4 Oknum Aparat Desa Sukma Terima Bantuan Sembako, Siswa SMP “Dipaksa” Tandatangan

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, BONEBOLANGO: Pembagian bantuan Sembilan Bahan Pokok (Sembako) terkait pencegahan Covid19 di Desa Sukma, Kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone Bolango, pada Sabtu (25/4/2020), dikeluhkan oleh seorang warga desa setempat.

Adalah Zulkifli Ibrahim, warga desa tersebut, mengaku kesal dengan proses dan cara-cara pembagian Sembako yang dipertontonkan oleh aparat Desa Sukma.

Pasalnya, ungkap Zulkifli, diduga kuat terdapat 4 oknum aparat desa dan 2 oknum anggota “Parlemen” Desa Sukma yang ikut menerima bantuan Sembako tersebut.

Hal itu, menurut Zulkifli, adalah jelas-jelas merupakan pelanggaran aturan yang telah ditetapkan. Sebab, kata Zulkifli, penerima bantuan Sembako itu hanya diperuntukkan bagi warga pekerja serabutan yang kini sulit mendapatkan pekerjaan akibat Covid19.

Zulkifli yang juga merupakan Ketua KNPI Botupingge ini menjelaskan, jika mengacu aturan dari pemerintah daerah, maka aparat desa tidak lagi layak menerima bantuan, karena gaji mereka telah tergolong gaji PNS Golongan II.

“Aparat desa menerima gaji sebesar dua juta per-bulan, tentunya itu tidak akan berpengaruh pada perekonomian mereka saat Pandemik Covid19,” ujar Zulkifli.

Selain itu, Zulkifli yang mengaku menghadiri langsung pembagian Sembako tersebut, mengungkapkan terdapat keanehan dan keganjilan dalam prosesnya.

Zulkifli pun menceritakan, ketika sedang mewakili kakaknya dalam penyerahan Sembako itu, di saat ingin tanda-tangan berita acara penyerahan sembako, tiba-tiba dirinya (Zulkifli) diteriaki oleh salah seorang aparat desa yang seolah-olah melontarkan kalimat “mempermalukan” dirinya, bahwa bujangan tidak berhak menerima Sembako.

Mendengar lontaran kalimat yang terdengar jelas oleh seluruh warga di lokasi pembagian tersebut, membuat Zulkifli pun mengurung niatnya untuk menanda-tangani berita acara penyerahan Sembako tersebut sebagai pihak yang mewakili kakaknya.

Anehnya, keponakan Zulkifli (seorang siswi SMP) yang turut hadir di tempat itu yang justru dipaksa untuk menanda-tangani berita acara penyerahan sembako tersebut.

Keanehan berikutnya, ungkap Zulkifli, di antara 4 oknum aparat desa yang ikut menerima bantuan sembako tersebut justru juga adalah merupakan seorang bujangan. Dan bahkan sejumlah warga lainnya yang berstatus bujangan, juga mendapat bantuan Sembako.

Zulkifli pun menduga, tingkah laku dari aparat desa yang main teriak itu bisa dikategorikan sebagai model premanisme, bukan sebagai pelayan masyarakat.

Sementara itu Sekdes (Sekretaris Desa) Sukma,  Sumitro Gani, kepada Wartawan DM1 membenarkan adanya 4 oknum aparat desa yang ikut menerima bantuan Sembako.

Meski begitu, Sumitro Gani menyampaikan penyesalannya, atas adanya sikap aparat desa yang dinilai tidak sepantasnya diperlihatkan pada momen pembagian bantuan Sembako tersebut.

Sumitro sebagai Sekdes pun berjanji akan melakukan pembinaan kepada oknum aparat desa yang dimaksud.

Sementara itu Kepala Desa Sukma, Saleh Yusuf, saat dimintai keterangannya terkait masalah tersebut via WhatsApp, hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan. (res/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: