HARI INI :

PARTNER PEMERINTAH, KAWAN RAKYAT

Mengukur (Soal) “Ketololan” Nelson Pomalingo

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, TAJUK RENCANA: Seminggu belakangan ini, cukup banyak hal-hal menarik yang bermunculan. Mulai dari yang lucu, menyedihkan, menjengkelkan, memprihatinkan, meresahkan, hingga ke hal-hal membanggakan serta yang menginspirasi. Dan semuanya karena umumnya dipicu oleh persoalan virus Corona.

Sungguh, virus Corona kini benar-benar menjadi perhatian serius bagi penduduk dunia, termasuk di Indonesia, dan tak luput di Provinsi Gorontalo, yang hampir semua pihak harus terkuras pikiran dan energinya kepada masalah penanganan virus yang telah mewabah tersebut.

Tidak sedikit korban yang kini timbul akibat “serangan” virus Corona, baik nyawa, waktu, maupun materi. Pergerakan ekonomi jadi terganggu lantaran tempat-tempat usaha, mulai hotel, rumah makan, salon/spa, rental gedung resepsi, hingga cafe, ditekankan ditutup sementara waktu.

Dan khusus di Provinsi Gorontalo, yang meski masih dinyatakan nol positif Coronavirus Disease (Covid-19), namun Rusli Habibie sebagai Gubernur Gorontalo telah melakukan berbagai upaya antisipasi dengan menetapkan Provinsi Gorontalo status Siaga Darurat virus Corona.

Rusli Habibie bahkan dengan tegas meminta seluruh kepala daerah se-Provinsi Gorontalo, agar masing-masing memusatkan dan mencurahkan perhatian untuk keselamatan warganya, yakni dengan tidak lengah terhadap bahaya virus Corona. Sebab mencegah tentu lebih baik, daripada mengobati.

Namun sungguh mencengangkan sekaligus memprihatinkan, terdapat dua bupati di Provinsi Gorontalo malah sempat dinilai bersikap “aneh”, alias seolah acuh tak acuh dengan kondisi darurat virus Corona.

Pertama, di Kabupaten Boalemo. Bupati setempat pada Senin (16/3/2020), sempat menerbitkan Surat Edaran secara resmi, yang di antaranya meliburkan anak sekolahan, dan menegaskan para ASN untuk bekerja di rumah masing-masing.

Namun belakangan, pada Selasa (24/3/2020), Darwis Moridu selaku Bupati Boalemo malah menganulir Surat Edaran yang telah ditanda-tanganinya sendiri.

Akibatnya, tidak sedikit masyarakat Boalemo pun mengaku kesal dan bahkan geram terhadap sikap bupati tersebut yang dinilai tak punya pendirian itu.

Sikap “aneh” yang kedua, yakni oleh Nelson Pomalingo selaku Bupati Gorontalo.

Lantaran merasa tersinggung dengan status  yang ditulis, pada Jumat (20/3/2020), oleh seorang netizen bernama Rion Kaluku di salah satu grup Facebook, Nelson Pomalingo pun bergegas mendatangi Mapolres Gorontalo untuk mengadukan Rion Kaluku secara hukum, pada Sabtu (21/3/2020).

Dalam kondisi normal, memasukkan aduan atau lapor-melapor ke polisi, tentu dinilai bukanlah hal yang aneh.

Tetapi pada situasi seperti ini, di saat Provinsi Gorontalo diketahui telah ditetapkan dalam status Siaga Darurat virus Corona, maka tentunya tidak elok mempertontonkan sikap yang cenderung mengarah kepada kepentingan individu “atas nama” ketersinggungan pribadi.

Di mata banyak pihak, Nelson Pomalingo sebagai pemimpin (bupati) yang bertitel profesor dan mantan rektor di dua perguruan tinggi di daerah ini, tidak seharusnya mudah “terpancing” dengan status-status “bernada fals” yang berserakan di media sosial. Itu ukuran yang pertama.

Yang kedua, apapun pokok permasalahannya, status Rion Kaluku yang mendadak viral itu secara penulisan tidaklah memenuhi unsur delik hukum.

Sebab, ada berapa banyak orang di daerah ini yang bernama Nelson? Artinya, bisa saja Rion Kaluku mengelak, bahwa Nelson yang dimaksud adalah teman atau seseorang yang juga bernama Nelson yang kebetulan memiliki perspektif yang berbeda terhadap permasalahan yang sedang diperbincangkan atau yang diperdebatkan (soal papan iklan Bank SulutGo) tersebut.

Kemudian yang ketiga. Jika mencermati untaian kalimat utuh yang ditulis oleh Rion Kaluku tersebut, sangat nampak bahwa status itu bukanlah sebuah statement, apalagi tudingan.

Status itu sangatlah jelas dan bisa dipastikan hanyalah merupakan rangkaian pertanyaan,–sekali lagi pertanyaan (bukan pernyataan). Dan itu dapat dibuktikan dengan adanya tiga tanda tanya (?) dalam kalimat atau status tersebut.

Yang keempat, jika seandainya nama yang dimaksud dalam status tersebut adalah benar sosok Nelson Pomalingo, maka status yang bernada pertanyaan itu seharusnya ditanggapi secara bijak dan arif, yakni cukup dengan memberikan jawaban dan penjelasan terkait pokok yang dipertanyakan oleh Rion Kaluku tersebut.

Artinya, daripada harus menghabiskan tenaga, waktu dan pikiran juga anggaran yang tidak sedikit dengan maksud untuk memenjarakan Rion Kaluku yang belum tentu bersalah itu, maka sungguh sangat lebih baik apabila Nelson memberikan “kuliah” (penjelasan) atas permasalahan yang dipertanyakan tersebut.

Atau jika Nelson Pomalingo sebagai bupati tak punya banyak waktu untuk memberikan penjelasan, maka tak ada ruginya untuk memerintahkan salah seorang pejabat atau staf dari instansi terkait (di lingkup Pemkab Gorontalo) yang berkompeten untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan tersebut.

Dan jika hal itu dilakukan, maka bukan hanya Rion Kaluku yang bisa mendapatkan jawabannya, melainkan juga publik secara umum bisa ikut mendapatkan penjelasan terkait permasalahan yang dipertanyakan dalam status tersebut.

Yang kelima, sudah menjadi rahasia umum, bahwa publik memandang saat ini Nelson Pomalingo dililit cukup banyak “masalah” yang belum tuntas, sehingga sebagai sosok yang ingin kembali maju dalam Pilkada, maka tidak seharusnya menambah masalah baru.

Keenam, tak ada salahnya untuk kembali saling mengingatkan adanya firman Allah dan sejumlah hadis mengenai amarah (ketersinggungan), dan betapa pentingnya sikap memaafkan.

1. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Qs. Al-Imran: 133-134).

2. “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S Ali Imran: 133-134)

3. Allah berfirman dalam Hadis Qudsi yang artinya: “Nabi Musa a.s bertanya kepada Allah, “Ya Rabbi! Siapakah di antara hamba-Mu yang lebih mulia menurut pandangan-Mu?” Allah berfirman: “Ialah orang yang apabila berkuasa (menguasai musuhnya), dapat segera memaafkan.” (Kharaithi dari Abu Hurairah r.a; dari Abu Hurairah ra).

4. “Barang siapa yang memaafkan saat ia mampu membalas, maka Allah akan memberinya maaf (ampunan) pada hari kesulitan”. (HR. At. Thabrani).

5. “Bukanlah orang yang kuat itu yang dapat membanting lawannya. Kekuatan seseorang itu bukan diukur dengan kekuatan, tetapi yang disebut orang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya pada waktu marah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

6. “Barangsiapa yang menahan marah, padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah akan menyerunya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, hingga ia dipersilakan oleh Allah Ta’ala untuk memilih bidadari yang ia sukai”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Dari firman Allah dan juga sejumlah hadis tersebut, apabila dihayati dengan penuh kesungguhan, maka insyaAllah hidup akan terhindar dari akibat “kebegoan, kebodohan dan ketololan” kita sendiri tanpa sadar, termasuk bego dan tolol menghadapi penanganan pencegahan wabah virus Corona. Wallahu a’lam bish shawab. (ams/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
  • 12856