Desa Buko: Dari Ratusan Ton Ikan Teri Per Tahun, Hingga Obsesi Wisata “Separuh” Bali

Bagikan dengan:

Wartawan: Mulkan dan Syarifudin | Editor: AMS

DM1.CO.ID, BOLMUT: Desa Buko, Kecamatan Pinogaluman, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Saat ini juga sedang giat melaksanakan berbagai upaya pembangunan di segala sektor.

Berpenduduk 832 jiwa dari 283 Kepala Keluarga (KK)– data BPS 2018, Desa Buko ini terdiri 50 persen nelayan dan petani, selebihnya adalah wiraswasta dan PNS, serta sebagian kecilnya berprofesi serabutan.

Dari bincang-bincang wartawan DM1 dengan Kepala Desa (Kades/Sangadi) Buko, Wendy Wawan Jusuf, S.Pd.I, Selasa (24/9/2019) terungkap beberapa hal terkait upaya-upaya pembangunan yang sedang dilaksanakannya selama ini.

Wendy yang telah menjabat 11 tahun (pada periode kedua) selaku Sangadi di Desa Buko ini mengurai program kerja yang telah ditunaikannya. Yakni di antaranya, pembangunan jamban atau MCK, gedung PAUD, kantor desa, pembangunan masjid dan Taman Pengajian Alquran (TPA), gedung Posyandu, sarana olahraga seperti lapangan voli dan futsal, serta saluran drainase, juga irigasi pembuangan di persawahan.

Selain sejumlah program yang saat ini sedang berjalan, kata Wendy, juga ada yang sama sekali belum terwujud. Yaitu rencana pembangunan jalan antardesa yang menghubungkan Desa Buko dengan Desa Dalapuli Barat. “Masalahnya karena itu harus dalam bentuk kerja sama antardesa,” ujar Wendy.

Ada sejumlah hal menarik yang diungkapkan oleh Sangadi Wendy. Yakni di antaranya terkait keinginan pengelolaan pariwisata Pulau Kramat Desa Buko. Wendy mengaku punya obsesi untuk menjadikan pulau ini sebagai salah satu destinasi unggulan.

Wendy bertekad membenahi dan menata Pulau Kramat agar dapat dinikmati sebagai objek wisata menarik. “InsyaAllah paling tidak akan menyerupai daerah yang pernah kami kunjungi. Kalaupun Pulau Kramat tidak bisa seperti Bali, paling tidak separuh dari Bali kami bisa tiru,” ungkap Wendy serius seraya berharap anggaran 2020 dapat mencukupi.

Menurut Wendy, untuk benar-benar dapat mewujudkan Pulau Kramat sebagai objek wisata yang diyakini mampu meningkatkan perekonomian daerah ini, tentu saja harus mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolmut dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut.

Wendy menyebutkan, potensi wisata bahari yang dimiliki Desa Buko ini bukan hanya Pulau Kramat, tetapi juga ada sejumlah pulau terluar lainnya, seperti Pulau Bongkil.

Pulau-pulau tersebut, kata Wendy, sangat diyakini tidak hanya mampu mengangkat perekonomian daerah, tetapi juga secara nasional. Sebab, keindahan pulau-pulau ini juga tak kalah bersaing dengan daerah-daerah lainnya, bahkan dengan Bali sekalipun.

Sayangnya, menurut Wendy, perhatian dan dukungan Pemkab Bolmut maupun Pemrov Sulut terhadap pengembangan lokasi wisata tersebut, sejauh ini belum terlihat.

Padahal, kata Wendy lagi, pulau-pulau tersebut adalah aset terbesar yang menyimpan potensi wisata yang sangat bernilai tinggi yang dimiliki oleh Bolmut dan Sulut.

Hal menarik lainnya yang diungkapkan Sangadi Wendy adalah terkait bidang perikanan. Dia menyebutkan, di desa ini amat melimpah hasil tangkapan ikan teri, sebab para nelayan di desa ini lebih cenderung menangkap ikan putih (sebutan ikan teri di daerah ini).

Meski jumlah nelayan tak seberapa, namun menurut Wendy, hasil tangkapan ikan Teri di desa ini lebih banyak dibanding dengan di daerah lainnya. Saking banyaknya, sampai-sampai warga dari luar pun tak sedikit berdatangan ke desa ini hanya untuk membeli ikan Teri untuk dijual kembali.

Terkait upaya pengembangan pengelolaan ikan teri, Wendy mengemukakan, beberapa waktu silam sejumlah warga di desa ini sudah menggeluti home-industry.

“Sejumlah pengusaha kecil di Buko ini tidak hanya dalam bentuk mentah yang mereka kemas, tapi juga ada kemasan dalam bentuk yang sudah dimasak. Kemasan-kemasan ikan Teri itu lalu mereka masukkan (titip jual) ke dalam toko-toko. Tapi sekarang usaha mereka itu sedikit sudah kendor karena tidak adanya pembinaan dan dukungan modal,” ujar Wendy.

Di sisa masa jabatannya sebagai kepala desa, Wendy mengaku akan terus berusaha untuk mencari solusi agar pengelolaan ikan Teri di Desa Buko ini bisa benar-benar sukses. “InsyaAllah ke depan, lagi dan lagi saya akan berusaha untuk membina mereka,” kata Wendy.

Sebetulnya, kata Wendy, pihaknya sudah pernah menyertakan anggaran ke BUMDes untuk paling tidak bisa bekerjasama dengan mereka-mereka yang bisa mengelola ikan teri itu. Namun anggaran itu masih mengendap di dalam rekening mereka, dan belum digunakan secara optimal.

Upaya dalam waktu dekat yang akan dilakukan Wendy adalah terkait mata rantai pemasarannya agar dapat dipasarkan hingga ke luar daerah, seperti ke Pulau Jawa. “Akan direncanakan apakah akan dipromosikan langsung oleh BUMDes, ataukah kita akan kerja sama dengan sejumlah pengusaha di luar daerah ini untuk pemasarannya,” tutur Wendy.

Wendy punya catatan tersendiri tentang jumlah produksi ikan Teri di desa ini. Yakni, ketika tiba musimnya bisa mencapai kisaran 200 Ton per tahun. “Pada tahun 2010 di Kecamatan Pinogaluman ada sekitar 500 ton ikan teri keluar dari daerah ini,” beber Wendy.

Menurutnya, jika Pemkab Bolmut dapat memberikan sentuhan atau dukungan bantuan kepada para nelayan atau para pengusaha ikan Teri di desa ini, maka dipastikan bisa mengangkat ekonomi bukan hanya bagi warga di desa ini, tetapi juga buat pihak-pihak luar yang ada dalam mata rantai penjualan ikan Teri di Desa Buko ini.

Sayangnya, kata Wendy, hingga saat ini dukungan dari Pemkab Bolmut belum terealisasi. “Ada beberapa kali usulan kami ke daerah untuk pembuatan bagan, itu dua kali dalam penganggaran dibatalkan oleh Pemkab. Itu kami tidak tahu (apa pertimbangannya),” ungkap Wendy seraya berharap agar untuk 2020 ini hendaknya Pemkab dan pihak dan DPRD Bolmut dapat merealisasikan usulan pembuatan bagan tersebut.

Bagan yang ada di desa ini, kata Wendy, itu hanya milik pribadi. “Itupun hanya ada enam bagan. Kalau di daerah lain banyak bagan dari hasil bantuan dari Pemkab mereka masing-masing,” ujar Wendy.

Wendy pun berharap kepada Pemkab Bolmut maupun Pemprov Sulut, hendaknya Desa Buko yang terletak di perbatasan Provinsi Gorontalo ini dapat benar-benar diberi perhatian serius, terutama dalam mengangkat dan mengelola secara optimal potensi-potensi yang dimiliki oleh Desa Buko. (mul-din/dm1)

Bagikan dengan:

Muis Syam

5,089 views

Next Post

Selain Memacu Pembahasan Tatib dan AKD, Ketua DPRD Boalemo juga tak Ingin Hilangkan Program ini

Kam Sep 26 , 2019
DM1.CO.ID, BOALEMO: Pasca Dilantik sebagai Pimpinan Definitif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Boalemo periode 2019-2024, Karyawan Eka Putra Noho berjanji untuk segera menuntaskan agenda-agenda yang mendasar dan mendesak.