HARI INI :

PARTNER PEMERINTAH, KAWAN RAKYAT

Bentrok dengan Golkar, Bupati Boalemo ini “Bongkar Aib” Jokowi dan PDIP?

Bagikan dengan:

DM1.CO.ID, BOALEMO: Darwis Moridu adalah orang yang berhasil lahir sebagai Bupati Boalemo dari “kandungan rakyat”, alias dari jalur independen.

Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, melantik Darwis Moridu dan Anas Yusuf sebagai Bupati dan Wakil Bupati Boalemo, pada Senin (22/5/2017).

Namun setelah menduduki jabatannya itu, ia kini nampaknya memilih untuk lebih “membesarkan” PDI Perjuangan.

Tak hanya bajunya yang kini jadi “merah”, semua instansi di lingkup Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Boalemo pun telah di-cat merah.

Bahkan boleh jadi, matanya pun ikut “memerah” apabila ada orang atau pihak lain yang berani “mengusiknya”. Atau mungkin yang membuatnya murka, maka bisa ditebak ia akan mengamuk layaknya “seekor banteng” yang tak seorang pun bisa menghalanginya.

Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, pun pernah ia marahi habis-habisan di hadapan publik melalui seorang Kabag Protokoler Biro Humas Setda Provinsi Gorontalo.

Yakni dalam sebuah acara pembagian bantuan beras kepada warga Boalemo terdampak banjir, di Desa Mohungo, Kecamatan Tilamuta, Kamis (31/1/2019).

Kala itu, Kemarahan Darwis tiba-tiba meluap. Tak satupun pejabat, apalagi warga yang berani menenangkan dan meredam kemarahannya. Sehingga saat itu, warga yang hadir dalam acara tersebut laksana menyaksikan “tontonan horor” yang amat menakutkan.

Darwis sepertinya benar-benar tak mampu menahan emosinya lantaran Rusli Habibie, beserta rombongan dinilai sengaja terlambat dan mengulur-ulur waktu.

Darwis dalam keadaan marah menyampaikan keinginannya. Bahwa jika Gubernur Rusli sadar dengan keterlambatannya, sebaiknya diwakilkan saja penyerahan bantuan beras itu kepada Dinas Sosial atau siapapun yang dianggap berkompeten secara simbolis, termasuk dirinya (Darwis) siap mewakili Gubernur untuk segera menyerahkan beras tersebut.

Sebab jika tidak, maka Darwis menilai Rusli Habibie telah membuat warga Boalemo korban terdampak banjir itu menjadi makin susah dan tersiksa, karena sejak pagi hingga sore sudah menunggu kedatangan Rusli Habibie selaku Gubernur Gorontalo untuk menyerahkan bantuan beras sebanyak 5 ton.

Kedatangan Gubernur Rusli Habibie di lokasi acara jelang petang itupun, langsung disambut emosi yang meledak-ledak dari Darwis Moridu sambil berteriak-teriak melalui pengeras suara.

“Jangan kasih bantuan begitu modelnya, hee…, kasihan rakyat. Saya sendiri sudah lama, sudah berasa lama di sini, apalagi rakyat sejak pagi, iya,” lontar Darwis kepada Masran, Kabag Protokel Biro Humas Setda Provinsi Gorontalo.

Namun meski “diamuk” oleh Darwis, Rusli Habibie di hari itu tetap melanjutkan acara pembagian beras bantuan tersebut.

Mengetahui sambutan Bupati Darwis yang sangat terkesan penuh emosi itu, Rusli hanya menanggapinya dengan tenang, sekaligus mengklarifikasi keterlambatannya hadir di tempat acara.

Rusli nampak merasa bingung jika disebut keterlambatannya hadir dalam acara pembagian beras tersebut, membuat masyarakat jadi makin tersiksa.

“Masyarakat mana yang susah (tersiksa)? Masyarakat dipersulit, nggak? Masyarakat merasa susah nggak dengan keterlambatan saya? Dan saya ke sini sudah terjadwal, bukan karena memang (sengaja) saya terlambat. Saya ke Wonosari, ke Saritani, jalannya cukup rusak dan jauh,” jelas Rusli.

Rusli mengaku tidak mendengar dan melihat kesusahan warga ketika tiba di tempat acara. “Buktinya masyarakat masih banyak menunggu saya (di tempat acara),” tutur Rusli.

Rusli justru mengaku mendengar, bahwa yang marah itu bukan rakyat, tetapi seorang pemimpin daerah yang tidak mampu menahan emosinya.

“Kalau jadi pejabat, janganlah, hindarilah kata-kata yang memprovokasi rakyat, hindari dari sekarang. Dan jaga mulut sebagai pejabat,” sindir Gubernur Rusli.

Mendengar klarifikasi dan tanggapan Rusli tersebut, Darwis bukannya “hormat”, tetapi malah semakin murka dan kesal terhadap Rusli Habibie.

Buktinya, kekesalan Darwis itupun ditumpahkannya dalam acara kampanye dialogis PDIP di Desa Buti, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, pada Ahad (3/2/2019).

Dalam pidato politiknya pada kampanye tersebut, Darwis banyak melontarkan pernyataan dan ungkapan yang dinilai tak senonoh oleh banyak pihak.

Tak hanya menuding Gubernur Rusli Habibie telah “menjual istri” dengan pemberian bantuan agar dapat mendulang suara banyak sebagai Caleg DPR-RI, Darwis juga menyebut bahwa Golkar  adalah partai yang tidak pro-rakyat.

“Itu bantuan yang dibagi-bagikan (Gubernur Rusli) untuk menjual istrinya bersumber dari Pak Jokowi, dan dia (Gubernur Rusli) tidak pernah mengampanyekan Pak Jokowi,” ujar Darwis dalam kampanye yang sempat terekam video itu.

“Pak Jokowi hanya dimanfaatkan untuk menjual istrinya (Gubernur Rusli). Kalau saya malu jika menjual istri saya begitu dengan bantuan,” lanjut Darwis Moridu dalam video tersebut.

Parahnya, dalam kampanye dialogis tersebut, Darwis juga mengungkapkan statement yang dinilai sebagai fitnah, tidak hanya kepada Gubernur Rusli tetapi juga kepada Presiden Jokowi dan PDIP.

“Saya akan bongkar ini, bahwa Partai Golkar tidak pro-rakyat. Dan selanjutnya, kalau bukan PDI Perjuangan (Gubernur Rusli tidak dilantik jadi Gubernur) karena ada kasus waktu itu. Sebenarnya (Gubernur Rusli) sudah masuk penjara, tinggal PDIP yang  membela, yaitu Presiden Joko Widodo,” ungkap Darwis di hadapan warga pada kampanye dialogis tersebut dengan nada yang sangat meninggi dan emosional.

Sepintas, pernyataan Darwis itu nampaknya ingin mempermalukan Rusli Habibie di muka umum.

Tetapi Darwis seolah tak sadar, bahwa ungkapannya tersebut tidak hanya mempermalukan Rusli, namun juga telah membongkar “aib” PDIP dan Presiden Jokowi.

Sebab, pengungkapan Darwis mengenai Rusli Habibie yang menyebutkan, seharusnya Rusli tidak dilantik jadi gubernur karena ada kasus,– itu dapat diterjemahkan bahwa atas pertolongan PDIP dan Jokowi yang telah melakukan intervensi hukum, membuat Rusli Habibie pun tak masuk penjara.

Pengungkapan Darwis ini tidak bisa dianggap remeh. Sebab, jika pengungkapan ini tidak dapat dibuktikan kebenarannya di hadapan hukum, maka itu berarti Darwis telah melakukan hoax sekaligus upaya pembunuhan karakter terhadap Gubenur Rusli, Golkar, Presiden Jokowi dan PDIP.

Dan publik pun pasti menunggu jawaban dan kebenaran dari pengungkapan Darwis Moridu tersebut. Bahwa apakah benar Jokowi dan PDIP telah melakukan intervensi hukum yang melilit Rusli Habibie dulu?

Atau apakah benar Rusli Habibie meminta perlindungan dari Jokowi dan PDIP, sehingga saat ini Rusli Habibie tidak masuk penjara?

Jika benar, maka boleh ditebak Darwis pun mungkin akan “mengemis” ke Jokowi dan ke PDIP agar pula diberi “perlindungan” yang sama atas kasus dugaan pelanggaran Pemilu yang sedang melilitnya saat ini, dan tengah memasuki pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Tilamuta, pada Kamis (4/4/2019)?

(Baca berita terkait: Sidang ke-3 Kasus Tudingan “Jual Istri”, Keterangan Bawaslu dan Saksi Pelapor Beratkan Bupati Boalemo)

Juga andai Darwis berhasil lolos dan diputuskan tak bersalah oleh PN Tilamuta, maka apakah rakyat juga bisa berkata bahwa itu adalah hasil campur tangan dari Jokowi dan PDIP??? (red-dm1)

Komentar anda :
Bagikan dengan:
  • 12856
  • 14483
  • 13710