BREAKING NEWS
| Terkait Dugaan Korupsi GORR, Kejati Gorontalo Dalami Keterlibatan Gubernur Rusli? | Geger, Sejumlah WNI Tionghoa Sekap dan Aniaya Anggota TNI-AU di Medan | Mengaku Tobat, Sejumlah Kelompok Relawan Jokowi Bertekad Menangkan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 | Bendera “Agustusan” Dicopot Pengelola Apartemen Kalibata City, Warga Protes | Rakernas GSI, Ratna Sarumpaet: Kita Harus Jadi Provokator Terbaik untuk Perubahan

Di Solo, Baliho Raksasa Tauhid Terpajang Dekat Rumah Jokowi

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, SOLO: Banyak cara yang bisa dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pembakaran bendera Tauhid di Garut. Sekaligus untuk terus menyemangati Umat Islam, agar tetap bersatu di bawah Panji Tauhid “Laa Ilaaha Illallah, Muhammadarrasulullah”.

Jika di beberapa daerah Umat Islam tumpah di jalan melakukan Aksi Bela Tauhid, juga ada yang melakukan pelaporan ke kantor kepolisian, pun sejumlah lainnya ada yang menyampaikan video “peringatan tegas” melalui medsos, dan bahkan tak sedikit yang mengemukakan pernyataan sikap tegas untuk siap jihad apabila diperlukan.

Yang kesemuanya tersebut adalah merupakan bentuk panggilan jiwa demi membela kalimat Tauhid, yang telah dengan sengaja dibakar secara “riang gembira” oleh sekelompok oknum Banser. Dan di saat bersamaan, pemerintah justru seolah lebih memilih “membela” pelaku dengan dalih bahwa yang dibakar itu adalah bendera HTI.

Sehingganya, protes keras pun tak dapat dibendung. Dan khusus di Solo, ada bentuk protes yang dilampiaskan dalam bentuk pemasangan baliho raksasa kalimat Tauhid.

Hal ini dilakukan oleh Ihsan Prayitno, seorang pengusaha properti menumpahkan “protes dan kesedihannya” dengan menyewa sebuah papan iklan (billboard), yang kemudian ditempelkan bendera putih raksasa bertuliskan kalimat Tauhid berukuran 5×10 meter.

Sementara ini di Kota Solo terdapat tiga lokasi pemasangan Billboard Tauhid. Pertama, di Perempatan Sumber dekat rumah pribadi Presiden Jokowi ; kedua di Jalan Adi Sucipto Colomadu; dan yang ketiga, di samping rumah dinas Bupati Karanganyar.

Ihsan Prayitno melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan. Ia mengaku sedih, bercampur kecewa dan miris terhadap peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid.

“Saya miris ada oknum sebuah ormas di Garut yang kemudian membakar kalimat Tauhid. Apapun tujuannya, itu salah, karena kalimat Tauhid adalah kalimat yang mulia. Sehingga saya termotivasi untuk membuat gerakan dengan pemasangan spanduk itu,” tutur Ihsan, Jumat (26/10/2018), dilansir Panjimas.

Ihsan mengemukakan tujuannya memasang baliho raksasa itu. Yakni untuk menjelaskan kepada masyarakat, bahwa kalimat Tauhid bukan merupakan bendera HTI ataupun terorisme. “Kalimat Tauhid itu bagus yang insyaAllah akan memberikan kesejukan,” ujarnya.

Pemasangan baliho raksasa Tauhid itu sendiri rencananya akan terpajang selama satu bulan di billboard tersebut.

Ihsan mengakui, untuk memasang gambar itu memang tidak mudah. Ia sempat menghubungi sejumlah perusahaan advertising, namun banyak yang ragu-ragu, hingga ada salah satu perusahaan advertising yang mau bekerjasama dan siap melakukan pemasangan gambar tersebut.

Terkait kemungkinan adanya pihak yang akan mempermasalahkan baliho Tauhid di billboard tersebut, Ihsan mengaku tak begitu kuatir. Karena apa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku.

“Saya berfikir positif saja, karena yang saya pasang itu kalimat Tauhid, kalimat yang mulia. Apa yang kami lakukan secara hukum tidak melanggar,” tegas Ihsan.

Dan apa yang dilakukan oleh Ihsan Prayitno ini, diperkirakan akan diikuti oleh pihak-pihak lainnya di banyak daerah. (pjm-ams/dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up