“Hantaman” Keras Untuk Orangtua, Anak ini Bercita-cita Ingin Jadi Handphone

DM1.CO.ID, BANGLADESH: Sebuah video yang dibuat oleh seorang intelektual pengamat sosial dari Bangladesh, Dr. Lony, melalui akun youtube miliknya (Lony’s Works), berjudul “I want to become a smart phone”, sungguh akan menghantam hati orang tua yang masih memiliki anak kecil.

Dalam video tersebut, Dr. Lony mengangkat situasi dan kondisi riil kebiasaan orangtua (entah sadar atau tidak) telah banyak “menyalahgunakan” kecanggihan yang disediakan oleh teknologi saat ini, yakni dengan lebih banyak menghabiskan waktu sepanjang hari berhadapan dengan handphone ataupun smart-phone daripada memberi perhatian kepada anak-anaknya.

Video berdurasi 4 menit 15 detik ini mengambil situasi di dalam sebuah kelas tingkat dasar. Nampak para siswa sedang menunggu gurunya. “Hallo, selamat pagi anak-anak,” sapa ibu guru memasuki pintu kelas.

“Selamat pagi ibu guru,” sahut para siswa menyambut kedatangan ibu gurunya.

Ibu guru pun kembali menyapa, “bagaimana kabar kalian semuanya?”

Serentak para siswa pun menjawab, “kami baik-baik saja, terima kasih.”

Meski ibu guru telah menyampaikan bahwa hari ini akan memberikan topik menarik, namun seorang siswi bernama Toppa sedikit pun tampak tidak tertarik dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Sejak tadi ia terlihat hanya sibuk mencoret-coret selembar kertas di atas meja.

Dan walau ibu guru kembali mencoba meyakinkan seluruh siswanya dengan topik menarik tersebut dengan mengatakan, “anggap kalian semua bisa menjadi apapun yang kalian inginkan,” namun murid perempuan itu tetap saja mencoret-coret kertas dengan tatapan kosong yang menunduk.

“Jadi kalian ingin menjadi apa?” tanya ibu guru.

Para siswa pun saling berbisik tanda sedang menyiapkan diri untuk menjawab pertanyaan gurunya itu.

“Saya ingin menjadi burung,” jawab seorang siswi.

“Sungguh? Tapi kenapa?” tanya balik ibu guru kepada siswi itu.

“Karena burung bisa terbang di langit,” ujar siswi itu.

“Baiklah, bagus,” ibu guru tersenyum.

Seorang murid laki-laki yang tanpa ditunjuk untuk menjawab, nampak langsung berdiri dan menyebutkan bahwa dirinya ingin menjadi kelinci putih.

Ibu guru tak menanyakan alasan mengapa siswa laki-laki itu ingin menjadi kelinci putih, sebab ibu guru namapknya sedari tadi juga penasaran dengan sikap Toppa, lalu buru-buru bertanya.

“Hei Toppa, sejak tadi kamu menulis sesuatu. Ceritakan pada saya, kamu ingin menjadi apa?” tanya ibu guru.

Toppa pun bergegas berdiri,  lalu menjawab,” saya ingin menjadi smart phone.”

Karena penasaran, ibu guru bertanya lagi, “Smart phone? Tapi kenapa?”

Dengan lugunya, Toppa pun menjelaskan alasan dirinya ingin menjadi smart phone. Dan ibu guru yang mendengar jawaban Toppa hanya bisa melongo dan merasa ikut terpukul. Begini jawabannya:

Orangtua saya sangat menyukai smart phone. Ke manapun ayah saya pergi, dia selalu membawa smart-phone bersamanya. Tapi dia tidak pernah membawa saya pergi bersamanya.

Ibu saya menerima telepon secepat mungkin ketika berdering. Tapi ibu saya tidak datang kepada saya bahkan ketika saya menangis.

Ayah saya bermain game dengan smart phone-nya. Tetapi dia tidak pernah bermain dengan saya.

Saya meminta ayah untuk memangku saya, tapi dia tidak melakukannya. Ayah saya selalu memegang smart phone.

Jika saya meminta ibu saya untuk bermain dengan saya, dia berteriak kepada saya dengan berkata: apa kamu tidak melihat saya sedang menelepon?

Ayah saya tidur dengan smart phone berada di sampingnya. Tapi ayah saya tidak pernah tidur memeluk saya.

Ibu saya tidak pernah lupa mengisi ulang baterai smart phone. Tapi terkadang ibu saya lupa memberi saya makan.

Cita-cita saya ingin menjadi smart phone, agar saya selalu berada di samping ibu dan ayah seperti smart phone itu

Demikian jawaban Toppa, yang sebetulnya menjadi peringatan keras buat orangtua agar dapat lebih bijak memperlakukan smart phone dibanding anaknya sendiri.

Untuk lebih jelasnya, tonton videonya di bawah ini:

 

(dlo-ams/DM1)

Komentar anda :

Muis Syam

4.012 views

Next Post

Ibu Ini Diseret ke Pengadilan oleh Anak Sendiri Karena Utang

Sen Mar 27 , 2017
DM1.CO.ID, BANDUNG: Hanya karena belum bisa membayar utang sebesar Rp.20 juta yang dipinjam dari anak kandungnya sendiri, seorang ibu bernama Siti Rokayah (83 tahun), diseret dan digugat oleh anak kandungnya dan menantunya ke Pengadilan Negeri Kabupaten Garut, Jawa Barat. Komentar anda :