Diduga Poktan Fiktif Rangkap Timses Petahana Koltim, Terima Bantuan 10 Ribu Bibit Kopi

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, KOLAKA TIMUR: Warga Desa Wia-wia, Kecamatan Poli-polia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara, dihebohkan dengan munculnya bantuan bibit tanaman kopi robusta.

Pasalnya, sejumlah warga desa setempat mencium adanya beberapa keanehan terhadap munculnya bantuan bibit kopi yang berjumlah 10 ribu pohon tersebut, yang muncul secara mendadak, yakni tepat di acara debat publik paslon Pilkada pada Senin (16/11/2020).

Beberapa keanehan dan kejanggalan yang menjadi pertanyaan besar di benak warga, yakni di antaranya pengantaran bibit kopi kepada penerima atas nama Wayan Sudana, namun yang tertera di dalam berita serah-terima adalah atas nama Wayan Sudana S.

Menurut warga, di Desa Wia-wia ini memang terdapat dua nama yang hampir sama, yakni Wayan Sudana dan Wayan Sudana S.

Saat tiba, kata sejumlah warga, bantuan bibit kopi itu diturunkan di rumah Wayan Sudana. Namun setelah dikonfirmasi ke kabupaten dan pihak perkebunan kecamatan, ternyata bibit itu diperuntukkan buat Wayan Sudana S sesuai berita acara yang ada, dengan beranggotakan 10 orang.

Mantan Kepala Desa (Kades) Wia-wia, Nyoman Urip, saat memberikan keterangan kepada Wartawan DM1 pada Rabu (18/11/2020) mengungkapkan perihal kedua nama kelompok tani yang namanya nyaris sama tersebut.

“Kelompok tani yang terbentuk untuk perkebunan adalah Wayan Sudana yang tidak ada ‘S’. Wayan Sudana yang tidak ada ‘S-nya’ itulah kelompok tani perkebunan di Wia-wia yang resmi,” ungkap Nyoman Urip.

Hal tersebut dibenarkan oleh Nyoman Okadana selaku bendahara Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Merta Sari. Menurutnya, di Desa Wia-wia hanya terdapat 10 kelompok tani serta satu Gapoktan.

Nyoman Okadana menyebutkan, ke-10 kelompok tani itu terdiri atas 9 kelompok tani persawahan, serta satu kelompok tani perkebunan, yaitu kelompok tani Bhinneka Tunggal Jaya yang diketuai oleh Wayan Sudana.

Kelompok tani Bhinneka Tunggal Jaya ini, kata Nyoman Okadana, berdiri sejak tahun 2008 dengan beranggotakan kurang lebih 60 orang petani kebun. Kelompok inilah yang pertama kali terbentuk di Desa Wia-wia.

Nyoman Urip maupun Nyoman Okadana mengaku merasakan keanehan, bahwa kemunculan kelompok tani yang dibentuk Wayan Sudana S yang belakangan diketahui bernama Kelompok Tani Maju itu, sangat erat kaitannya dengan kepentingan politik.

Apalagi, katanya, di dalam kelompok tani bentukan Wayan Sudana S itu terdapat seorang anggota bernama Wayan Putra, yang diketahui secara jelas sebagai sosok yang tergabung dalam tim sukses (timses) pasangan calon (Paslon) petahana,Tony Herbiansah-Baharuddin.

“Di rumah Wayan Putra kan ada terdapat posko paslon Tony Herbiansah. Dan minggu lalu, paslon nomor urut satu itu pernah berkunjung sekaligus kampanye politik di rumah Wayan Putra,” beber Nyoman Urip.

Nyoman Okadana bersama Nyoman Urip juga mengaku telah berupaya mencari tahu “status dan kronologis” serta maksud di balik penyaluran bantuan bibit kopi yang tiba-tiba diperuntukkan kepada Poktan bentukan Wayan Sudana S di desanya, sekaligus menanyakan keabsahan kelompok tani Wayan Sudana S tersebut.

Pada Rabu (18/11/2020), keduanya pun mengaku telah mendatangi kantor Dinas Perkebunan dan Hortikultura Koltim. Sayangnya, Pelaksana tugas (Plt) Kadis Perkebunan dan Hortikultura, Lasky Paemba, sedang tidak berada di tempat.

Tetapi Nyoman Okadana dan Nyoman Urip terus mencari tahu dengan mendatangi Kantor Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan, tempat di mana Lasky Paemba sebagai Kadis definitif. Namun lagi-lagi, mereka tak menjumpainya.

Meski begitu, keduanya mengaku sempat mendapatkan penjelasan dari Kepala Seksi Pengelolaan dan Pemasaran Dinas Perkebunan dan Hortikultura, Mus Mulyadi.

Saat itu, katanya, Mulyadi menyampaikan bahwa bantuan bibit kopi sebanyak 10 ribu pohon tersebut memang diperuntukkan kepada Kelompok Tani “Maju” yang diketuai oleh Wayan Sudana S.

Sayangnya, menurut Nyoman Okadana dan Nyoman Urip, kala itu Mulyadi enggan memperlihatkan SK Kelompok Tani “Maju” yang diketuai oleh Wayan Sudana S tersebut.

“Alasannya, Kadis tidak berada di tempat. Dia (Mulyadi) tidak berani kalau bukan atas perintah pak Kadis (untuk memperlihatkan SK itu). Katanya yang dari perkebunan SK-nya ada pada bulan Oktober,” ungkap Nyoman Urip.

Urip juga membeberkan adanya kabar yang menyebutkan, bahwa bantuan itu akan dibagikan ke petani-petani meski tidak termasuk dalam keanggotaan Kelompok Tani Maju.

Dan jika itu terjadi, maka menurut Nyoman Urip, tentunya dianggap Kelompok Tani “Maju” telah melakukan pembagian bibit yang tidak sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam proposal awal.

Berikutnya diinformasikan, bahwa sejauh ini di Desa Wia-wia, satu kelompok tani paling sedikit memiliki anggota 60 orang. Sehingga Nyoman Urip pun merasa heran serta mengaku curiga dengan Kelompok Tani “Maju” sebagai kelompok tani fiktif, karena hanya beranggotakan 10 orang dan terindikasi kuat melakukan peran rangkap sebagai tim sukses (Timses) paslon petahana nomor urut satu. (rul/dm1).

Komentar anda :
Bagikan dengan: