HARI INI :

PARTNER PEMERINTAH, KAWAN RAKYAT

“Penyelamatan” Garuda: Dari Rizal Ramli Hingga ke Erick Thohir

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, JAKARTA: Boleh dikata, Dr. Rizal Ramli adalah sosok pelaku “sejarah” yang pernah dengan tegas dan sigap menyelamatkan “nyawa” PT. Garuda Indonesia Tbk, di masa silam, tepatnya pada awal tahun 2000.

Saat tampil di ILC TV-One yang bertajuk “Garuda Diserempet Moge”, Selasa (10/12/2019), Rizal Ramli melukiskan “flash-back” pengalamannya dalam memulihkan sakit yang sedang diderita oleh sang “Garuda” di masa lalu.

“Awal 2000-an, waktu saya jadi Menko (Menteri Koordinator Ekuin era Presiden Gus Dur), saya dapat ancaman dari para kreditor. Garuda tidak mampu bayar utang 1,8 Miliar Dolar Amerika pada pembelian pesawat Airbus,” ungkap RR (sapaan akrab Rizal Ramli).

Kala itu, kata RR, kreditor mengancam, bahwa apabila pesawat Airbus milik Garuda itu terbang di luar Indonesia, maka akan langsung dilakukan penyitaan.

Karena merasa ditantang dan diancam, RR pun kemudian mengirim utusan untuk menyampaikan pesan para kreditor itu: “silakan sita pesawat tersebut”.

“Kalau (kemudian) benar disita, akan kami tuntut konsorsium bank Eropa (kreditor) ini ke Pengadilan Frankfurt,” ujar RR.

RR mengaku akan membongkar habis borok pembelian pesawat airbus tersebut melalui tuntutannya. Bahwa, setiap kali pembelian pesawat Garuda pada zaman itu, pasti ada “mark-up” hingga menyentuh angka lebih dari 50 persen. Dan konsorsium bank ini membiayai “mark-up” tersebut.

Mark-up yang dimaksud RR, adalah mereka memperoleh bunga dari kredit yang secara legal tidak legitimate. “Kita yakin, kalau kita ajukan di Frankfurt, kita bisa menang. Direksi bank bisa masuk penjara, harga saham jatuh. Dan mereka kena denda. Orang Barat paling takut kalau dituntut hukum,” ungkap RR.

Akhirnya, belasan konsorsium bank itupun bergegas ke Jakarta untuk bertemu dan memohon kepada RR, agar kasus ini tidak dibawa ke pengadilan.

Kalau tidak ada “budaya” mark-up, lanjut RR, Garuda dipastikan aman-aman saja, dan bisa bayar utang. “Tapi karena kebiasaan ‘mark-up‘, ada masalah utang, Garuda tidak mampu atau gagal bayar utang,” tutur mantan Komisaris Utama PT. Semen Gresik ini.

Dari pertemuan tersebut, RR mengajukan restrukturisasi utang kepada konsorsium kreditor itu. Dan mereka setuju, akan tetapi minta dijamin 100 persen, dari angka 1,8 Miliar Dolar AS.

“Kami jawab, jalau kami punya uang untuk membayar garansi itu, kami tidak perlu kalian (konsorsium kreditor). Artinya kasus ini juga dilanjutkan ke pengadilan,” kesal mantan Penasehat Panel Ekonomi PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) ini.

Dari situasi seperti itu, kata RR, akhirnya dicari jalan. “Dan disepakati, (pertama) kita memberi token garansi hanya 100 juta Dolar,” ujar RR.

Kedua, RR tidak mau token garansi itu keluar dari Kementerian Keuangan, melainkan dari bank pemerintah, karena takut ada apa-apa.

Setelah tidak berada di dalam pemerintahan, RR sebagai ekonom senior tetap memantau “gerak-gerik” Garuda. Dan hingga kini, RR pun mengendus adanya banyak masalah yang melilit di tubuh Garuda Indonesia itu.

Bahkan pada awal Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, RR telah mengingatkan berkali-kali (melalui prediksi) akan adanya kerugian menahun yang dialami Garuda Indonesia.

