Alat Berat Ditarik Pasca Pencoblosan, Perjuangan Petani di Desa ini Bagai Bola Pingpong

DM1.CO.ID, KOLAKA TIMUR: Menuai padi di tahun 2021 hampir dipastikan bakal sulit dilakukan oleh para petani di Desa Wia-wia, Kecamatan Poli-polia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim). Pasalnya, perbaikan saluran irigasi di desa setempat mengalami kendala.

Alat berat berupa eskavator milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Koltim yang dikerahkan melakukan perbaikan saluran irigasi tersebut, ternyata tidak sepenuhnya mampu membantu.

Diperkirakan pekerjaan baru selesai sekitar 60%, alat berat itu sudah ditarik secara diam-diam. Sehingga selain menimbulkan kekecewaan, warga setempat pun menduga jika alat berat itu diturunkan boleh jadi hanya sekadar “pembujuk”, agar para petani dapat memilih salah satu paslon dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 yang baru saja berlalu.

Berawal ketika kelompok tani di Desa Wia-wia ini mengajukan usulan kepada pemerintah daerah agar dilakukan perbaikan saluran irigasi yang menuju ke sawah mereka. Sebab saluran irigasi yang ada selama ini, sudah tidak dapat berfungsi dalam menunjang pengairan di sawah mereka lantaran jebol.

Di desa ini terdapat 8 kelompok tani sawah yang sangat bergantung pada pengairan irigasi tersebut. Yakni, mulai dari dusun I hingga dusun IV. Luas arealnya kurang lebih mencapai 70-an Hektar.

Menurut warga desa setempat, saluran irigasi itu jebol lantaran diterjang banjir beberapa tahun lalu. Dan sejak itu, para petani di desa ini hanya dapat melakukan perbaikan secara swadaya. Hingga pada akhirnya, Dinas PU pun mengerahkan alat berat untuk membantu perbaikannya jelang Pilkada Koltim 2020.

Nyoman Okadana salah seorang petani di desa ini mengungkapkan, alat berat itu bekerja memperbaiki saluran irigasi selama tiga hari. Yakni, terhitung tanggal 3-6 Desember. Namun pada tanggal 7 Desember 2020, alat berat itu pun berhenti beroperasi.

Dan saat itu warga berpikir, berhentinya alat berat itu beroperasi mungkin hanya sementara waktu, karena sedang memasuki minggu tenang Pilkada.

Namun anehnya, kata Okadana, sehari setelah pencoblosan, alat tersebut nyata sudah tidak beroperasi lagi. Bahkan, eskavator itu sudah tidak kelihatan di lokasi pengerjaan saluran irigasi persawahan tersebut.

“Ada kelompok tani yang ada di Desa Wia-wia mencoba mempertanyakan kepada Pak Desa (kepala desa). Tapi dia (Pak Desa) bilang, (eskavator itu) sudah tidak ada karena Tony (Paslon petahana) kalah dalah pemilihan di Desa Wia-wia,” kata Nyoman Okadana, Rabu (17/12/2020) melalui sambungan telepon.

Tak puas dengan jawaban dari kepala desa, Okadana bersama rekannya sesama kelompok tani pun mencoba mempertanyakan kepada Dewa selaku Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) melalui telepon.

Dari pembicaraan itu, kata Okadana, Dewa berjanji untuk ketemu di kantor Dinas PU, sekaligus membicarakan langsung dengan Bio Mansir selaku Kadis PU Koltim, pada Senin (14/12/2020).

Tiba waktu yang dijanjikan, Okadana bersama rekannya pun tiba di Kantor Dinas PU. Namun di sana, tidak menemukan Dewa. “di kantor PU saya telpon pak Dewa, tapi HP-nya tidak aktif. Saya tanya staf PU, katanya pak Kadis PU sedang rapat di BPKD bersama Kadis lainnya,” ujar Okadana.

