BREAKING NEWS
| Terkait Dugaan Korupsi GORR, Kejati Gorontalo Dalami Keterlibatan Gubernur Rusli? | Geger, Sejumlah WNI Tionghoa Sekap dan Aniaya Anggota TNI-AU di Medan | Mengaku Tobat, Sejumlah Kelompok Relawan Jokowi Bertekad Menangkan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 | Bendera “Agustusan” Dicopot Pengelola Apartemen Kalibata City, Warga Protes | Rakernas GSI, Ratna Sarumpaet: Kita Harus Jadi Provokator Terbaik untuk Perubahan

Rizal Ramli Usulkan, Pejabat Indonesia yang Pro-IMF Sebaiknya juga Ditangkap

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, JAKARTA: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era Presiden Gus Dur, Dr. Rizal Ramli menilai, IMF memanfaatkan krisis moneter di kawasan Asia Tenggara pada medio 1997-1998.

Menurutnya, skandal kasus dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), tak lepas dari peran International Monetary Fund (IMF).

Dalam acara ILC yang mengusung tema “Mega Skandal BLBI: Perlukah Dibuka Kembali?”, pada Selasa (10/7/2018), Rizal Ramli menjelaskan secara gamblang.

Ia menyebutkan, kasus BLBI ini memang untuk orang yang muda-muda membingungkan, karena mereka memang tidak mengerti apa sesungguhnya yang terjadi ketika itu.

Rizal Ramli menceritakan, ketika dirinya masih aktif sebagai Managing Director Econit Advisory Group, sudah jauh-jauh hari memberi peringatan, bahwa ekonomi Indonesia pada tahun 1997 akan mengalami krisis.

“Ada ‘awan mendung’ di atas ekonomi Indonesia, dalam bentuk utang swasta yang sangat besar, dalam bentuk current account yang defisit, dan dalam bentuk mata uang rupiah yang over value sebesar 8 persen,” ujar Rizal Ramli.

Meski Rizal Ramli sudah berusaha sekuat tenaga meyakinkan prediksi tersebut, namun semua analisanya dibantah ‘mati-matian” oleh ketika itu menteri keuangan dan Gubernur Bank Sentral dengan sejumlah argumentasi. Di antaranya, bahwa fundamental ekonomi Indonesia paling baik di Asia Tenggara. Sehingga Rizal Ramli diajak untuk tidak kuatir.

Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral saat itu bahkan berusaha ingin mematahkan peringatan dari Rizal Ramli dengan menuding, bahwa angka-angka analisa Rizal Ramli itu tidak benar. Anehnya Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral justru tidak mampu menunjukkan angka-angka yang dianggapnya benar.

“Kami mohon maaf, kami pada waktu itu satu-satunya ekonom yang meramalkan, bahwa  Indonesia akan kena krisis 1997-1998. Bank dunia, analis ekonom dalam negeri dan luar negeri selalu mengatakan, bahwa 1997 akan Oke sebagus tahun 1996, nggak usah kuatir dan macam-macam,” jelas Rizal Ramli menirukan tanggapan dari pihak yang sudah berniat mengundang IMF.

Masih dalam acara ILC, Rizal Ramli mengisahkan, bahwa pada Oktober 1997, dirinya bersama belasan ekonom lainnya dari pemerintah maupun swasta diundang untuk bertemu Michel Camdessus, Managing Director IMF.

Sebelum Camdessus bertemu dengan Presiden Suharto di Istana, dari seluruh ekonom yang hadir, hanya Rizal Ramli satu-satunya ekonom yang “meneriakkan” agar IMF tidak usah ikut-ikutan membantu krisis ekonomi Indonesia. “Yang lainnya, semua ekonom yang hadir, setuju  mengundang IMF (dengan alasan) karena kita (Indonesia) sudah kepepet,” ujar Rizal Ramli.

Rizal mengemukakan ketidaksetujuannya menghadirkan IMF dalam ikut campur membedah ekonomi Indonesia. Ia menyebutkan, bahwa pinjaman IMF itu sama sekali tidak digunakan  menolong ekonomi rakyat Indonesia, tetapi dipakai untuk melunasi utang bank-bank yang memberikan kredit ke Indonesia.

Pengalaman di Asia Afrika jika IMF ikut mengatasi krisis, kata Rizal, maka ekonominya akan anjlok lebih jelek dari pada seharusnya. “Perhitugan kami tanpa IMF, Indonesia tetap kena krisis, tetapi ekonominya hanya anjlok dari rata-rata 6 persen ke 2 persen. Namun dengan mengundang IMF, maka ekonomi yang tadinya rata-rata 6 persen anjlok ke minus 13 persen, (sebuah) krisis paling besar di dunia anjloknya,” jelas Rizal Ramli seraya menambahkan, bahwa iItulah mengapa negara lain tidak pakai cara IMF.

Pada waktu itu, katanya, yang kena krisis adalah Thailand dan Korea. Namun Korea kala itu bergegas, Presiden Kim Dae Jung bawa 50 konglomerat paling top dari Korea kumpul di New York untuk ketemu kreditor, dengan langsung adakan long walkout restructure kreditnya, sehingga Korea bisa pulih dengan cepat.

Sementara itu, Perdana Menteri Mahatir menolak mengundang IMF, karena dia dinasehati oleh Gubernur Bank Sentralnya, perempuan, Dr. Zeti, yang cerdas lulusan Inggris melarang IMF untuk diundang. Sebab, begitu IMF diundang, maka ekonomi Malaysia dibebani utang 20 Miliar Dolar, yang nantinya itu hanya untuk membayar utang, dan harga-harga akan dinaikan terutama harga energi, maka jika terjadi krisis tentu rakyat Malaysia bisa dipastikan akan menjatuhkan Mahatir.

Rizal Ramli juga mengungkapkan, bahwa di saat Anwar Ibrahim mengusulkan untuk mengundang IMF, maka seketika itu juga Mahatir langsung menangkap Anwar Ibrahim. “Yah, mungkin di Indonesia perlu juga kita tangkap yang pro-IMF ini,” sarang Rizal Ramli disambut tepuk tangan riuh dari para hadirin ILC tersebut.

Rizal menjelaskan, ekonomi malaysia mata uangnya stabil, Mahatir laksanakan tempori capital control, sementara uang yang masuk tidak boleh keluar. “Mata uang stabil, ekonominya tetap stabil 6 persen, ekonomi Malaysia tidak kena gores sama sekali,” jelas Rizal Ramli.

Sementara di Indonesia, lanjut Rizal Ramli, yang katanya profesor pintar-pintar tapi otaknya selalu jadi komprador IMF, malah undang IMF.

Dua tahun sebelum meninggal, Murdionosempat ditanyai oleh Rizal Ramli tentang tanda tangan dengan Camdessus itu. Di saat itu, Murdiono menyampaikan penyesalannya. “Mas Rizal, kesalahan saya paling besar adalah membujuk Pak Harto untuk terima IMF,” tutur Rizal Ramli menirukan ucapan Murdiono. (ams/dm1)

 

Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up