BREAKING NEWS
| Terkait Dugaan Korupsi GORR, Kejati Gorontalo Dalami Keterlibatan Gubernur Rusli? | Geger, Sejumlah WNI Tionghoa Sekap dan Aniaya Anggota TNI-AU di Medan | Mengaku Tobat, Sejumlah Kelompok Relawan Jokowi Bertekad Menangkan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 | Bendera “Agustusan” Dicopot Pengelola Apartemen Kalibata City, Warga Protes | Rakernas GSI, Ratna Sarumpaet: Kita Harus Jadi Provokator Terbaik untuk Perubahan

Aku Bangga Menjadi Seorang Santri (Refleksi 90 Tahun IKNI Alhuda Grtlo)

Bagikan dengan:

Oleh: Nurhadi Taha

Allahu Akbar … Allahu Akbar…. Allahu Akbar Begiulah LantunanSuara  Adzan Senantiasa menghiasi kehidupan Kami saat itu, Aktivitas Ibadah Terus menghiasi Kami, Mulai dari Sholat Lima Waktu Hingga Muhadasah serta  para penghifdzul Quran, Kami selalu  saja di uji alam berpikirnya, satu demi satu ayat ayat tuhan di minta untuk di ulang Ulang sesuai dengan Makhraz serta Kaidah Kaidahnya ,  kedisiplinan dalam agama  di Pupuk di pondok ini, Setiap harinya para anak – Anak mendapatkan ilmu soal Aqidah, Tentang Dakwah serta Jalan Fisabillah  juga soal Hakekat dan Tarekat kehidupan.

Tak ada perbedaan Golongan, Kalangan anak kongolomerat hingga anak kelompok Rakyat Jelata semua di mata para pendidik para Ustaz dan Ustaza semuanYa Sama ,  tak ada keistimewaan Bahkan Layanan yang berbeda  mulai dari cara makannya hingga tempat tidurnya ,  di sini kami di didik untuk saling merasakan kepekaan sebagai sesama manusia, sesama sahabat, Dunia & Akhirat

Bila di hitung dengan usia Kelahirannya Tahun 1929 maka sudah 90 Tahun Pondok Pesantren Alhuda  telah menorehkan berbagai Alumnus, yang bertebaran di Nusantara.

Menelisik Pengalaman Sebagai Seorang Santri ada banyak Cerita yang tak boleh hilang dalam memory kami, kami Harus bangun pagi, harus berlatih  menjadi seorang mubaligh Hingga menjadi Manusia paripurna di mata Manusia dan Di Hadapan Allah Swt.

Pidato, Muhadasah, Hifdzul Quran adalah hal yang wajib harus di lakukan di pondok, berbeda lagi bila berada di Madrasah kami harus berkutat dengan berbagai Mata Pelajaran Umum IPA , IPS Matematika dsb Hingga pelajaran Dasar Islam Aqidah Ahlak,  Qawait hingga Mahfudzat yang ke semuanya melatih daya  otak kami  harus extra  belajar kalau tidak maka dipastikan Nilai pastinya tak Memuaskan.

Pada Zamannya saat  kami masih menjadi sosok Santri di tahun 2000an , presepsi Publik soal santri “Kelompok Hedonisme” memplesetkan Bahwa Kaum Santri hanya di ajarkan bagaimana membaca Tahlilan berdoa bagi mereka yang telah wafat, selain itu santri hanya bisa baca yasinan dst, sehingga hal ini banyak membuat banyak kelompok Santri maupun Santriwati yang berada di Pondok Maupun Madrasah di Bully  hingga merasa minder.

Namun Semua itu terjawab dengan beberapa kali prestasi yang telah di raih oleh kelompok Santri pada ivent maupun momentum tertentu di dunia pendidikan misalnya lomba Cerdas Cermat hingga kemudian agenda olahraga dan Seni lainnya apalagi kalau lomba pidato pasti Anak Santri yang menjuarai di setiap momentnya.

Pada sejarahnya Tahun 1929 Pondok Pesatren Al Huda hanya membuka Sekolah Madrasah Di Niyah (Sekolah Tingkat SD ) yang di didirikan oleh KH Abdullah Djibran namun berlahan pondok ini telah menjadi epicentrum Dakwah Para Mubaligh yang ada di Wilayah Kota Gorontalo maka pesat kemajuannya hingga kemudian Pondok Pesatren Ini dapat membuka Sekolah Madrasah Tsanawiyah setingkat SMP , Hingga Madrasah Aliyah  setingkat SMU.

Semua rintisan dalam Pondok sesuai dengan cerita pendahulu semuanya serba insiatif, Sukarela dan idealisme terhadap Ajaran Agama sehingga tidak heran pondok setiap tahunnya meningkat hingga kemudian di Tahun 2018 di usianya ke 90 masih berdiri kokoh dan telah banyak menorehkan berbagai Alumnus…

Kita berdoa semoga Saja Reuni Alumnus Ponpes Al Huda dapat menjadi tonggak Sejarah sebagai Sebuah era baru  Kebangkitan Para santri / Santriwati Di Senatero Nusantara.

Juga mari kita berdoa buat para pendahulu,  para Guru Ustaz dan Ustazah yang telah menorehkan pengabdiannya terus mendapat  kekuataan kesehatan hingga keberkatan dunia & Akhirat mari kita doakan semoga Semua apa yang telah mereka patrikan menjadi Amal Jariyah saat ini hinnga mereka Wafat Alfatiha Amin.. Yra…

Wahai para ustaz Dan Ustazah Sesungguhnya Kami Tidak marah bila saat itu kami di beri ganjaran hukuman disiplin saat kami di pondok maupun di madrasah sesungguhnya Kami Bangga menjadi Anak Santri & Santriwati… Semoga Engkau Telah Memaafkan berbagai Kesalahan Kami sengaja maupun tidak di sengajai.

Alhamdulilah dengan semua itu hari ini kami  bisa mengaji, Juga pidato,  juga bisa mengetahui berbagai ilmu walau itu hanya sebagian dari ilmu yang kau ajarkan minimal saat kami menjadi manusia yang bisa melaksanakan perintah dasar  dari sang Khalid semoga Dharma Bakti hingga karya akan tertulis di Lauful Mahfuz Amin Yra….

(Penulis adalah: Ketua Masika ICMI orda Kota Gorontalo)

——-

Artikel ini adalah tulisan langsung dan murni dari penulis, sehingga kami tidak berhak untuk menambah atau mengurangi, huruf maupun tanda baca satupun. Olehnya itu,  artikel ini menjadi tanggungjawab sepenuhnya penulis.
Komentar anda :
Bagikan dengan:
Scroll Up