Okadana bersama rekannya pun menyusul ke kantor BPKD, lalu menanyakan keberadaan Kadis PU kepada salah satu staf di BPKD. “Dia (staf itu) bilang, bahwa ada Kadis PU di dalam sementara mengikuti rapat. Selanjutnya kami menunggu kurang lebih satu jam, dan tiba-tiba ketemu Camat Poli-polia (Tellong Ramli),” tutur Okadana.

Anehnya, lanjut Okadana, Camat Poli-polia saat ditanya tentang keberadaan Kadis PU dalam rapat tersebut menjawab bahwa Bio Mansur tidak ikut rapat.

Tak putus semangat, Okadana bersama rekannya itu pun mencoba menghubungi kembali Dewa melalui handphone, namun dalam keadaan tidak aktif. Mereka lalu sepakat mendatangi langsung ruangan Dewa.

Dan ternyata, menurut Okadana, Dewa saat itu berada di ruangannya, tidak kemana-mana. Nomor teleponnya juga diduga sengaja dimatikan agar tidak diganggu oleh siapa-siapa, termasuk diduga untuk menghindari Okadana dan rekan-rekannya.

Meski begitu, kata Okadana, Dewa tetap mencoba memberi pelayanan dengan menghubungi Kadis PU melalui handphone, sayangnya kali itu nomor Bio Mansur juga dalam keadaan tidak aktif. Dewa lalu berinisiatif menghadap Sekda. Namun tak lama, Okadana malah mendapat telepon dari Sekda. “Dia (Sekda) katakan, bahwa pekerjaan (irigasi) di Desa Wia-wia adalah sisa anggaran tahun 2020,” ujar Okadana.

Ketika itu, sambung Okadana, Sekda juga meminta waktu dua hari ke depan untuk memerintahkan Bio Mansur agar dapat membawa kembali alat berat itu ke Desa Wia-wia.

“Besoknya, saya berbicara lagi dengan Sekda. Katanya, dia (Sekda) ada di Jakarta dan belum berbicara dengan Kadis PU karena banyak nomornya. Dia arahkan kami datangi langsung saja rumahnya (rumah Kadis PU),” ucap Okadana.

Rabu malam (15/12/2020), Okadana bersama sejumlah rekannya pun mendatangi kediaman Bio Mansur. Tapi sayangnya, dari keterangan sang istri menyebutkan, bahwa Kadis PU tidak berada di rumah. Sialnya, istri Bio Mansur itu beralasan bahwa handphone milik suaminya sedang rusak sehingga sulit dihubungi.

Okadana pun mengaku lantas menghubungi kembali Sekda via telepon. Dan mereka pun sepakat bertemu pada Jumat ini (18/12/2020), atau setelah Sekda kembali dari Jakarta.

Upaya yang dilakukan bagai bola pingpong ini, membuat Okadana bersama rekan-rekannya pun merasa kesal dengan Kadis PU, yang seakan-akan tidak peduli dengan kondisi petani. Ditambah lagi, janji untuk bertemu tak kunjung terjadi. Parahnya, pihak-pihak terkait di lingkungan Pemda Koltim, seperti Kadis PU terkesan sengaja menghindar dengan berbagai alasan yang mengada-ngada.

“Saya minta pak Sekda agar membantu kami karena kasihan petani di desa kami terancam tidak tanam padi pada Januari 2021 nanti,” pinta Okadana yang diaminkan oleh sejumlah rekannya. (rul/dm1)

Komentar anda :

Muis Syam

4 views

Next Post

Diduga Ada Rekayasa Data Pembayaran Santunan Sosial, FAM Ladongi "Serbu" DPRD

Jum Des 18 , 2020
DM1.CO.ID, KOLAKA TIMUR: Pembayaran dana santun dampak sosial proyek bendungan Ladongi, Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) kepada 51 penggarap, diduga syarat dengan rekayasa atau manipulasi data terhadap tanaman penggarap. Komentar anda :