinspirasi menulis novel pertamanya, “Janda Corona Menggugah”. Poin dan pesan penting dalam novel ini adalah mengajak penduduk dunia, terutama di Indonesia agar segera “Stop Illegal Logging” atau menghentikan penebangan hutan secara ugal-ugalan.
Lalu pada medio Maret 2025, Muis kembali terpanggil menulis novel keduanya yang bejudul “Bukan Prabowo”. Inspirasi ide cerita novel ini tercetus bersamaan dengan munculnya gelombang isu “Indonesia Gelap” yang merambat secara tiba-tiba dan masif.
“Dalam novel ini, saya tidak sedang membela Presiden Prabowo. Sebab, saya sekali pun belum pernah berhubungan secara dekat dengan Pak Prabowo, apalagi menjadi orang dalamnya. Saya hanyalah orang yang terbiasa mengalami kegelapan, dalam arti kesulitan hidup dari masa ke masa. Sampai itu saya terpanggil untuk menguntai cerita, melukiskan harapan dan semangat agar jangan takut dengan kegelapan. Sebab, kegelapan sesungguhnya adalah ketika keburukan terlihat di depan mata namun tetap membiarkannya berlangsung,” tulis Muis pada kata pengantarnya dalam novel “Bukan Prabowo” itu.
Muis menyebutkan, novel ini telah diterbitkan oleh Madani Kreatif Publisher pada akhir Juni 2026 dengan spesifikasi sebagai berikut: Ukuran 14 x 20 cm, Ketebalan 336 halaman, Softcover emboss full-color, Laminasi glossy, Kertas isi dalam bookpaper BW, Genre inspiratif, ISBN Perpustakaan Nasional nomor 978-634-302-074-5.

Sinopsi Novel “Bukan Prabowo”
Seorang pemuda kampung yang miskin, bernama Riyat, harus berjuang keras membantu menambal beban berat hidup ibunya yang telah menjanda. Salah satunya dengan berkeliling kampung menjajakan pisang goreng selepas subuh bersama kedua adiknya.
Melalui jalur beasiswa, Riyat berhasil masuk kuliah di jurusan seni rupa di Jakarta, yakni atas prestasinya sebagai juara pencak silat dan karate sejak di bangku SMA. Meski begitu, Riyat masih tetap membantu ibunya dengan cara pulang ke kampung setiap Jumat sore hingga Senin subuh.
Tak hanya di kampung, di Jakarta pun Riyat secara diam-diam harus menjajakan lukisan karyanya setiap habis jam kuliah. Semua itu ia lakukan agar kedua adiknya juga bisa tetap bersekolah.
Di kampus, Riyat dikenal sosok mahasiswa cerdas yang pendiam namun tegas ketika bersuara. Sampai itu, Riyat termasuk sebagai salah satu pengurus BEM.
Suatu ketika, sejumlah BEM di beberapa perguruan tinggi menyusun rencana untuk menggelar demo terkait isu “Indonesia Gelap”. Dalam rapat persiapan demo itu, hanya Riyat yang mampu secara objektif menerangkan tentang “Indonesia Gelap”. Ia menegaskan “bukan Prabowo” yang menjadi idolanya, tetapi tidak semua persoalan yang melilit di negeri ini adalah “bukan Prabowo” yang menjadi penyebabnya.
Tak hanya itu, Riyat mampu menuangkan filosofi “Indonesia Gelap” secara positif di atas kanvas, yakni melalui lukisannya yang menggambarkan sosok Presiden Prabowo Subianto yang sedang mencium secarik kain merah putih dengan latar belakang malam yang gelap.
Dalam lukisannya itu, Riyat menyampaikan pesan bahwa hanya di malam gelap “bintang-bintang” akan bermunculan dengan gemilang. Dan bintang-bintang tersebut tidak lain adalah orang-orang berkualitas yang akan membentuk generasi-generasi terbaik bangsa.
Lukisan “Indonesia Gelap” itu dibeli oleh seorang pengusaha papan atas bernama Pak Syamsul melalui pertaruhan nyawa. Disebut demikian, karena Pak Syamsul nyaris kehilangan nyawa saat berputar-putar mengejar Riyat yang sedang menjajakan lukisan tersebut di sebuah pusat pertokoan.
Saat matanya berhasil melihat Riyat sedang berbaring istirahat di depan sebuah ruko tak berpenghuni dan jauh dari keramaian, di situlah bahaya mengintai. Pak Syamsul tak sadar jika dirinya telah dibuntuti sejak awal oleh dua begal bersenjata tajam.
Ketika mencoba mendekati Riyat, Pak Syamsul langsung diserang oleh dua begal tersebut. Untungnya, Riyat yang diam-diam telah mengawasi gerak-gerik dua penjahat itu berhasil menyelamatkan Pak Syamsul dari maut. Riyat menghajar hingga tumbang kedua begal tersebut.
Belakangan, Riyat baru mengetahui jika Pak Syamsul ternyata adalah ayah Meysha yang kini menjadi pacarnya. Meysha adalah juga mahasiswi di kampus yang sama dengan Riyat. Di kampus, Meysha sebelumnya dikenal sosok yang sangat sombong dan tak sudi berkawan dengan orang miskin.
Namun sejak Riyat berhasil menyelamatkan Meysha dari maut pada sebuah peristiwa perampokan, maka sejak itu Meysha berubah total menjelma wanita salihah sekaligus menjadi kekasih Riyat.
Pada penggalan alur cerita lainnya, Riyat juga berhasil menggagalkan rencana busuk seorang oknum perwira menengah polisi bernama Ponal, yang ingin menjadikan seorang kepala desa sebagai tersangka atas kasus dugaan penyelewengan dana desa, di Desa Suka Sekar.
Padahal, kasus ini muncul karena dana desa yang sedianya dialokasikan untuk sebuah proyek pembangunan di desa tersebut, malah dialihkan secara ilegal oleh bendahara desa ke tangan Ponal dengan status pinjaman.
Ponal melakukan itu karena juga untuk membiayai proyek di daerah lain yang sedang dikerjakannya. Alhasil, proyek milik Ponal tersebut macet, sehingga proyek di Desa Suka Sekar juga ikut mangkrak.
Untuk menutupi kelalaiannya, Ponal berusaha menjadikan Kepala Desa Suka Sekar sebagai kambing hitam. Namun upaya itu berhasil dibongkar oleh Riyat bersama seorang wartawan yang menjadi sahabatnya, bernama Amsy.
Dalam pengakuannya, Ponal membela diri bahwa semua kesulitan dan masalah proyek yang sedang dialaminya adalah karena ulah Presiden Prabowo yang telah melakukan kebijakan pemangkasan anggaran.
Ponal mengaku tak lagi bisa melakukan perjalanan-perjalanan dinas sebagai cara yang selama ini bisa menjadi penghasilan tambahannya, sekaligus dapat menambal biaya kekurangan dalam setiap proyek yang dikerjakannya.
Namun tudingan Ponal itu lagi-lagi ditepis oleh Riyat. Riyat menegaskan, semua kesulitan yang dihadapi oleh Ponal karena keserakahan Ponal sendiri, bukan siapa-siapa dan juga “bukan Prabowo” yang patut disalahkan, melainkan karena ulah sendiri yang memaksakan untuk berfungsi ganda sebagai Polisi sekaligus sebagai kontraktor.
Riyat belakangan baru mengetahui ternyata Ponal adalah paman pacarnya, adik kandung ibunya Meysha. Meski begitu Ponal akhirnya berhasil dibekuk setelah Amsy menurunkan berita berjudul: “Bukan Prabowo yang menilap Dana Desa Suka Sekar”.
Cara Pesan Buku Novel “Bukan Prabowo”
Bagi yang berminat memiliki atau penasaran ingin mengetahui jalan cerita secara lengkap yang tertuang dalam novel “Bukan Prabowo” ini, dapat segera memesan dengan langsung menghubungi nomor WhatsApp Abdul Muis Syam sebagai penulis yakni 0821-9621-5555, atau dapat dipesan melalui penerbit Madani Kreatif Publisher, Yogyakarta, dengan nomor 0851-7514-8998. Yuk, miliki novel ini. Jangan sampai kehabisan! (red)
