Pemda Diminta Jangan Pura-pura tak Tahu dengan Kondisi Jembatan Kayu di Wonuambuteo

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, KOLAKA TIMUR: Jembatan kayu yang berada di Desa Wonuambuteo, Kecamatan Lambandia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) yang dibangun sejak puluhan tahun silam, semakin hari benar-benar tampak kian buruk.

Para pengendara sungguh diliputi rasa was-was yang sangat tinggi jika melintasi jembatan ini. Sebab, balok maupun kayu yang membentang sudah terlihat rapuh, dan bahkan beberapa di antaranya sudah banyak yang bolong. Sehingga sangat rawan memunculkan risiko kecelakaan yang tak disangka-sangka.

Meski sudah berkali-kali dilakukan perbaikan, namun beberapa kali pula jembatan ini kembali mengalami kerusakan. Dan sayangnya, pemerintah kabupaten maupun provinsi hingga saat ini juga belum mampu menangani jembatan penghubung dua kecamatan ini untuk dibangun secara permanen (beton).

Menurut informasi, anggaran yang digelontorkan hanya sampai pada tahap perawatan, yakni dengan mengganti sebagian kayu jembatan yang rusak. Itu saja!

Untuk sementara, jembatan rusak ini memang masih bisa dilalui oleh kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Namun manakala melintas, mereka harus lebih ekstra hati-hati. Yakni, harus saling mengalah jikalau kebetulan bertemu di jembatan dengan arah berlawanan.

Selain alas jembatan yang ringsek, pondasi bangunan jembatan juga sudah tampak terkikis akibat banjir yang terjadi di setiap musin hujan. Sehingga, jika kondisi ini disepelekan terus-menerus tanpa segera ditangani, maka bisa dipastikan dapat berakibat fatal.

Salah seorang warga Desa Wonuambuteo, Kecamatan Lambandia, bernama Gatot menceritakan beberapa pengalaman dan kesaksiaannya kepada Wartawan DM1, terkait musibah yang pernah terjadi di jembatan kayu ini.

“Pernah ada seorang pengendara sepeda motor, ibu-ibu, terjatuh di jembatan dan handphone miliknya jatuh ke bawah kolong jembatan. Banyak juga pengendara, utamanya sepeda motor, kalau melintas nyaris terjatuh,” ujar Gatot belum lama ini.

Sejumlah warga mengungkapkan, bahwa tahun lalu jembatan kayu ini pernah diperbaiki dengan menggunakan anggaran pemeliharaan rutin tahunan. Namun perbaikan yang dilakukan hanya bertahan beberapa bulan saja. Kondisi jembatan kembali rusak. Banyak kayu alas jembatan sudah bergeser dari tempatnya.

Menurutnya, hanya warga sekitar yang biasanya terpaksa secara swadaya membuat jembatan darurat tatkala pemerintah belum turun tangan. Sehingga, warga itu pula yang biasanya memungut iuran secara sukarela dari pengendara yang melintas di jembatan ini.

Sepengetahuan Gatot, pemerintah kabupaten dalam hal ini Dinas PU Koltim belum pernah turun tangan memperbaiki jembatan ini. Gatot pun menduga, bahwa mungkin jalur jembatan ini bukanlah kewenangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kendati begitu Gatot mengaku bersama warga berharap, bahwa seharusnya pemerintah kabupaten bisa lebih peka dan tidak berpangku tangan melihat kondisi daerahnya tanpa harus menunggu kepedulian dari pihak provinsi. Apalagi sampai pura-pura tidak tau alias lepas tangan.

Artinya, menurut Gatot, Pemerintah Kabupaten Koltim seharusnya dapat lebih memahami dan mengerti dengan kepentingan yang dibutuhkan oleh masyarakat di daerah.

Gatot pun mengilustrasikan, bahwa pemerintah kabupaten itu bagai anak dari pemerintah provinsi. “Pemerintah provinsi kan tidak tahu dengan apa yang terjadi di sini. Sebagai anak, pemerintah kabupaten harus menyampaikan dan mengusul. Tapi kalau tidak pernah meminta, maka kapan orang tua bisa tahu?” ketusnya. (rul/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan: