PKB Desak Polisi Tindak Pelaku Pelecehan Sang Saka Merah Putih

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, JAKARTA: Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meminta Kepolisian RI menindak tegas pelaku pelecehan bendera merah putih dalam demonstrasi salah satu ormas Islam di Jakarta, Senin (16/1).

“Soal pelecehan bendera merah putih, itu memang melanggar aturan. Maka tolong kepada Pak Kapolri untuk ditindak,” kata Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dalam acara Musyawarah Pimpinan Nasional Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa di Jakarta, Kamis.

Dalam acara yang turut dihadiri Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian itu, Muhaimin menilai pelecehan bendera merah putih yang ditulisi kalimat “laillahailallah” dalam demonstrasi salah satu ormas itu adalah bentuk pemahaman Islam yang salah kaprah.

“Kemungkinan saking semangatnya. Dikira bendera Merah Putih ditulisi kalimat laillahailallah itu bentuk Islam Nusantara, jadi salah kaprah dan salah tafsir,” kata Muhaimin.

Menurut dia, akhir-akhir ini umat Islam di tanah air memang tengah mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang penuh dengan gairah. Buktinya, kata dia, 85 persen jamaah umroh di Mekah dan Madinah beberapa pekan lalu adalah orang Indonesia.

Namun, kata dia, kegairahan perkembangan Islam di tanah air ini, hendaknya disertai kecerdasan dalam berpikir sehingga tidak salah memahami Islam.

“Jangan karena saking semangatnya malah jadi salah paham. Ada orang tidak percaya akhirat, malah marah. Ada yang berbeda pendapat, mengancam-ancam. Ini kegairahan terhadap Islam yang salah, semangat yang tanpa arah,” ujar Muhaimin.

Dia  meminta Garda Bangsa selaku organisasi sayap PKB menjadi solusi, mediator dan sekaligus mendampingi umat Islam, agar tidak salah dalam memahami agama.

Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa, Cucun A. Syamsurijal mengatakan sejauh ini organisasinya telah membentuk kelompok Garda Santri di seluruh perwakilan ranting Garda Bangsa untuk memberikan pemahaman mengenai Pancasila dan kegamaan.

“Garda Bangsa berkomitmen untuk membendung hal-hal negatif terutama terkait pemahaman radikalisasi,” ujar Cucun sembari menekankan, derasnya arus informasi dan globalisasi serta perkembangan teknologi belakangan ini telah membawa perubahan pada masyarakat.

Perubahan yang dipahami secara salah kerap kali justru menghadirkan ancaman dan resah terhadap anak muda, tutup Cucun.

(atr/DM1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up