BREAKING NEWS
| Terkait Dugaan Korupsi GORR, Kejati Gorontalo Dalami Keterlibatan Gubernur Rusli? | Geger, Sejumlah WNI Tionghoa Sekap dan Aniaya Anggota TNI-AU di Medan | Mengaku Tobat, Sejumlah Kelompok Relawan Jokowi Bertekad Menangkan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 | Bendera “Agustusan” Dicopot Pengelola Apartemen Kalibata City, Warga Protes | Rakernas GSI, Ratna Sarumpaet: Kita Harus Jadi Provokator Terbaik untuk Perubahan

Ketum Persis: Semoga Rizal Ramli Berkesempatan Jadi Pemimpin Nasional

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID: Pakar Ekonomi Rizal Ramli layak menjadi pemimpin nasional. Seperti itulah penilaian Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), Aceng Zakaria, usai launching Baitut Tamwil Barkah Umat, yang merupakan salah satu unit yang dikelola oleh Majelis Ekonomi PP Persiss, Sabtu (14/4/2018) kemarin.

Mantan Menko Ekuin di era pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur itu, Selain memiliki pengalaman dan terobosan di bidang ekonomi yang telah teruji, juga konsisten dalam komitmennya untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Aceng justru berpendapat, terkait dengan kritik yang kerap disampaikan Rizal Ramli kepada pemerintah, hal itu juga bagian dari kecintaannya terhadap Indonesia.

Dalam setiap kritik yang dilontarkan mantan Menko Maritim era pemerintahan Presiden Jokowi itu, Menurutnya selalu disertai solusi dan sikap optimis.

“Saya melihat setiap kritik yang disampaikan Pak Rizal selalu ada solusinya. Nah, ini yang membuat kita optimis. Pak Rizal juga selalu menyampaikan kepada kita untuk kerja keras dan usaha keras, Insya Allah kita dapat membangun Indonesia,” ujar Aceng.

Menurutnya, Rizal Ramli telah menujukkan keberpihakannya terhadap masyarakat kecil melalui ide dan gagasannya sejak pemerintahan Soeharto.

“Misalnya, ketika menjadi Senior Researcher di Center for Policy and Implementation Studies (CPIS), Rizal Ramli bersama Tim Harvard melakukan reformasi terhadap 3.600 BRI Unit Desa,” jelas Aceng.

Hasilnya, melalui program Kupedes, para petani dan masyarakat kecil memeroleh kemudahan kredit dan masyarakat punya tabungan dengan nama Simpedes.

“Terobosan yang dilakukan Pak Rizal inilah yang menjadi motivasi kami. Semoga Pak Rizal berkesempatan menjadi pemimpin nasional, dapat mengimplementasikan ide dan gagasan yang kita yakini dapat membawa kemajuan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Rizal Ramli mengungkapkan, menganalisa pertumbuhan Indonesia 2018 ini stagnan pada posisi lima persen, “Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi pada 2019 mendatang.”

Saat ini, menurut Rizal, masih ada ketimpangan penyaluran kredit. Dimana, industri besar masih mendominasi kredit yang disalurkan pemerintah.

Pendiri lembaga think thank Econit itu mengibaratkan, “sebuah gelas yang di mana bisnis besar dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di cawan gelas yang mendapatkan kredit, selanjutnya bisnis menengah hanya di leher gelas, dan mayoritas rakyat di dasar gelas.”

Sambungnya, masalah yang dihadapi saat ini, seperti inilah struktur ekonomi di Indonesia. Sebanyak 83 persen kredit hanya mengalir ke bisnis besar.

“Sisanya 17 persen ke bisnis menengah dan rakyat. Pengusaha menengahnya sedikit saja, sisanya ada 60 juta usaha kecil dengan berumah tangga, umat Islam yang di bawah. Saya mohon maaf,” kata Rizal.

Mantan Penasehat Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini juga mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.

Menurut dia, hal itu yang menyebabkan struktur ekonomi Indonesia sangat tak sehat. Kondisi itu tercipta karena, para menteri ekonomi berhaluan neoliberalis.

“Makanya jangan harap kehidupan rakyat Indonesia akan semakin sejahtera,” tegas Rizal Ramli.

Puluhan kepala daerah yang menjadi tersangka korupsi itu jelas menghambat aktivitas ekonomi. Karena Rizal menegaskan, faktor pertama mandeknya pertumbuhan ekonomi adalah praktek korupsi yang sudah sampai pada level sistemik.

Katanya, sederhana, solusinya negara harus membiayai partai, seperti di Eropa dan Australia. “Jadi partai bisa fokus mendidik kader yang berkualitas,” tukas Rizal Ramli.

Faktor kedua adalah kurang ulet, inovatif dan berani. Menurut dia, Indonesia harus belajar dari Vietnam yang terkenal ulet dan pekerja keras. Sebab, faktanya pertumbuhan ekonomi negara yang pernah berhasil mengusir tentara Amerika Serikat itu berhasil melampaui Indonesia.

Sementara faktor ketiga, Negara ini sejak era Presiden Soeharto sistem ekonomi yang dianut Indonesia adalah sistem neoliberal ala Bank Dunia. Padahal, ada alternatif sistem yang tersedia, seperti yang dilakukan oleh China dan Vietnam.

Rizal Ramli yakin, perekonomian Idonesia bisa tumbuh 10 persen setiap tahunnya, “Kuncinya sederhana, tunjuk saya (Rizal Ramli) jadi Presiden. Gitu aja kok repot,” pungkas Rizal.

[trb/dm1]

 

Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up