“Seruling itu Akhirnya Bersuara April”, Wagub Idris: Kita Diajak Gunakan Hak Pilih

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, GORONTALO: Pada Senin siang (15/4/2019), ada suasana sedikit berbeda dibanding hari-hari biasanya di Studio 3 Cinema Gorontalo XXI Citimall.

Di sana KPU Provinsi Gorontalo sedang menggelar nonton bareng (nobar) Film bertajuk Pemilu.

Pemutaran Film berjudul “Suara April” ini memang telah dijadwalkan dari pusat untuk nobar secara serentak di seluruh kota di Indonesia, mulai 10-15 April 2019. Dan KPU Provinsi Gorontalo memilih 15 April 2019.

KPU Provinsi Gorontalo memang sengaja mengundang pihak-pihak yang dianggap punya “kapasitas” untuk membantu memberi pencerahan dan sosialisasi kepada masyarakat terkait Pemilu, terutama agar tidak Golput (Golongan putih) pada hari pencoblosan, 17 April 2019.

Selain Wakil Gubernur (Wagub) Gorontalo, Idris Rahim, nobar ini juga diikuti sejumlah staf Badan Kesbang-Pol Provinsi Gorontalo; beberapa ASN dari berbagai OPD; dan terutama dari Biro Humas Setda Provinsi Gorontalo.

Kapolda Gorontalo juga tak lupa mengutus Kabid Humas Polda Gorontalo, AKBP Wahyu Tri Cahyono, untuk berbaur dalam nobar yang pula diikuti oleh beberapa penggiat demokrasi, pengamat sosial-politik; Pers dari berbagai media massa; serta sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi di daerah ini.

Film “Suara April” ini menyajikan kisah tentang sebuah tantangan berat yang dihadapi oleh seorang relawan Pemilu, bernama Chandra (seorang aktor dan model Indonesia bernama lengkap Juan Bione Subiantoro).

Sebagai relawan Pemilu, Chandra ditugaskan ke kampung Rampangrejo untuk memberikan penyuluhan Pemilu kepada masyarakat setempat yang hampir semua tak lagi peduli dengan Pemilu sebagai sebuah proses demokrasi.

Warga di kampung itu bahkan memandang proses Pemilu adalah hanya sebuah dongeng. Sudah 15 tahun mereka tak lagi menggunakan hak pilihnya. Bukan karena tidak mau, tetapi mereka lebih memilih “memuliakan” dangdut besutan Kang Jauhari.

Kang Jauhari adalah tokoh yang sangat berpengaruh dan amat disegani di kampung tersebut. Ia diperankan oleh Torro Margens (almarhum).

“Doktrin dangdut” Kang Jauhari sungguh luar biasa. Ini dapat dilihat saat Chandra memasuki Kantor Kelurahan Rampangrejo, seorang staf pria di kantor itu bukannya menyambut atau segera melayani Chandra, tetapi ia malah asyik menonton musik dangdut di televisi sambil duduk menggoyangkan badan dan menari-nari tangannya.

Meski begitu, Chandra tetap dilayani dan berhasil bertemu dengan Kades Rempangrejo. Candra pun meminta izin agar dapat diberi waktu untuk melakukan penyuluhan tentang Pemilu: “Pemilih Berdaulat, Negara Kuat”.

Sayangnya, kades tersebut ternyata belum bisa memberi waktu kepada Chandra untuk melakukan penyuluhan tersebut sebelum mendapat restu dari Kang Jauhari.

Dalam cerita itu, Kang Jauhari adalah sosok yang sangat anti dengan hal-hal yang berkaitan dengan politik.

Ini terlihat saat Chandra datang meminta izin, Kang Jauhari langsung mengusirnya dan tidak merestui dilakukan penyuluhan Pemilu di Desa Rempangrejo itu.

Di mata Kang Jauhari, musik dan bernyanyi dangdut adalah hal yang jauh lebih penting daripada urusan-urusan seputar politik.

“Kalau kau mau tahu kenapa di kampung ini nggak ada Pemilu lagi. Itu karena bapak kasih pilihan, Pemilu atau dangdut. Kamu tahu sendiri kampung ini pilihannya apa. Dan sejak saat itu, warga di sini damai dan sejahtera. Lain cerita kalau Pemilu tetap ada. Yang politik bisa lakukan kepada kita itu kan cuma janji… janji… janji. Tapi pada kenyataannya warga malah bermusuhan, dan mereka yang menikmati hasilnya,” ujar Kang Jauhari kepada anaknya, Nurlaila.
Dalam film ini, akting Nurlalila diperankan oleh Amanda Manopo).

Ia tak berminat mengikuti “aliran dangdut” ayahnya, karena lebih memilih mengabdikan dirinya sebagai seorang guru di SMA Sri Sulastri di kampung tersebut. Sehingga secara prinsip, Nurlaila pun bertentangan dengan ayahnya.

Nurlaila tak punya banyak waktu untuk “bersahabat” dengan ayahnya, karena ia juga sedang menghadapi masa sulit. Yakni SMA Sri Sulastri terancam ditutup lantaran yayasan sudah tak bisa mendanai.

Nurlaila nampak lebih bersahabat dengan Chandra. Persahabatan itu kemudian mereka kolaborasikan agar mendapat solusi atas masalah pendidikan dan persoalan misi penyuluhan Pemilu.

Kolaborasi itu harus mereka bangun, karena Nurlaila tak berhasil mendapat bantuan dari seorang Caleg bernama Rosalina (Dewi Gita). Sementara Chandra juga sangat kesulitan “menaklukkan” Kang Jauhari yang sangat “alergi” dengan urusan politik itu.

Untuk mewujudkan misi mereka, satu-satunya cara adalah dengan mengikuti “selera” sang Ayah.

Nurlaila pun menyatakan di depan ayahnya untuk ingin ikut manggung dan bernyanyi dangdut, dengan harapan agar Chandra dapat menyebar pamflet ke semua penonton saat dangdutan dimulai.

Upaya itu akhirnya berhasil, pamflet Pemilu tersebar ke para penonton, namun dangdutan nyaris ribut karena Chandra terciduk oleh Kang Jauhari.

Melihat ketegangan sang Ayah yang telah memegang leher baju Chandra, Nurlaila yang masih sedang bernyanyi di atas panggung melalui mic itupun melontarkan kata, “sejak saya kecil, Bapak saya ingin saya menyuarakan suara saya di atas panggung ini, untuk kalian para penonton. Tapi saya nggak pernah mendengarkan keinginannya dia itu, nanti tanggal 17 April, saya minta kalian menyuarakan suara kalian, setidaknya untuk kampung ini. Pilih pemimpin yang terbaik, yang peduli pada kita”.

Sejak peristiwa itu, Kang Jauhari mulai “goyah” seiring dengan makin gencarnya kampanye dan persaingan tak sehat antar caleg. Sehingga membuat suasana makin keruh dan kacau, seperti antar siswa saling hajar untuk membela caleg masing-masing.

Melihat situasi yang tak sehat itu, Nurlaila dan Chandra pun menempuhh langkah tegas. Para caleg mereka datangi untuk melakukan kampanye yang nyaman dan damai, tidak saling hujat dan menjatuhkan dengan cara-cara kotor.

Upaya inipun berhasil. Para caleg mulai melakukan cara-cara sehat, bahkan mampu saling memberi pemahaman dan pengertian kepada masyarakat sebagai pemilih agar tetap menjaga keharmonisan.

Tak hanya itu, SMA Sri Sulastri pun mulai mendapat bantuan dari masyarakat yang telah sadar betapa pentingnya Pemilu, di mana salah satunya adalah pula untuk membangun kemajuan dunia pendidikan.

Tapi tugas Nurlaila dan Chandra untuk “menaklukkan” sang ayah agar bisa ikut sadar dan dapat berpartisipasi dalam Pemilu, belum berhasil.

Mereka pun mengundang salah seorang caleg, Rosalina, untuk bertemu dengan sang ayah. Rosalina setuju karena sang ayah yang ingin ditemuinya adalah Kang Jauhari yang tak lain adalah sosok yang pernah membantu sebagai penyanyi dangdut yang sukses.

Jelang hari pemilihan, Rosalina pun berkunjung ke Kang Jauhari. Ia sungkem sekaligus memohon maaf dan berterimakasih karena Kang Jauhari telah membentuk hidup Rosalina bisa seperti ini.
Sejak dikunjungti oleh Rosalina, Kang Jauhari mulai merenung diri. Seolah ia telah sadar betapa pentingnya berpartisipasi dalam proses demokrasi.

Hingga di hari pencoblosan, seluruh warga Kampung Rempangrejo pun berdatangan ke TPS untuk menyalurkan hak suaranya pada Pemilu.

Sayangnya, Nurlaila dan Chandra serta para pemilih yang telah berada di TPS belum dapat memastikan dan saling memunculkan tanda tanya besar, apakah Kang Jauhari bisa turut-serta berpartisipasi memberikan suaranya di Pemilu?

Namun tak disangka, lima menit jelang TPS ditutup, dari kejauhan terdengar irama seruling yang mendayu-dayu, seolah menusuk dan langsung menembus pori-pori kotak suara.

Para pemilih dan petugas Pemilu di TPS itupun terenyuh, mereka tahu bahwa irama seruling itu ditiupkan oleh Kang Jauhari yang sedang menuju ke TPS untuk turut memberikan suaranya pada Pemilu ini.

Menyaksikan hal itu, mereka yang ada di TPS itupun bernyanyi dan bergoyang bersama secara suka-cita. Sebuah ending cerita yang sangat menyejutkan.

Wagub Idris Rahim seusai menyaksikan Film yang disutradarai Emil Haradi dan Wicaksono Wisnu Legowo ini menyampaikan pesan penting, bahwa makna yang bisa dipetik pada film ini adalah mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya.

“Kita diajak untuk benar-benar dapat menggunakan hak pilih kita. Dan jangan golput! Itu makna dari film ‘Suara April’ tadi,” ujar Wagub Idris Rahim didampingi Ketua KPU Provinsi Gorontalo, Fadliyanto Koem saat menuruni tangga eskalator Citimall meninggalkan Cinema XXI Gorontalo. (ams/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: