Kejahatan Kerah Putih Makin Leluasa, Rizal Ramli: Itu Oligarki, Saatnya Menegakkan Reformasi!

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, PERSPEKTIF: Kejahatan Kerah Putih (White Collar Crime), merupakan sebuah istilah yang didefinisikan sebagai suatu tindak kecurangan yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja pada sektor pemerintahan maupun swasta, yang memiliki jabatan dan wewenang untuk dapat mempengaruhi suatu kebijakan dan keputusan.

Tokoh nasional Rizal Ramli yang sudah sangat berpengalaman berada di dalam pemerintahan maupun di BUMN, mengaku mengetahui sedikit banyaknya “type” atau jenis orang-orang yang doyan melakukan kejahatan kerah putih tersebut.

Menurut Rizal Ramli, pelaku kejahatan kerah putih paling banyak dilakukan oleh mereka yang ganteng-ganteng bagai malaikat dan cantik-cantik bak bidadari, yang harum semerbak mewangi.

Rizal Ramli menunjuk contoh. Yakni, misalnya saat ini, adanya dugaan kasus Ruangguru oleh PT. Amarta, dan kolusi-korupsi atas “kue” stimulus Covid19 yang diduga dilakukan para pejabat, di antaranya elite politik dan staf khusus istana yang masih berusia muda.

Itu, menurut Rizal Ramli, menunjukkan bahwa kejahatan kerah putih mulai nampak memiliki “generasi pelanjut”, yang nampak parlente dan ganteng-ganteng serta cantik-cantik, juga sangat wangi.

Tentang “ulah” sejumlah staf khusus di istana dari kalangan “milenial” itu, tentu saja menambah daftar panjang krisis kepercayaan kepada pemerintah saat ini.

Di Indonesia, kata  Rizal Ramli, kejahatan seperti itu sangat kerap terjadi di mana-mana, terutama di lingkungan pemerintahan, namun pelakunya selalu saja lolos. Misalnya, para pelaku Skandal Bank Century dengan kerugian negara Rp.6,7 Triliun.

Rizal Ramli mengungkapkan, ketika Menteri Keuangan dijabat oleh Boediono, sejumlah kebijakan diubah, sehingga salah satunya membuat pemerintah Indonesia harus membayar bunga sebesar Rp.60 Triliun per-tahun dalam skandal BLBI selama 30 tahun. Dan ini, menurut Rizal Ramli, termasuk kejahatan kerah putih yang luar biasa kejinya.

Terkait hal tersebut, kata Rizal Ramli, itu sudah diakui sendiri oleh Boediono. Bahwa kebijakan BLBI yang diberlakukan IMF dan pemerintah saat itu, terbukti salah dan hanya menjadi beban yang amat berat bagi ekonomi rakyat Indonesia.

Pengakuan Boediono tersebut, jauh sebelumnya sebetulnya telah dinyatakan  oleh Rizal Ramli, namun suara Rizal Ramli “diredam” oleh isu-isu pengalihan, bahkan tak jarang Rizal Ramli “diserang” balik dengan pernyataan-pernyataan yang tak berbobot.

Padahal, prediksi-prediksi Rizal Ramli selama ini tak pernah meleset. Termasuk kondisi ekonomi yang makin kacau-balau seperti saat ini, sesungguh telah berkali-kali diingatkan oleh Rizal Ramli, agar pemerintah berhati-hati terhadap pengelolaan keuangan negara, terlebih dalam situasi pandemic Covid19.

Bukannya menyerap masukan dan ide Rizal Ramli, mantan anggota panel ekonomi di badan dunia PBB itu malah di-bully oleh ribuan buzzer dan influencer, dan seiring itu pemerintah justru “membuka” keleluasaan kepada sejumlah staf khusus untuk “menyedot” kas negara.

Sehingganya, serangan para buzzer kepada mantan Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur itu, malah membuat nama Jokowi sebagai presiden makin “busuk”.

Ditambah lagi dengan upaya-upaya yang kurang memiliki terobosan dari pihak pemerintah, tentunya hanya akan membuat “kepanikan” yang semakin meninggi di tengah-tengah masyarakat.

Olehnya itu demi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia, Rizal Ramli pun mengingatkan kepada publik dan pemerintah, untuk saatnya menegakkan kembali amanah reformasi yang saat ini sudah melenceng jauh karena telah dibajak oligarki, yang membuat kejahatan kerah putih pun makin leluasa “merampok” uang rakyat. (dml/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: