Rara Sang Pawang Hujan Dipuji, Marten Taha Dibully

DM1.CO.ID, EDITORIAL: Nama Rara Istiani Wulandari mendadak jadi perbincangan dan perhatian banyak orang. Tak hanya warga Indonesia, mata penduduk dunia juga tertuju kepada sosok sang pawang hujan di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu.

Tampak dengan sikap penuh percaya diri, Rara memainkan dan memamerkan “perannya” mengaspal di sirkuit Mandalika di tengah-tengah derasnya hujan. Ada yang kagum, namun ada pula yang mencibir dengan mengerut alis seolah memandang sebuah lelucon (dan bahkan kekonyolan) tingkat dunia.

Namun sejurus kemudian, Mbak Rara (sapaan akrab Rara Istiani Wulandari), langsung mendapat pujian karena dianggap berhasil menghentikan hujan tepat di saat mendekati waktu dimulainya balapan.

Terlepas dari deretan pro dan kontra yang bermunculan, keberadaan Rara sesungguhnya menjadi bukti “kecemasan” yang sangat luar biasa dari panitia (yang di belakangnya mungkin ada “perintah” dari presiden, maybe?), agar tak ada hujan yang mengguyur deras di sirkuit di kala balapan dilangsungkan.

Dihadirkannya sang pawang hujan dari Bali yang sekilas wajahnya mirip-mirip dengan Puan Maharani, untuk bertugas “mengusir” hujan dari Sirkuit Mandalika itu, sebetulnya tidaklah perlu memunculkan perbincangan yang meluas, apalagi menjadi bahan perdebatan.

Sebab, sumber masalahnya adalah terletak pada “Kecemasan” panitia yang amat berlebihan, yang seolah menganggap Tuhan tak punya pengertian menurunkan hujan di saat waktu yang tidak diharapkan.

Padahal, pihak BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mengungkapkan, bahwa tanpa menghadirkan Rara, hujan sudah diperkirakan berhenti tepat di waktu balapan MotoGP akan dimulai di Sirkuit Mandalika.

Pihak BMKG menjelaskan, bahwa hujan deras di Sirkuit MotoGP Mandalika pada Ahad (20/3/2022) memang sudah diperkirakan berhenti tepat di saat balapan akan dimulai. Jadi menurut BMKG, berhentinya hujan di sirkuit itu adalah bukan karena aktivitas ritual dari pawang hujan.

Guswanto selaku Deputi Bidang Meteorologi BMKG membeberkan, jika dilihat dari prakiraan nasional analisis dampak cuaca milik BMKG menunjukkan, bahwa hujan berhenti sekitar pukul 16.15 WITA di Sirkuit Mandalika, yaitu waktu yang dijadwalkan panitia MotoGP untuk memulai balapan.

“Kalau dilihat prakiraan lengkap di tanggal itu (Ahad, 20 Maret 2022) memang selesai di jam itu. Kira-kira jam 16.15 itu sudah selesai, tinggal rintik-rintik itu bisa dilakukan balapan kalau dilihat dari prakiraan nasional analisis dampak yang kita miliki BMKG,” kata Guswanto, Senin (21/3/2022) dilansir CNN, dikutip DM1.

Guswanto menegaskan, bahwa hujan bisa berhenti karena memang faktor durasi hujan sudah selesai. Dan kalaupun hujan berhenti sesaat pawang hujan usai melakukan ritual di salah satu ruas lintasan Sirkuit Mandalika, menurut Guswanto, itu hanyalah kebetulan.

Tak hanya Guswanto, seorang imam di Islamic Center of New York, Shamsi Ali, juga ikut angkat suara. “Pawang hujan dipertontonkan ke dunia. Akankah ini dianggap kelebihan atau kelucuan?” tulis Imam Shamsi Ali dalam akun Twitternya @ShamsiAli2, pada Senin (21/3/2022).

Penulis buku “Sons of Abaram: Issues unite & devide Jews and Muslims” itupun menyarankan, bahwa jika memang seorang pawang hujan mampu menghentikan hujan, maka pemerintah sebaiknya cukup membayar pawang hujan agar tidak lagi terjadi banjir di daerah-daerah yang sering dilanda banjir.

“Kalau sekiranya yang punya otoritas yakin pawang itu bisa menghentikan hujan, mungkin bagusnya dihadirkan di daerah-daerah yang sering banjir agar hujan dihentikan (sehingga tidak banjir lagi, red),” tweet @ShamsiAli2.

Andai saja saran dari Imam Shamsi Ali melalui tweet-nya itu bisa direstui oleh Jokowi selaku presiden, maka bisa ditebak kepala daerah yang pertama kali mengajukan permohonan “pengadaan” pawang hujan adalah Wali Kota Gorontalo, Marten Taha.

Bagaimana tidak, di kala panitia MotoGP sibuk menerjunkan Mbak Rara beraksi untuk menghentikan hujan di Sirkuit Mandalika, pada Ahad (20/3/2022) itu, di saat bersamaan Kota Gorontalo juga sedang diguyur hujan deras, sehingga dengan cepat sebagian besar wilayahnya mengalami genangan air (lebih tepatnya disebut banjir), termasuk ruang redaksi DM1 mendadak ikut menjadi “kolam” akibat kondisi jalan dan saluran drainase yang sangat buruk.

Di hari itu, di saat hujan sudah pulih di Sirkuit Mandalika, sebagian besar warga di Kota Gorontalo justru masih merasa “tersiksa”, terutama di sejumlah ruas jalan mengalami kemacetan. Kendaraan roda dua, tiga dan empat juga tampak tiba-tiba menjelma menjadi “motor-boat” alias perahu motor.

Namun tak sedikit pengendara bermotor roda dua terpaksa harus menghentikan perjalanannya karena “motor-boatnya” kemasukan air. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk “ketersiksaan” yang dialami warga Kota Gorontalo di kala banjir menerjang, tetapi selalu “terpendam” di hati setiap tahunnya lantaran merasa sudah lelah dan letih menjerit.

Ya, “ketersiksaan” warga Kota Gorontalo (beserta hampir seluruh kabupaten di Provinsi Gorontalo) akibat terjangan banjir yang  kerap terjadi setiap tahun, hingga saat ini belum bisa diatasi oleh para kepala daerah, termasuk wali kota dan para bupati serta gubernur dua periode sekalipun. “Apakah harus diberi kesempatan lagi untuk menjabat tiga sampai empat periode?” ujar kesal beberapa warga Kota Gorontalo.

Rasa kesal warga di daerah berjuluk “Serambi Madinah” terhadap permasalahan banjir yang tak pernah teratasi ini, meluap dan terlontar di sejumlah media sosial (medsos), seperti di Facebook dan WhatsApp Grup dengan nada yang menyinggung (mem-bully) wali kota, Marten Taha.

Ada beberapa netizen di medsos yang menggambarkan banjir dengan nada pertanyaan yang menyinggung. Di antaranya, apakah banjir ini adalah “hadiah” Hari Ulang Tahun Kota Gorontalo yang ke-294 (19 Maret 2022)?

Ada juga yang menyinggung seputar kinerja Marten Taha selaku Wali Kota Gorontalo belum terlihat maksimal. Yakni menyebut, bahwa banjir juga diperparah oleh buruknya drainase di Kota Gorontalo serta tumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik.

Sejumlah netizen dengan nada bercanda juga ada yang “menuding”, bahwa banjir yang terjadi di Kota Gorontalo ini, adalah akibat Mbak Rara si pawang hujan Mandalika mengarahkan awan mendung ke Kota Gorontalo hingga hujan deras.

Beberapa netizen mengungkapkan keprihatinannya, bahwa kasihan rakyat dihajar terus dengan kesusahan yang sangat panjang. Belum selesai masalah Covid19, ditambah lagi dengan kelangkaan minyak goreng yang belum teratasi, kini rakyat lagi-lagi diterjang banjir.

Bahkan ada warga yang bersuara di media massa menagih janji Marten Taha, yang menurutnya pernah berjanji saat kampanye pada periode pertama sebagai Wali Kota Gorontalo akan mengatasi masalah banjir.

Ada pula yang menyarankan (menyinggung), bahwa mungkin ada baiknya Mbak Rara si pawang hujan Mandalika itu diangkat jadi tenaga honorer di Kota Gorontalo, siapa tahu itu bisa dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi ancaman banjir.

Meski begitu, ada juga netizen yang membela, bahwa sumber banjir di Kota Gorontalo itu dari Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo. Sejauh ini belum ada upaya serius dan konsisten pemerintah menangani kawasan hulu di kedua kabupaten itu. Sementara kondisi lingkungan hidup Gorontalo cenderung memburuk karena ditambah oleh pengaruh global dari perubahan iklim.  Ada banyak upaya-upaya penanaman, pengerukan danau, pembuatan check Dam, dan lain-lain tapi gagal total, padahal akumulasi anggaran yang dikeluarkan negara untuk itu sangat besar.

Sebagian kalangan juga menilai, bahwa ancaman banjir selalu ada karena karakter dan mental masyarakat yang hingga saat ini masih banyak yang membuang sampah di sembarangan tempat. Bahkan ada yang membuang pasir di drainase atau di saluran. Sehingga kebiasaan buruk ini perlu menjadi perhatian untuk segera lebih dulu diperbaiki.

Terlepas dari semua pro-kontra yang muncul mengenai banjir di Kota Gorontalo, yang jelas Marten Taha selaku Wali Kota Gorontalo tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini secara nyata telah melakukan upaya-upaya yang serius dan maksimal dalam rangka mengatasi masalah banjir. Yakni, dengan terlaksananya sejumlah proyek, di antaranya proyek peningkatan Jalan Nani Wartabone, revitalisasi pusat perdagangan beserta drainasenya, dan lain sebagainya. Marten Taha bahkan menyebut 2022 ini sebagai tahun infrastruktur.

Pada akhirnya, tidak sedikit yang memberi kesimpulan, bahwa untuk mengatasi banjir yang kerap terjadi di Kota Gorontalo, tentu saja tidak perlu mendatangkan Mbak Rara, dan juga tidaklah elok jika hanya melontarkan bully kepada Marten Taha, melainkan harus memberi kesempatan di sisa jabatannya sebagai Wali Kota Gorontalo pada periode kedua ini, apakah mampu meninggalkan legacy (peninggalan sebagai “kenangan”) manis, ataukah buruk? (ams-dm1)

Komentar anda :

Muis Syam

16.596 views

Next Post

Menuju Pilwabup Koltim, PD Resmi Ajukan Nama Dalle Effendi ke Meja Bupati

Jum Mar 25 , 2022
DM1.CO.ID, KOLAKA TIMUR: Partai Demokrat (PD) Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), akhirnya lebih dahulu melangkah mengajukan figur Calon Wakil Bupati (Cawabup) Koltim Pengganti Antar Waktu (PAW) masa jabatan 2021-2026. Komentar anda :