Salah satu yang menyebabkan kerugian itu, menurut RR, adalah karena para direksi tidak mampu mengambil keputusan strategis, dan itu adalah sebagai akibat penempatan manajemen yang tidak sesuai kompetensi.

Dalam menyoroti kondisi Garuda Indonesia, RR mengaku merasa aneh selalu mendapat “serangan” dari banyak buzzer, bahkan dari pihak yang mengaku ahli.

“Merasa aneh. Waktu saya ungkapkan ini (masalah-masalah di Garuda), saya dibantah oleh banyak ahli-ahli, ahli-ahli kaleng-kalengan. Ada ahli marketing jagoan yang “menyamar” (tiba-tiba) jadi ahli keuangan dan akuntan mengatakan ini wajar, nggak ada masalah dan sebagai-sebagainya. Saya sedih betul ya, bangsa kita ini banyak bangsa pintar-pintar hebat-hebat, tapi keinginan untuk mengabdi dengan cara menjilat, itu luar biasa. Melupakan etika, melupakan logika, dan melupakan profesionalisme,” jelas RR, disambut tepuk-tangan dari para hadirin di ILC, Selasa (10/12/2019) itu.

RR mengungkapkan, kondisi BUMN hari ini adalah 8.000 Triliun. Dan kontribusi yang pernah “dipersembahkan” oleh Rizal Ramli untuk menaikkan aset itu adalah 1.000 Triliun, yakni dengan melakukan revaluasi aset tahun 2000 dan 2015.

“Return and equity BUMN hanya 5 persen. Kasarnya, seandainya kita bubarkan ini semua BUMN, kita taruh uang di bank, (itu) bisa dapat 8 persen, paling nggak bisa negosiasi 10 persen. Jadi (mengaitkan dengan kondisi sekarang) ngapain aja direksi selama ini, dan saya tahu Menteri BUMN yang baru pasti kaget, PTPN rugi Rp.50 Triliun, Krakatau Stell rugi 38 Triliun, perusahaan-perusahaan karya kontsruksi, utang dibandingkan dengan EBITDA-nya 8 sampai 9 kali. Kalau di swasta 4 kali aja sudah heboh,” terang RR.

Dibanding Menteri BUMN sebelumnya, RR mengaku percaya terhadap Menteri BUMN saat ini, Erick Thohir. “Karena yang sebelumnya sangat moody, kalau dia senang sama seseorang, diangkat. Kalau dia nggak suka, dipecat. Bahkan ada yang sudah dipecat diangkat lagi. Pertamina diganti direksinya tiga kali, bagaimana mau kerja? Jadi ibu yang moody ini terus dilindungi oleh bapak Presiden, saya nggak tau alasannya apa. Tetapi kejadian ini sekarang mulai terbuka semua di bawah menteri BUMN yang baru,” ujar RR.

RR mengaku sangat senang dengan gebrakan Erick Thohir dengan langsung mengambil sikap tegas memecat para direksi yang dianggap bermasalah. “(Erick Thohir) berani, tegas. Saya percaya banyak masalah-masalah di Indonesia bisa diselesaikan. Kalau kita pilih orang bagus, kita bisa tidur. Tapi kalau kita pilih orang yang bermasalah, kita-nya yang tidak bisa ditidur,” tutur RR.

“Saya katakan, (bahwa) saya salut sama Erick. Tadinya saya berharap menteri yang bakal merubah banyak hal di Indonesia, namanya Nadiem, Menteri Pendidikan itu. Tapi sampai saat ini sudah satu setengah bulan dengan pidato kiri-kanan doang, tuh si Nadiem. Contohlah prestasi dan kinerja seperti Erick,” tandas RR.

Seperti diketahui, paskapai penerbangan plat merah Garuda Indonesia saat ini sedang keserempet masalah penyelundupan motor Harley Davidson serta sepeda Brompton. Dan hal itu yang membuat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir akhirnya resmi mencopot lima direksi Garuda Indonesia.

Kelima direksi tersebut yakni, Ari Askhara (Direktur Utama), Bambang Adi Surya (Direktur Operasi), Mohammad Iqbal (Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha), Iwan Joeniarto (Direktur Teknik dan Layanan), serta Heri Akhyar (Direktur Human Capital). (dyt/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
  • 12856