DM1.CO.ID, EDITORIAL: Umar Karim, yang biasa disapa dengan sebutan UK, adalah salah seorang Anggota Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo periode 2024-2029. Ia sejak dulu memang dikenal sangat vokal serta memiliki daya kritis yang cukup tajam. Dan kali ini, UK melempar sebuah kritikan terkait rencana anggaran pakaian dinas kepala daerah yang diusulkan oleh Biro Umum Setda Provinsi Gorontalo, sebesar Rp393 juta, dinilai sangat besar dan tidak pro rakyat.
Dalam rapat pembahasan KUA-PPAS (Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara) APBD 2027 bersama Komisi I DPRD dengan Biro Umum Setda Provinsi Gorontalo, di ruang rapat paripurna DPRD, Senin (27 Juli 2026), UK mengaku sulit membayangkan seberapa besar lemari pakaian gubernur dan wakil gubernur untuk menampung pakaian-pakaian dinas seharga Rp393 juta tersebut.
Tak puas bersuara di dalam rapat, UK lalu melempar kritikannya itu ke ruang media sosial dengan menulis status melalui akun Facebooknya. Di sana, kritikannya langsung “dilahap” oleh netizen hingga menjadi polemik. Ada yang pro, dan juga pasti ada yang kontra.
UK tentu tak salah jika menyuarakan kritikanya. Sebab, ia hanya mencoba memperlihatkan bahwa dirinya sedang melaksanakan fungsinya sebagai anggota DPRD, yakni tidak mau diam ketika ada hal-hal yang aneh terkait kebijakan kepala daerah. Sayangnya, kritikan UK ini hanya akan menjadi “liar” ketika ditelan mentah-mentah oleh publik, terutama lawan politik kepala daerah.
Lalu benarkah Gubernur Gorontalo, Dr. Ir. H. Gusnar Ismail, MM, dapat serta merta dinilai sebagai sosok yang tidak pro rakyat terkait anggaran pakaian dinas tersebut?
Wartawan DM1 pada sebuah momen kebetulan, bertemu dengan Erwinsyah Ismail (anak sulung Gusnar Ismail) di salah satu kedai kopi tua di sudut Kota Gorontalo, Selasa sore (4 Agustus 2026). Hingga terjadi perbincangan lepas dan santai.
Di sana, Erwin (begitu sapaan akrab Erwinsyah Ismail) sedang asyik berdiskusi seputar dunia bisnis dengan sejumlah rekannya. Hanya sesekali menyinggung seputar politik.
Erwin bahkan mengaku tertarik untuk suatu saat bisa lebih konsentrasi menggeluti dunia bisnis daripada harus gontok-gontokan di belantara politik.
Namun Erwin juga tidak membantah, bahwa saat ini dirinya masih fokus melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai anggota DPRD Provinsi Gorontalo, terutama dalam membangun dan memajukan tingkat kesejahteraan seluruh warga di provinsi yang saat ini dipimpin oleh ayahnya.
Sehingga pada bincang-bincang tersebut, Erwin sempat menanggapi soal anggaran pakaian dinas kepala daerah yang terlanjur heboh di tengah-tengah publik saat ini.
Erwin menyebutkan, anggaran pakaian dinas kepala daerah yang diusulkan oleh Biro Umum Setda Provinsi Gorontalo sebesar Rp393 Juta itu, adalah untuk tiga orang. “Yaitu untuk gubernur, wakil gubernur, dan untuk sekretaris daerah,” ujar Erwin.
Dan usulan anggaran itu jika memang mendapat persetujuan, kata Erwin, maka statusnya sebagai Pagu. “Artinya, bisa dibelanjakan habis, dan juga bisa saja tidak habis dibelanjakan guna memenuhi peruntukkannya,” jelas Erwin.
Pada kesempatan itu, Erwin menyatakan kemungkinannya anggaran tersebut juga tidak akan habis dibelanjakan untuk pengadaan pakaian dinas yang dimaksud.
Erwin pun menggambarkan alasannya. Bahwa Gubernur Gusnar Ismail sesungguhnya sejak dulu adalah sosok yang sederhana, dan tak ingin tampil berlebih-lebihan layaknya kaum borjuis, apalagi jika ingin berpenampilan seperti Hotman Paris.
Erwin membeberkan beberapa pengalamannya. Bahwa beberapa kali dirinya pernah membelikan baju kepada ayahnya dengan harga bervariasi. Erwin mengingat pernah membeli baju harga Rp3 jutaan hingga belasan juta untuk ayahnya, namun semuanya ditolak. Terakhir sebuah kemeja batik seharga hampir Rp10 juta sempat dibeli Erwin untuk ayahnya agar dapat dipakai usai pelantikan sebagai Gubernur Gorontalo.
“Baju batik itu saya serahkan, dan sempat beliau coba. Beliau sangat senang dengan kain dan motifnya. Tetapi ketika beliau menanyakan harganya, dan saya jawab hampir sepuluh juta, beliau langsung menanggalkan baju itu. Dan ketika itu lebih memilih memakai baju sederhana seharga Rp300-an ribu.
Karena sering membelikan baju mahal kepada ayahnya, membuat Erwin sempat kena marah. Sang ayah sempat tak mau diajak bicara selama tiga hari.
Namun setelah itu, kata Erwin, ayahnya memberi nasihat dan pesan. “Kalau mau sederhana, maka sederhanalah menurut banyak orang. Bukan sederhana menurut mau kamu,” tutur Erwin meniru nasihat ayahnya.
Olehnya itu, Erwin pun mengaku tidak ingin terlalu menanggapi dengan tegang soal anggaran pakaian dinas kepala daerah yang dinilai tidak pro rakyat itu. “Santai saja, Bapak selalu mengajarkan kesederhanaan menurut banyak orang, bukan sederhana menurut kacamata pribadi saya,” pungkas Erwin tersenyum.